Japan International Cooperation Agency (JICA), yang merupakan lembaga donor internasional yang memberikan pinjaman luar negeri kepada pemerintah Indonesia, telah mempertimbangkan opsi pengalihan trase jalan tol ke lokasi lain yang tidak berdampak pada aspek sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat setempat.
Kepala Dinas Bina Marga Cipta Karya dan Tata Ruang (BMCKTR) Provinsi Sumbar, Era Sukma Munaf, mengungkapkan bahwa keputusan JICA ini mengakibatkan pembangunan tahap pertama Jalan Tol Payakumbuh-Pangkalan ditangguhkan sementara.
“Karena masih ada permasalahan di tahap pertama yang melibatkan lima nagari, Kementerian PUPR telah sepakat untuk memprioritaskan pembangunan tahap dua dan tiga,” kata Era Sukma.
Masyarakat di lima nagari yang terdampak proyek jalan tol masih menolak agar daerah mereka dilintasi oleh jalan tol. Mereka khawatir bahwa pembangunan jalan tol akan menggusur pemukiman, ladang, sawah, kebun, serta situs adat dan budaya penting lainnya.
Setelah JICA mengabulkan permintaan masyarakat Lima Nagari yang diajukan oleh Forum Masyarakat Terdampak Tol (Format) Limapuluh Kota, Era Sukma langsung berangkat ke Kantor Kementerian PUPR di Jakarta.
Kementerian PUPR memberikan arahan untuk mempercepat pembangunan tahap dua dan tiga, sambil menyiapkan dokumen AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) dan dokumen LARAP (Laporan Akhir Rencana Alokasi Pembebasan Lahan) yang diperlukan untuk proses pembebasan lahan.
Jalan Tol Payakumbuh-Pangkalan dibangun dengan dana pinjaman luar negeri dari pemerintah Indonesia ke Jepang melalui JICA sebagai lembaga donor internasional. Pinjaman tersebut telah diperpanjang pada Januari sebelumnya.
Pemerintah Provinsi Sumbar, Kementerian PUPR, dan PT Hutama Karya sekarang harus bekerja keras dan berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan proyek pembangunan jalan tol ini, yang merupakan bagian dari Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) yang akan menghubungkan Aceh hingga Lampung.
Jika pembangunan jalan tol tidak selesai sesuai jadwal, maka Jepang dapat membatalkan pinjaman luar negeri yang telah diberikan kepada Indonesia. “Jika ini tidak selesai, semua akan menjadi sia-sia. Dana akan ditarik oleh Jepang. Jalan Tol Padang-Sicincin yang hampir selesai juga akan kehilangan fungsinya jika semuanya gagal,” tegas Era Sukma.
Target Padang-Sicincin
Di sisi lain, pengerjaan Tol Padang-Pekanbaru Sesi Padang-Sicncin saat terus dikebut. Pasalnya, PT Hutama Karya (Persero) telah menetapkan target ambisius untuk menyelesaikan pembangunannya, yakni pada semester I tahun 2024.
Direktur Operasi III Hutama Karya, Koentjoro, menyatakan bahwa proyek ini telah dihadang oleh masalah pembebasan lahan yang berkepanjangan. Saat perjanjian kontrak dengan penyedia jasa ditandatangani tahun 2018, baru sekitar 10-15 persen dari lahan yang diperlukan telah dibebaskan dalam jangka waktu 3-8 bulan.
Bahkan, dari tahun 2018 hingga 2022, persentase pembebasan lahan untuk tol ini belum mencapai 40 persen. Akibatnya, pemerintah menghentikan sementara pembangunan hingga masalah pembebasan lahan dapat diselesaikan.
Namun, pada awal tahun 2023, proses pembebasan lahan telah signifikan di ruas Padang-Sicincin. Pemerintah kemudian meminta Hutama Karya untuk melanjutkan pembangunan. Kendala teknis juga muncul selama proyek ini berlangsung, termasuk gempa bumi yang mempengaruhi beberapa bagian jalan tol, sehingga diperlukan struktur tahan gempa untuk memastikan keamanan.
Koentjoro menyatakan harapannya bahwa pembahasan pembebasan lahan akan selesai pada Desember 2023, sehingga pembangunan dapat berlanjut dengan lancar dan mencapai target penyelesaian pada semester I tahun 2024.
Berdasarkan paparan Hutama Karya, proyek Jalan Tol Padang-Sicincin memiliki nilai investasi sebesar Rp9,72 triliun dengan tingkat pengembalian internal (IRR) sebesar minus 3,68 persen. Hingga tanggal 31 Agustus 2023, proses pembebasan lahan telah mencapai 88 persen, sementara proses konstruksi telah mencapai 35 persen.
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR, Danang Parikesit, sebelumnya menyatakan bahwa pemerintah menargetkan penyelesaian konstruksi jalan tol ini pada tahun 2024. Pembebasan lahan masih terus dilakukan seiring dengan berlanjutnya pembangunan di beberapa ruas tol.
Dengan target ambisius ini, Hutama Karya berkomitmen untuk menyelesaikan proyek ini dengan sukses, yang nantinya akan menjadi bagian integral dari jaringan jalan tol Trans Sumatra yang menghubungkan berbagai wilayah penting di Indonesia. (apg/jpg) Editor : Novitri Selvia