Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Misteri Gunung Pangilun

Novitri Selvia • Minggu, 7 November 2021 - 13:27 WIB
Andrea Dian. (JPG)
Andrea Dian. (JPG)
Langit malam Padang tanpa bintang. Awan perak menggantung di langit sabak. Rinai baru saja reda. Energi malam Kamis (4/11) bagai bercerita. Ia seakan menyingkap tirai yang berkabar berita.

Hari itu, tim liputan malam Padang Ekspres sedang menapaki suatu tempat kawasan Gunung Pangilun. Kami sepakat hendak berkisah tentang segala legenda yang membuncit di perut Gunung Pangilun yang selama ini menjadi cerita dari mulut ke mulut dan dari anak ke cucu.

Legenda Gunung Pangilun itu hingga kini tak mati-mati! Sumber berita yang hendak kami temui ini sepakat mengisahkan riwayat Gunung Pangilun. “Ambo mau bercerita, asalkan…mohon,” ia diam.

Ia memandang langit-langit rumah buruknya. Ia bakar rokoknya. Ia hirup dalam-dalam. Seakan susah ia melanjutkan. Seperti ada yang menekan rongga dadanya. “Mohon. Tolong jangan pernah mengungkapkan nama ambo”, katanya.

“Tapi, tidak sekarang !”

“Kapan?” salah seorang dari tim kami mendesak.

Ia belum menjawab. Namun ia pejamkan matanya. Dalam. Seperti memejam dalam tekanan.

“Kamis malam !”

Ya. Sudah. Perjanjian Kamis malam di saat inilah kami menemuinya.

Ia memang sudah tua. Tapi tidak rokoh.

“Disiko wak mahota ha,” katanya.

“Gunung Pangilun itu!” ia menunjuk ke arah Gunung Pangilun yang tampak dari kejauhan rumahnya.

“Ini Gunung aneh. Aneh. Tingginya setinggi bukit, namanya setinggi gunung,” ujarnya.

Lalu ia diam. Ujung jempol kakinya ia tekankan ke bumi. Sekali lurus memandang ke kiri. Sekali lurus memandang ke kanan. Sekali lurus, lehernya mengadik ke langit. Jelas. Lafasnya mengucap: “Assalamualaikum….!”.

Kami tak perlu bertanya, entah kepada siapa salami ia ucapkan. Tapi yang jelas, kami saling melirik satu sama lain. Suasana mulai “tak baik”. Mendadak, hawa seperti mendingin. Namun, bukan dingin dari angin.Soalnya, tak ada angin berkisa.

Mendadak, kami mendengar lolongan anjing. Lolongannya seperti ngiang. Kerasnya seperti jauh. Jauhnya seperti dekat. Lalu lolongannya seperti ngiang, tapi ngiangnya tak seperti ilau. Yang jelas kami mendengar ada lolongan panjang.

Wuish!

Sekali lagi kami saling pandang.

Itu lolongan anjing Gunung Pangilun. Kata sumber kami ini, sebenarnya yang melolong tersebut bukan anjing sungguhan, namun anjing siluman. Anjing siluman?

Sumber kami itu mengangguk.

Siluman?

Lalu gaek ini bercerita. Inilah saatnya, saat di mana kami menyimak tanpa menyela. Berkisahlah sumber kami yang sudah agak-agak tua ini. Katanya, si Pangilun adalah seorang pandeka sati yang turun dari darek dan lama mengembara di lereng Gunung Marapi.

Kemudian, ia bertapa puluhan tahun di telaga dewi. Konon, hikayat menyebutkan, telaga Dewi Gunung Singgalang dihuni seorang bidadari yang tercampak.Bidadari sepi sendiri.

Kabarnya juga, Sang Dewi dan pandeka merajut cinta.Pandeka Sati si Pangilun lelaki gagah rupa. Tiap bercinta dengan sang Dewi, tiap itu pula energi kesaktiannya bertambah.

Makin rutin ia bercinta, makin awet wajahnya. Awet muda. Wajahnya tak tersapu oleh putaran waktu. Ia lelaki yang tak akan pernah dimakan tua.

Kami mendengar sumber bercerita. Semakin kami menolak secara logika, semakin ada rasanya sesuatu yang lain di ruang dada. Pada masa-masa digital.

Pada masa masa tiktok membentuk budaya baru. Pada masa-masa “dunia” di ujung telunjuk, apakah riwayat seperti ini masih bisa dipercaya?

Ketika itu terbersit di ruang dada kami, atap seng rumah sumber ini seakan dilempar dengan pasir.

“Tanda ada inyik di sini”, kata sumber kami yang mengistilahkan harimau jadi-jadian dengan sebutan inyik.

