Sejak ED ditetapkan sebagai tersangka dan menjalani proses hukum, seluruh beban ekonomi keluarga kini ditanggung oleh sang istri, Marlina.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Marlina bekerja meraut batang kelapa kering menjadi lidi yang kemudian dijual kepada pengepul. Upah yang diterima sangat terbatas. “Kalau tidak diraut, anak-anak makan apa,” ujar Marlina, Jumat (13/2).
Ia menjelaskan, satu ikat lidi hanya dihargai beberapa ribu rupiah. Dalam sehari, ia hanya mampu menghasilkan beberapa ikat. Penghasilan tersebut kerap kali hanya cukup untuk kebutuhan makan hari itu saja. “Kadang cuma cukup buat makan hari itu saja,” katanya.
Keterbatasan ekonomi membuat Marlina harus mengatur pengeluaran secara ketat, terutama untuk kebutuhan sekolah anak-anaknya.
Trauma Psikologis Anak jadi Perhatian
Selain persoalan ekonomi, kondisi psikologis anak yang menjadi korban pencabulan turut menjadi perhatian serius. Marlina mengungkapkan anaknya masih menunjukkan tanda-tanda trauma.
“Kadang tiba-tiba menangis. Itu yang paling bikin hati saya hancur. Dia yang jadi korban, tapi harus menanggung semuanya,” ucapnya.
Menurutnya, situasi tersebut memperberat beban batin keluarga. Ia juga mengaku kesulitan tidur sejak peristiwa itu terjadi, dibayangi kekhawatiran terhadap masa depan anak-anaknya serta kondisi suaminya yang sedang menjalani proses hukum. “Kadang saya marah sama keadaan. Tapi mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, keluarga juga menghadapi tekanan sosial dari lingkungan sekitar. Marlina memilih lebih banyak berada di rumah untuk menghindari komentar masyarakat yang dikhawatirkan berdampak pada psikologis anak-anaknya.
“Saya tidak mau banyak keluar rumah. Malu juga. Takut anak dengar omongan orang,” ujarnya. Terkait kasus yang menjerat suaminya, Marlina mengaku berada dalam posisi sulit. Ia menyadari perbuatan ED melanggar hukum, namun juga memahami reaksi emosional seorang ayah terhadap peristiwa yang menimpa anaknya.
“Saya tidak membenarkan. Tapi saya tahu bapaknya sakit hati sekali. Siapa orang tua yang tahan lihat anaknya begitu,” katanya.
Sejak ED ditahan, Marlina baru beberapa kali menjenguk. Dalam setiap pertemuan, suaminya selalu menyampaikan pesan agar anak-anak tetap dijaga dan tidak putus sekolah. “Dia cuma bilang, jaga anak-anak. Jangan sampai putus sekolah,” tuturnya.
Di tengah keterbatasan ekonomi dan tekanan sosial, Marlina berharap anak-anaknya dapat pulih dari trauma serta tetap melanjutkan pendidikan.
“Saya cuma mau anak-anak sehat. Jangan sampai masa depan mereka ikut hancur,” katanya. Proses hukum terhadap ED saat ini masih berjalan di Polres Pariaman. (apg)
Editor : Adetio Purtama