Bupati Agam, Benni Warlis mengatakan realisasi anggaran itu merupakan hasil komunikasi intensif dan koordinasi berkelanjutan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat.
”Alhamdulillah, upaya konsultasi dan koordinasi yang kita lakukan ke Kementerian Pertanian membuahkan hasil. Tahap I tahun 2026 ini Kabupaten Agam mendapatkan alokasi Rp28,3 miliar untuk percepatan pemulihan lahan dan infrastruktur pertanian,” ujar Benni Warlis, Senin (2/3).
Ia menegaskan sektor pertanian menjadi prioritas utama dalam proses pemulihan pascabencana karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan dan sumber ekonomi masyarakat. Menurutnya, bantuan tersebut ditargetkan mampu memulihkan hingga 1.604 hektare lahan pertanian agar kembali produktif dalam waktu secepatnya.
”Kita ingin memastikan lahan-lahan sawah yang terdampak segera kembali produktif. Ini bukan hanya soal pertanian, tetapi menyangkut penghidupan masyarakat,” tegasnya.
Benni juga berharap kelompok tani dapat memanfaatkan bantuan secara optimal sehingga produktivitas pertanian di Agam terus meningkat pascapemulihan. Sehari sebelumnya, Bupati Agam menerima kunjungan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian RI, Ali Jamil, di Nagari Kotokaciak, Kecamatan Tanjungraya. Kunjungan tersebut dilakukan untuk meninjau langsung lokasi rehabilitasi lahan pertanian seluas 69 hektare yang mengalami kerusakan kategori sedang akibat banjir bandang.
”Mudah-mudahan dengan dukungan alat berat dan semangat gotong royong masyarakat, pengerjaan dapat diselesaikan sesuai jadwal,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Sumbar, Afniwirman, menyebutkan total lahan pertanian rusak khusus di Kecamatan Tanjungraya mencapai sekitar 400 hektare yang tersebar di sejumlah nagari.
Di Nagari Kotokaciak, seluas 69 hektare lahan telah masuk dalam CPCL (Calon Petani dan Calon Lokasi), yakni tahapan identifikasi dan verifikasi petani serta lahan penerima bantuan pemerintah melalui skema APBD maupun APBN.
Afniwirman menekankan keberhasilan program pemulihan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga partisipasi aktif masyarakat.
”Program tidak akan berhasil jika hanya pemerintah yang bergerak. Kebersamaan dan partisipasi masyarakat menjadi kunci utama,” tegasnya.
Di sisi lain, Bupati Agam berharap kunjungan pemerintah pusat dan provinsi tersebut semakin memperkuat kolaborasi lintas pemerintahan dalam mempercepat pemulihan sektor pertanian sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah pascabencana. (*)
Editor : Eri Mardinal