
Penulis : Intan Alisya Az-Zahra dkk - Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Padang
Di sebuah kelas satu sekolah dasar, seorang anak diminta membaca kalimat pendek di papan tulis. Ia diam. Matanya menelusuri huruf-huruf itu seperti melihat peta negeri asing.
Di tangan kanannya, bekas sidik jari layar sentuh masih tercetak. Anak ini bisa menggeser aplikasi game dengan lincah, namun tak mampu menyebut bunyi huruf “b”.
Gambaran ini bukan fiksi. Ini adalah kenyataan yang ditemukan di ruang-ruang kelas rendah sekolah dasar kita hari ini.
Kemampuan membaca permulaan — yang semestinya dikuasai sejak kelas satu dan dua — masih menjadi batu sandungan bagi sebagian besar siswa.
Mereka datang ke sekolah, duduk di bangku, namun pulang tanpa membawa kemampuan paling dasar yang dibutuhkan untuk belajar.
Masalah ini bukan baru. Laporan demi laporan mengkonfirmasi bahwa literasi membaca siswa Indonesia tertinggal di berbagai penilaian internasional.
Namun anehnya, kepanikan itu selalu mereda setelah sepekan headline surat kabar, lalu kita kembali menjalani rutinitas kelas yang sama: guru berceramah, siswa mendengar, buku ditutup, lonceng berbunyi.
Ada tiga aktor yang kerap luput dari koreksi. Pertama, metode mengajar. Banyak guru masih mengandalkan cara-cara konvensional — menyuruh siswa membaca bergiliran dengan nada monoton, tanpa kartu huruf, tanpa gambar, tanpa permainan.
Padahal anak usia enam hingga delapan tahun belajar dengan seluruh tubuhnya: melalui warna, suara, sentuhan, dan cerita. Metode yang tidak menyentuh minat anak hanya akan menghasilkan siswa yang duduk diam namun pikirannya sedang berlayar ke tempat lain.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




