PADEK.JAWAPOS.COM-Target Presiden Prabowo Subianto agar hunian sementara (Huntara) bagi korban banjir dan longsor rampung awal Januari 2026 dipastikan gagal tercapai di Kabupaten Agam.
Hingga pertengahan Januari, progres pembangunan Huntara masih berkisar 40 hingga 50 persen dan tersebar di banyak titik.
Kepala Pelaksana BPBD Agam, Rahmad Lasmono, Selasa (13/1), mengakui penyelesaian Huntara mengalami keterlambatan signifikan.
Meski demikian, pemerintah daerah menargetkan pembangunan bisa dituntaskan sebelum memasuki bulan puasa.
“Awalnya memang ditargetkan awal Januari. Tapi dengan kondisi cuaca ekstrem, itu tidak mungkin tercapai. Sekarang kita fokus ke percepatan, target kita sebelum Ramadhan Huntara sudah bisa ditempati,” kata Rahmad.
Ia menjelaskan, hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa pekan terakhir membuat pekerjaan konstruksi terganggu. Sejumlah item vital seperti struktur bangunan, lantai, dan pemasangan material tidak bisa dikerjakan maksimal.
Sementara itu, pembangunan hunian tetap (Huntap) bagi warga terdampak hingga kini masih berada pada tahap pematangan lahan.
Butuh 518 Huntara
Pemerintah Kabupaten Agam sendiri mencatat kebutuhan Huntara mencapai 518 unit bagi warga yang rumahnya mengalami rusak berat akibat bencana. Huntara ini menjadi tahap darurat sebelum warga dipindahkan ke hunian tetap.
Sekretaris Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Agam, Rudi Hendri, mengatakan Huntara disiapkan agar korban bencana tidak berlama-lama tinggal di lokasi rawan atau di pengungsian.
Baca Juga: Kamp Karyawan di PT Incasi Raya Silaut Terbakar, Seorang Balita Tewas
“Huntara ini solusi jangka pendek. Sambil berjalan, kita juga siapkan perencanaan menuju hunian tetap,” ujar Rudi.
Berdasarkan rekapitulasi Perkim Agam, kebutuhan Huntara terbesar berada di Kecamatan Palembayan sebanyak 205 kepala keluarga (KK), disusul Tanjungraya 181 KK, Ampekkoto 66 KK, Palupuh 51 KK, dan Malalak 15 KK.
Di Palembayan, Huntara dibangun di beberapa titik, di antaranya lapangan bola SDN 05 Kayupasak, lapangan bola Padang Sibabaju Jorong Kayupasak Timur, dan lapangan bola Jajaran Tantaman. Salah satu lokasi yang sudah mencapai 50 persen adalah lapangan bola SDN 05 Kayupasak.
Untuk Kecamatan Amppekoto, Huntara akan dibangun di DOB Bancah, Balingka, sementara di Malalak berlokasi di lapangan Lambeh Jorong Bukikmalanca.
Di Palupuh, pembangunan direncanakan di lapangan Pakan Salasa Jorong Sungaiguntuang dan lapangan Jorong Batehgadang. Sedangkan di Tanjungraya, Huntara disiapkan di antaranya di Kampung Ujung Jorong Bancah, Nagari Maninjau, dan OW Linggai Nagari Duokoto.
Untuk jangka panjang, Pemkab Agam juga telah menyiapkan lahan hunian tetap di BBI Gumarang, Palembayan. Saat ini lahan tersebut masih dalam tahap pematangan.
“Kita harapkan setelah masa tinggal di Huntara, warga bisa segera dipindahkan ke Huntap. Tapi ini bertahap dan perlu dukungan provinsi serta pusat,” kata Rudi.
Skema Nasional: Huntara, Huntap hingga DTH
Sebelumnya, pemerintah pusat telah menetapkan skema nasional penanganan hunian korban bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyebutkan, rumah rusak ringan mendapat bantuan Rp 15 juta, rusak sedang Rp 30 juta, sementara rusak berat akan difasilitasi huntara dan huntap.
Selain itu, BNPB menyalurkan Dana Tunggu Hunian (DTH) bagi warga yang memilih tinggal di rumah kerabat atau mengontrak. Bantuan ini sebesar Rp 600 ribu per KK per bulan selama tiga bulan.
Untuk Sumatera Barat, tercatat 1.743 KK masuk sebagai penerima DTH tahap awal. Namun di Agam, warga yang rumahnya hancur masih harus menunggu huntara rampung, di tengah cuaca yang terus menguji kecepatan negara dalam memulihkan kehidupan korban bencana. (ptr)
Editor : Novitri Selvia