Cerita ia lanjutkan.

Lelaki pandeka sati itulah yang meneruka gunung itu. Semula Gunung yang tingginya sebukit itu, namanya Gunung Ledang Patah Sambilan. Lelaki pandeka gagah menetapkan Gunung itu sebagai kawasan kekuasaannya.

Entah zaman apa. Entah di abad berapa. Entah di waktu kapan, gunung itu kondang dengan sebutan Gunung Pangilun.

Bunyi kabar. Tidak mudah bagi pandeka sati menaklukkan kawasan gunung ini. Begitu mula pertama ia menginjakkan kaki, ia sudah dihadang seekor naga. Sebagian masyarakat menyebutnya ular besar bersisik emas.

Mereka bertarung tujuh hari tujuh malam. Hari ke tujuh sebelum matahari terbit, naga roboh dan menyatakan takluk pada pandeka. Ia menjadi anak buah pandeka. Menjadi budak gaib pandeka.

Pada malam ke delapan, pandeka berhadapan dengan seekor anjing siluman. Badannya berbentuk anjing, kepalanya berbentuk srigala. Pandeka menaklukkan anjing ini dalam hitungan tiga hari dua malam. Begitu kalah bertarung, senasib dengan naga bersisik emas, anjing siluman juga menghambakan diri pada Pangilun.

Tujuh depa melangkah setelah merobohkan anjing siluman, dari perut Gunung arah timur muncul kuda emas bersayap warna perak. Tapi mereka tidak saling adu kekuatan. Kuda emas bahkan seperti menyambut Pangilun dalam zona persahabatan.

Masyarakat sekitar Gunung Pangilun dalam waktu berketika—dalam waktu waktu tertentu—terutama ketika bulan purnama tiba, ada kalanya mendengar lolongan panjang anjing siluman. Anjing ini turun untuk mengawini anjing kampung.

Ini yang menjadi jawaban mengapa anjing dari Gunung Pangilun menjadi anjing yang paling dicari para pemburu. Anjing dari Gunung Pangilun terkenal di rimba perburuan kita.
Anjing Gunung Pangilun mempunyai ciri-ciri tertentu di dada dan di ekor. Kalau berburu ia paling tageh mencakau babi.

Tageh di rimba perburuan kita ia. Ya, karena ia “berayah” pada anjing siluman.
Sumber kami bercerita. Ia memaparkan dua versi. Gunung Pangilun disebut-sebut menyimpan emas dan harta berbentuk permata, seperti intan berlian yang tak terkira nilainya.

Versi pertama, baik emas maupun intan itu wujudnya gaib. Harta gaib. Versi kedua, emas dan intan itu adalah harta timbunan penjajah Belanda. “Tapi itulah. Emas kalau sudah bertemu dengan tanah, ia lenyap. Ia menjadi milik jin. Semula emas itu nyata.

Kini, ia sudah menjadi barang gaib. Emas itu dipelihara dan dijaga naga serta anjing siluman. Sementara, Kuda Emas bersayap tugasnya adalah penolak bala.

Maksudnya, kalau Kuda Emas keluar dari “sarang gaibnya” itu sebuah tanda akan ada bencana menimpa suatu daerah di tempat mana Kuda Emas akan terbang dan melayang di kawasan itu.

Sumber kami bahkan menyebutkan, bahwa Gunung Padang yang sebenarnya adalah Gunung Pangilun yang sekarang ini. Katanya, Gunung Pangilun itu adalah pulau di tengah daratan.

“Gunung Pangilun jangan diganggu! Ia kiramaik …” sumber itu berkata pelan dan memberi tekanan suara setengah berbisik di ujung kata “kiramaik!”

“Banyak masyarakat yang tinggal di kawasan Gunung Pangilun yang terkecoh, bahwa di sebuah tempat di atas Gunung Pangilun yang dikenal dengan nama “Tampaik” adalah sebagai tempat orang memutus kaji. Tempat orang bertapa.

Ia mengisahkan dalam intuitif dan spiritual pandangan bathinnya bahwa di atas Gunung Pangilun itu ada kerajaan besar orang bunian. Dikabarkan, Gunung Pangilun adalah tempat bertemunya para penguasa jin di seluruh pelosok negeri Minangkabau.

Lalu kami bertanya soal lubang jepang di pinggang bukit Gunung Pangilun.
Ia tertawa. Tawanya sumbang. “Ada beberapa lubang yang digali tentara Jepang tapi tidak dibeton dengan semen. Dibiarkan begitu saja seperti goa tanah…..” (Redaksi) Editor : Novitri Selvia
#Gunung Pangilun #misteri