Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gaza: Dari Ideologi ke Teknokrasi

S
Penulis: Shofwan Karim❯
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Advertisement

Penulis : Shofwan Karim - Pengamat, Penulis Esai, dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar

Perdamaian di Timur Tengah selalu berjalan dengan langkah me­rangkak, seakan kaki sejarah tersandung oleh batu dendam yang tak kunjung lapuk. Sejak perang pecah pada 28 Februari 2026, diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran mencoba menyalakan lilin di tengah badai. Namun lilin itu sering padam oleh tiupan tragedi. Awal Juli, prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, membuat perundingan jeda. Sejarah seakan menunggu, me­nahan napas, sebelum babak baru dimulai.

Di Gaza, denyut lain bergetar. Hamas, setelah 18 tahun berkuasa sejak kudeta 2007, akhirnya menyerahkan otoritas sipil kepada Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG). Langkah ini bukan sekadar teknis birokrasi, melainkan simbol pergeseran, dari pemerintahan ideologis menuju tata kelola teknokrat. Seperti sungai yang dialihkan alirannya, Gaza kini dititipkan kepada para profesional yang diharapkan mampu mengelola luka perang dengan rasionalitas dan keahlian.

Advertisement

Gaza: Dari Ideologi ke Teknokrasi

Pada 6 Juli 2026, Hamas resmi membubarkan Komite Darurat dan menyerahkan pemerintahan sipil kepada NCAG. Ismail Al Thawabta me­ngonfirmasi pengunduran diri Mohammed Al Farra, menutup babak panjang Hamas sebagai penguasa de facto Gaza. NCAG, beranggotakan 15 teknokrat, dipimpin oleh Ali Shaath, mantan wakil menteri Otoritas Palestina. Mereka bukan pejuang bersenjata, melainkan ekonom, dokter, pengacara, dan profesional sipil.

Nama-nama seperti Bashir Ray­yes (pakar ekonomi lulusan Imperial College London), Dr. Aed Mahmoud Yaghi (dokter urologi yang memimpin pemulihan fasilitas kesehatan), Hanaa Hanna Nicola Tarazi (pengacara perempuan yang mengurus perlindungan sosial), dan Omar Shamali (ahli telekomunikasi) me­nunjukkan wajah baru Gaza. Wajah teknokrat yang berusaha menata reruntuhan dengan ilmu dan pengalaman, bukan dengan senjata.

Advertisement

Namun transisi ini tidak mulus. Israel hingga kini memblokir akses masuk anggota NCAG dari Kairo ke Gaza. Perlintasan Rafah, satu-satunya gerbang Gaza ke dunia luar selain Israel, masih menjadi titik tawar. Hamas me­nuntut Rafah dibuka penuh, agar Ga­za tidak lagi menjadi penjara terbuka.

Perdamaian yang Merangkak

Langkah Hamas menyerahkan Gaza kepada NCAG adalah paradoks.  Di satu sisi, ia membuka peluang rekonsiliasi dan pemulihan. Di sisi lain, ia menyingkap ketidakpastian baru. Apakah Israel akan menerima pemerintahan teknokrat ini? Apakah NCAG mampu menata Gaza tanpa terseret kembali ke pusaran konflik?

Sejarah Hamas sejak 1987 adalah sejarah perlawanan. Dari pendirian oleh Sheikh Ahmed Yassin, kemena­ngan pemilu 2006, hingga kudeta 2007, Hamas selalu menjadi simbol resistensi. Kini, dengan menyerahkan otoritas sipil. Hamas seakan mengakui bah­wa perlawanan bersenjata tidak cu­kup untuk membangun kehidupan. Gaza membutuhkan administrasi, rumah sakit, sekolah, listrik, dan per­dagangan.

Namun, perdamaian bukan sekadar administrasi. Ia adalah jiwa yang harus dipulihkan. Luka perang tidak sembuh hanya dengan protokol birok­rasi. Perdamaian membutuhkan kea­dilan, pengakuan, dan kebebasan. Tanpa itu, Gaza akan tetap menjadi luka terbuka di tubuh Palestina.

 

Advertisement
Editor : Adriyanto Syafril
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Zakat dan Pajak: Harmoni Kewajiban

Zakat dan Pajak: Harmoni Kewajiban

Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII 24-26 Juli  tahun 2026 menghasilkan  11 poin kesimpulan.

Bibit Sepakbola Sumbar Mati di Kandang Sendiri

Bibit Sepakbola Sumbar Mati di Kandang Sendiri

Sepakbola Sumatera Barat punya darah. Lihat saja SSB di 19 kabupaten/kota, tiap sore lapangan penuh anak-anak pakai jersey.

KUII: Menafsir Kemilau Peradaban

KUII: Menafsir Kemilau Peradaban

KONGRES Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang berlangsung pada 24–26 Juli 2026 di Jakarta menjadi momentum penting bagi konsolidasi umat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer