Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Anak Tahu Gadget, Tapi tak Kenal Huruf

A
Penulis: Adriyanto Syafril❯
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Advertisement

Penulis : Intan Alisya Az-Zahra dkk - Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Padang

Di sebuah kelas satu sekolah dasar, seorang anak diminta membaca kalimat pendek di papan tulis. Ia diam. Matanya menelusuri huruf-huruf itu seperti melihat peta negeri asing.

Di tangan kanannya, bekas sidik jari layar sentuh masih tercetak. Anak ini bisa menggeser aplikasi game dengan lincah, namun tak mampu menyebut bunyi huruf “b”.

Advertisement

Gambaran ini bukan fiksi. Ini adalah kenyataan yang ditemukan di ruang-ruang kelas rendah se­kolah dasar kita hari ini.

Kemampuan membaca permulaan — yang semestinya dikuasai sejak kelas satu dan dua — masih menjadi batu sandungan bagi sebagian besar siswa.

Mereka datang ke sekolah, duduk di bangku, namun pulang tanpa membawa kemampuan paling dasar yang dibutuhkan untuk belajar.

Advertisement

Masalah ini bukan baru. Laporan demi laporan mengkonfirmasi bahwa literasi membaca siswa Indonesia tertinggal di berbagai penilaian internasional.

Namun anehnya, kepanikan itu selalu mereda setelah sepekan headline surat kabar, lalu kita kembali menjalani rutinitas kelas yang sama: guru berceramah, siswa mendengar, buku ditutup, lonceng berbunyi.

Ada tiga aktor yang kerap luput dari koreksi. Pertama, metode mengajar. Banyak guru masih mengandalkan cara-cara konvensional — menyuruh siswa membaca bergiliran dengan nada monoton, tanpa kartu huruf, tanpa gambar, tanpa permainan.

Padahal anak usia enam hingga delapan tahun belajar dengan seluruh tubuhnya: melalui warna, suara, sentuhan, dan cerita. Metode yang tidak menyentuh minat anak hanya akan menghasilkan sis­wa yang duduk diam namun pikirannya sedang berlayar ke tempat lain.

Advertisement
Editor : Adriyanto Syafril
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Zakat dan Pajak: Harmoni Kewajiban

Zakat dan Pajak: Harmoni Kewajiban

Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII 24-26 Juli  tahun 2026 menghasilkan  11 poin kesimpulan.

Bibit Sepakbola Sumbar Mati di Kandang Sendiri

Bibit Sepakbola Sumbar Mati di Kandang Sendiri

Sepakbola Sumatera Barat punya darah. Lihat saja SSB di 19 kabupaten/kota, tiap sore lapangan penuh anak-anak pakai jersey.

KUII: Menafsir Kemilau Peradaban

KUII: Menafsir Kemilau Peradaban

KONGRES Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang berlangsung pada 24–26 Juli 2026 di Jakarta menjadi momentum penting bagi konsolidasi umat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer