Sementara dari sisi budaya, masyarakat Sumatera Barat memiliki tradisi turun-temurun yang dikenal dengan sebutan balimau.
Balimau merupakan tradisi masyarakat Minangkabau yang dilakukan sehari sebelum Ramadan. Ritual ini berupa mandi menggunakan air yang dicampur limau (jeruk nipis) dan wewangian sebagai simbol kegembiraan sekaligus ungkapan syukur menyambut bulan suci, serta dimaknai sebagai bentuk penyucian diri sebelum menjalankan ibadah puasa.
Biasanya, balimau dilaksanakan di pantai, sungai, atau air terjun pada sore hari menjelang salat Magrib. Tradisi ini kerap menjadi momen berkumpulnya masyarakat dalam jumlah besar, baik laki-laki maupun perempuan.
Pandangan Keagamaan
Untuk menelaah sudut pandang Islam terhadap tradisi tersebut, Padang Ekspres mewawancarai Dr. Irwandi Nashir, pemuka agama sekaligus Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Payakumbuh.
Irwandi Nashir menjelaskan bahwa masyarakat memang memiliki kebiasaan tertentu dalam menyambut Ramadan. Namun, ia mengingatkan pentingnya memilah antara tradisi yang sesuai ajaran Islam dan yang tidak.
“Sebagai umat Muslim, kita harus mampu memilah antara ‘urf fasid (tradisi yang rusak) dan ‘urf shahih (tradisi yang benar). Tradisi yang tidak memiliki dasar dalam sunnah, seperti ritual mandi bersama laki-laki dan perempuan atau meyakini adanya keutamaan khusus pada ritual mandi tertentu, sebaiknya ditinggalkan,” ujarnya kepada Padang Ekspres, Jumat (13/2/2026).
Menurutnya, dalam ajaran Islam tidak terdapat simbolisme yang bertentangan dengan norma syariat. Karena itu, masyarakat diimbau memperkuat tradisi yang bernilai positif dan sejalan dengan ajaran agama.
Ia mencontohkan sejumlah amalan yang dapat dilakukan menjelang Ramadan, seperti mempererat silaturahmi, saling memaafkan, membantu sesama, menghadiri majelis ilmu untuk mendalami fikih puasa, serta berziarah dan membersihkan makam sebagai pengingat akan kematian.
“Mari masuki Ramadan dengan kejernihan tauhid dan kebersihan hati, bukan sekadar terjebak dalam ritualitas tanpa makna,” tutupnya.
Dengan demikian, tradisi balimau diharapkan tetap dapat dipahami dalam konteks budaya, namun pelaksanaannya tetap memperhatikan nilai-nilai syariat agar tidak menyimpang dari ajaran Islam. (cr4)
Editor : Adetio Purtama