Di balik kepulan uap panas dari panci besar, tampak Nasrul (56) dengan senyum ramahnya melayani pelanggan satu per satu.
Dengan becak motor sederhana, warga Jalan Taman Siswa, Kelurahan Alai Parak Kopi, Kecamatan Padang Utara ini telah tujuh tahun setia menjajakan siomay dan batagor dari pagi hingga malam.
Bagi banyak orang, ia hanyalah pedagang kaki lima biasa. Namun, bagi keluarganya, Nasrul adalah simbol keteguhan seorang ayah yang tak pernah menyerah demi masa depan lima anaknya.
“Kalau lagi ada acara di GOR, seperti konser atau pertandingan Semen Padang FC, pembeli bisa sangat ramai,” ujarnya sambil mengaduk saus kacang di wajan kecilnya, Jumat (31/10/2025).
Dagangan yang ia bawa bukanlah miliknya sendiri. Siomay dan batagor itu milik seorang anggota polisi yang juga tinggal di Alai Parak Kopi.
Setiap pagi, Nasrul menjemput bahan yang sudah siap, lalu berkeliling di sekitar kawasan olahraga terbesar di Kota Padang itu.
Ia bekerja dengan sistem bagi hasil, hanya memperoleh 20 persen dari total penjualan harian.
Meskipun kecil, pendapatannya cukup untuk menghidupi keluarga. Dalam sehari, ia bisa menghasilkan omzet sekitar Rp500 ribu.
Ketika GOR ramai oleh acara besar atau saat Car Free Day pada Minggu pagi, penghasilannya meningkat signifikan.
Namun, perjuangan di lapangan tidak selalu mudah. “Kadang yang bikin pembeli malas itu banyaknya parkir liar. Mereka susah berhenti buat beli,” keluhnya.
Meski demikian, Nasrul tetap sabar menghadapi kendala itu, percaya bahwa rezeki tak akan tertukar.
Sebelum berjualan siomay, Nasrul pernah berkeliling ke sekolah-sekolah menjajakan minuman pop ice pada 2011 hingga 2017.
Lebih dari satu dekade ia bertahan di dunia dagang kecil, membentuk sosoknya menjadi pekerja keras yang pantang menyerah.
Kini, semangatnya tak lagi hanya untuk bertahan hidup, tetapi untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga sukses. Dengan nada bangga, ia menyebut satu per satu pencapaian buah hatinya.
Anak sulungnya kini bekerja di Bank BTN setelah menamatkan pendidikan di STIE Perbankan Indonesia (STIEPI). Anak kedua bekerja di sebuah kafe, anak ketiga di toko mebel di kawasan Berok Nipah, sementara dua anak bungsunya masih menempuh pendidikan di SMKN 3 Padang dan SMPN 39 Padang.
“Saya ingin mereka semua punya kehidupan yang lebih baik dari saya,” tuturnya, matanya berbinar menahan haru.
Di tengah hiruk-pikuk GOR Haji Agus Salim, kisah Nasrul menjadi pengingat bahwa ketulusan dan ketekunan adalah kekuatan sejati. Di balik setiap porsi siomay yang ia sajikan, tersimpan cinta seorang ayah yang tak pernah berhenti berjuang untuk keluarganya.(cr3)
Editor : Hendra Efison