PADEK.JAWAPOS.COM-Sejumlah ruas jalan di Sumbar butuh perhatian khusus untuk menjaga kelancaran mobilitas kendaraan serta menghindari risiko kecelakaan. Salah satunya adalah Jalan dari Simpang Padanglua ke Simpang Malalak, Kabupaten Agam.
Pasca putusnya jalan di Lembah Anai, jalur alternatif Malalak menjadi pilihan utama bagi pengendara. Khusunya dari Padang ke Bukittinggi dan sebaliknya.
Pantauan Padang Ekspres kemarin (24/6), kemacetan terlihat dari Simpang Padanglua hingga Simpang Malalak yang panjangnya mencapai sekitar 9 kilometer. Kendaraan yang melewati ruas jalan tersebut didominasi roda empat, sepeda motor, bus, dan truk.
Kondisi jalan pun terbilang parah. Banyak lubang dan bagian bahu jalan yang hancur serta tertutup oleh genangan air.
Di saat bersamaan, di sejumlah titik terdapat banyak sedimen lumpur dan pasir kering yang membuat kondisi jalan berdebu. Ini terlihat cukup menyulitkan pengendara, terutama roda dua. Kondisi bahu jalan yang rusak memaksa pengendara, terutama roda empat dan truk untuk berhenti.
Mereka lebih memilih menanti dari pada memaksakan turun dari aspal untuk menghindari berbagai risiko kecelakaan. Kerusakan bahu jalan yang tergenang air juga seolah menjadi jebakan bagi pengendara, terutama roda dua. Pengendara yang tidak terlalu menguasai medan, kesulitan saat memotong di jalur kiri.
Salah satu titik kemacetan paling parah terjadi di Simpang Kototuo, Nagari Kototuo, Kecamatan IV Koto. Kondisi jalan di lokasi yang juga menjadi salah satu titik banjir bandang ini sangat buruk. Selain banyak sedimen lumpur, bahu jalan yang hancur di tambah lagi dengan kondisi jalan bergelombang.
“Hampir 24 jam terjadi kemacetan. (Volume kendaraan) Paling rendah saat subuh. Sekitar pukul empat hingga lima. Kondisi ini telah terjadi saat jalan di Lembah Anai terputus. Kemacetan biasanya terjadi dari Simpang Padanglua hingga Simpang Malalak,” ujar Rino Saputra, salah seorang masyarakat Nagari Kototuo.
Selain karena pengalihan arus lalu lintas Bukittinggi-Padang via Malalak, terangnya, kemacetan ini disebabkan oleh kondisi jalan yang sempit dan buruk. “Kondisi jalannya memang kecil dan banyak berlubang. Dengan banyaknya kendaraan yang mengunakan jalur ini tentu kemacetan tidak terhindari. Kalau biasanya dari Nagari Koto Tuo menuju Pasar Padanglua hanya butuh 15 menit sekarang butuh hampir dua jam dengan angkutan umum,” tambahnya.
Ia menilai faktor padatnya kendaraan dan buruknya drainase, menjadikan kerusakan jalan ini bertambah parah setiap waktunya. “Kemacetan ini tentu dampaknya banyak, tak terkecuali terhadap masyarakat sekitar. Banyak angkutan umum yang jadi tidak beroperasi, jadi semuanya melambat. Mulai dari aktivitas ekonomi warga dan juga aktivitas sekolah anak-anak,” tambahnya.
Rino berharap, jalur Lembah Anai segera pulih dan bisa kembali menjadi jalur utama. Dengan begitu, volume kendaraan di rute Malalak kembali normal. Setelah jalur Lembah Anai kembali normal, sambungnya, pemerintah diharapkan untuk memberikan perhatian khusus bagi jalur Malalak ini. “Kami berharap jalur ini kembali diperbaiki dan drainase dimaksimalkan,” ucapnya.
Senada dengan itu, Arif Rahman, salah seorang penguna jalan menyebutkan, ia telah terjebak dalam kemacetan selama sekitar dua jam. “Dari Simpang Malalak hingga ke Padanglua bisa tiga jam dengan sepeda motor. Ini tentu menggangu kenyamanan penguna jalan. Kemacetan terjadi dari Simpang Malalak,” sebutnya.
Pengendara yang berasal dari Padang dan hendak menuju Bukittinggi ini menyebutkan, dalam kondisi macet ini ia butuh waktu sekitar lima jam untuk sampai. “Cara paling cepat mengatasi kemacetan menurut saya dengan menimbun lubang di bahu jalan. Kalau kondisi sekarang tentu penguna truk dan mobil besar lainnya tidak mau mengambil risiko turun aspal,” sebutnya.
Berkah untuk Pedagang
Di lain sisi, kondisi ini menjadi berkah bagi pedagang. Wisdarni, salah seorang penjual sala mengaku, ia mendapatkan peningkatan omzet sebesar 40 persen dalam kondisi kemacetan ini. “Saya menjual sala dan berbagai kudapan. Dalam kondisi sekarang, bisa dibilang kami mengalami peningkatan omzet hingga 40 persen,” katanya.
Pedanga sala yang biasa berjualan di Pasar Padanglua ini mengaku peningkatan omzet ini menjadi alasan ini berpindah lokasi untuk menjajakan dagangannya. “Sebulan ini baru pindah ke sini. Kalau di sini biasanya saya mulai berjualan dengan menjajakan Sala dari Ampek Koto berjalan kaki ke arah Banuhampu, tentu sampai barang dagangan habis,” ucapnya.
Ia menyebutkan, titik tertinggi kemacetan terjadi pada sore hari. saat itu juga menjadi waktu terbaik baginya untuk menawarkan dagangannya. “Saya datangnya sekitar jam sepuluh pagi dari Pariaman, biasanya berjualan hingga sore sekitar jam lima. Biasanya paling macet dan paling banyak jual beli itu pada sore hari, pada sekitar jam Empat,” tutupnya. (r)
Editor : Novitri Selvia