Berawal dari kepeduliannya merawat pohon belimbing milik tetangganya, kini ia mampu menghidupi keluarga dengan produk-produk kreatif berbahan dasar buah yang sering dianggap sepele ini.
Agnes lahir pada 30 Mei 1960 dan tetap memiliki tekad kuat untuk berwirausaha. Pada tahun 2016, ia mulai menaruh perhatian pada pohon belimbing wuluh milik tetangganya yang subur dan berbuah lebat.
Sayangnya, banyak buah yang terbuang sia-sia. Hingga suatu hari, pemilik pohon menyarankan Agnes untuk mengolah buah tersebut agar lebih bernilai.
“Mi, diolah Mi, siapa tahu jadi duit,” kenang Agnes menirukan perkataan sang pemilik pohon.
Dari saran sederhana itu, Agnes bersama mendiang suaminya mulai bereksperimen membuat sirup belimbing wuluh. Proses trial and error pun mereka jalani selama 3-4 bulan hingga mendapatkan formula sirup yang pas.
Awalnya, produk ini hanya dikonsumsi sendiri dan dibagikan kepada keluarga serta teman-teman gereja. Tak disangka, banyak yang memberikan respons positif, bahkan beberapa orang merasa tekanan darah mereka lebih terkontrol setelah rutin mengonsumsinya.
Keunggulan Belimbing Wuluh dan Inovasi Produk
Belimbing wuluh memang dikenal kaya akan antioksidan dan vitamin C, yang baik untuk kesehatan. Seiring meningkatnya permintaan, beberapa pelanggan bahkan meminta varian sirup dengan gula merah karena dianggap lebih sehat dibandingkan gula pasir.
Selain sirup, Agnes juga mengembangkan produk lain seperti manisan dan nastar belimbing wuluh. Walaupun produksi masih dalam skala kecil akibat keterbatasan bahan baku yang musiman, Agnes selalu berusaha menjaga ketersediaan stok agar dapat memenuhi permintaan pelanggan.
“Produksi tidak menentu, biasanya sebulan bisa dua kali produksi, karena untuk belimbing ini agak sulit didapat dan buahnya musiman,” jelasnya.
Bangkit dari Kehilangan dan Pandemi sebagai Momentum
Pada tahun 2018, Agnes harus menghadapi kenyataan pahit ketika suaminya meninggal dunia. Kesedihannya sempat membuat semangat usahanya meredup. Namun, dukungan dari kedua anaknya yang sudah dewasa membuatnya bangkit kembali dan terus melanjutkan usaha ini.
Puncaknya terjadi pada 2020-2021 saat pandemi Covid-19 melanda. Masyarakat mulai mencari produk alami untuk meningkatkan daya tahan tubuh, dan sirup belimbing wuluh buatan Agnes yang diberi merek Ranam mulai dikenal luas.
Produk ini mendapatkan tempat di hati konsumen sebagai minuman kesehatan alami yang terjangkau, dengan harga hanya Rp17.000 - Rp25.000 per botol.
Kisah Agnes Meiliany Setiawan adalah bukti bahwa kreativitas dan semangat pantang menyerah dapat membawa manfaat besar, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain. Dari sekadar mengolah buah yang sering terabaikan, ia mampu menciptakan produk bernilai ekonomi yang bermanfaat bagi kesehatan.
Semoga kisah inspiratif ini dapat memotivasi lebih banyak orang untuk terus berkarya tanpa mengenal batas usia. Dengan ketekunan dan inovasi, siapa pun bisa menciptakan peluang baru dari hal-hal sederhana di sekitar mereka. (jpg)
Editor : Hendra Efison