PADEK.JAWAPOS.COM-Danau Maninjau, yang terhampar indah di Kabupaten Agam, Sumbar, bukan hanya menawarkan panorama alam yang mempesona, tetapi juga menyimpan kekayaan kuliner khas yang sulit ditemukan di tempat lain.
Di tepian danau ini, berbagai hidangan berbahan dasar ikan air tawar menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun masyarakat lokal.
Tiga kuliner khas yang paling terkenal adalah pensi, rinuak, dan palai ikan, yang merupakan hidangan sederhana, namun kaya rasa yang merepresentasikan budaya kuliner masyarakat sekitar.
Seperti pensi misalnya. Di mana, ini adalah sejenis kerang kecil yang hidup di perairan Danau Maninjau. Bentuknya mirip remis, tetapi ukurannya jauh lebih kecil, sekitar seujung kuku orang dewasa.
Pensi ini biasanya diolah dengan cara ditumis menggunakan bawang merah, bawang putih, cabai, dan sedikit perasan jeruk nipis untuk menghilangkan bau amisnya.
“Sekali makan, sulit berhenti,” kata Marianti, 48, seorang penjual makanan di tepi Danau Maninjau yang telah lebih dari 18 tahun berjualan kuliner khas ini.
“Orang-orang suka beli pensi untuk camilan atau lauk makan siang. Apalagi kalau di gulai dengan kepala ikan dan rebung, wah, makin enak!” tambahnya sambil mengaduk tumisan pensi di wajan.
Selain ditumis, pensi juga kerap dijadikan perkedel atau rempeyek. Rempeyek pensi memiliki rasa gurih yang khas, renyah di luar, dan sedikit kenyal di dalam.
Satu gigitan saja sudah cukup untuk menghadirkan sensasi rasa unik yang berasal dari air Danau Maninjau. Dengan hanya mengeluarkan uang Rp 5 ribu per piring, kamu sudah bisa menikmati rasa pensi nan gurih.
Jika pensi adalah kerang khas Danau Maninjau, maka rinuak adalah ikan kecil yang menjadi primadona di daerah ini. Ukurannya hanya sekitar 1-2 cm, tetapi rasanya sangat gurih.
Rinuak tidak bisa ditemukan di tempat lain, sehingga menjadikannya komoditas kuliner yang sangat istimewa. Rinuak biasanya diolah dengan beberapa cara, seperti digoreng renyah, dicampur dalam perkedel, atau dijadikan peyek.
Namun, salah satu cara paling populer adalah memasaknya dengan cara digoreng kering dengan bumbu minimalis seperti garam dan bawang putih. Hasilnya adalah camilan yang renyah dan gurih, cocok disantap bersama nasi hangat dan sambal lado mudo khas Minang.
“Kalau ada yang baru pertama kali datang ke sini, saya selalu tawarkan rinuak dulu. Rasanya khas, enggak ada di tempat lain. Banyak wisatawan yang akhirnya ketagihan dan beli dalam jumlah banyak buat oleh-oleh,” jelas Marianti.
Selain itu, rinuak juga kerap diolah menjadi pepes atau digabungkan dengan adonan bakwan. Rinuak yang bercampur dengan tepung dan bumbu menciptakan tekstur renyah di luar dan lembut di dalam, menjadikannya kudapan favorit bagi banyak orang.
Jika di daerah lain pepes ikan dibuat dengan daun pisang sebagai pembungkusnya, masyarakat sekitar Danau Maninjau memiliki versi khas yang disebut palai ikan. Hidangan ini menggunakan ikan air tawar seperti nila atau ikan baung yang dibumbui dengan rempah-rempah khas Minang.
Proses pembuatan palai ikan cukup sederhana. Ikan dibersihkan, lalu dilumuri dengan campuran bumbu yang terdiri dari cabai, kunyit, bawang merah, bawang putih, dan daun kunyit.
Setelah itu, ikan dibungkus dengan daun pisang dan dikukus atau dibakar hingga matang. “Kunci kelezatan palai ikan itu di bumbunya. Kalau bumbunya pas, rasanya makin gurih dan pedasnya juga terasa,” kata dia.
Salah satu varian palai yang cukup populer di Danau Maninjau adalah palai rinuak. Alih-alih menggunakan ikan besar, masyarakat di sini membungkus rinuak dalam daun pisang bersama bumbu rempah, menciptakan hidangan yang lebih unik dan penuh cita rasa.
Menikmati kuliner khas Danau Maninjau tak hanya soal rasa, tetapi juga pengalaman. Banyak warung makan sederhana di sepanjang danau yang menyajikan makanan ini dengan pemandangan air tenang dan angin sepoi-sepoi.
Suasana yang nyaman membuat pengalaman bersantap semakin istimewa. Di warung Marianti, yang berada di dekat danau, aroma masakan selalu menggoda siapa pun yang lewat.
“Orang-orang datang ke sini bukan cuma buat makan, tapi juga buat menikmati suasana. Apalagi kalau sore, sambil makan palai ikan, minum teh talua, rasanya nikmat sekali.” kata dia
Bagi wisatawan yang ingin membawa pulang kuliner khas ini sebagai oleh-oleh, banyak penjual yang menyediakan rinuak dan pensi dalam bentuk kering, sehingga lebih tahan lama. Palai ikan pun bisa dibawa dalam keadaan setengah matang, tinggal dipanaskan kembali di rumah.
Jika berkunjung ke Danau Maninjau, pensi, rinuak, dan palai ikan adalah tiga hidangan yang wajib dicoba. Makanan ini bukan sekadar kuliner biasa, melainkan bagian dari warisan budaya masyarakat setempat yang telah diwariskan turun-temurun.
“Banyak orang dari luar yang awalnya ragu mau coba, tapi begitu makan, langsung jatuh cinta,” kata Marianti dengan tawa ringan.
“Bagaikan rasa alam Danau Maninjau ada di setiap suapan,” sebutnya.
Bagi pencinta kuliner, perjalanan ke Danau Maninjau akan terasa kurang lengkap tanpa mencicipi hidangan khas ini. Perpaduan rasa gurih, pedas, dan aroma rempah yang khas akan selalu meninggalkan kesan mendalam membuat siapa pun ingin kembali lagi ke danau cantik ini.
Bukan hanya untuk menikmati keindahannya, tetapi juga untuk merasakan lagi nikmatnya pensi, rinuak, dan palai ikan. (SILVINA
FADHILAH— Agam)