Keduanya berharap masih ada mahasiswa yang datang membeli di warung kecil yang dikenal mahasiswa sebagai “Warung Mamski”, area kantin bawah pohon rindang (DPR).
Sejak banjir dan galodo melanda Kota Padang beberapa pekan terakhir, ibu dan anak yang tinggal di Pauh Lima ini terus berjualan tanpa jeda untuk mempertahankan kebutuhan hidup.
Lismimi merupakan ibu tunggal yang menghidupi tiga anak, sementara Frieska sehari-hari membantu di warung dan suaminya bekerja sebagai pengemudi ojek online.
Penjualan yang sebelumnya bisa mencapai sekitar Rp2 juta per hari turun drastis sejak perkuliahan kembali berlangsung secara daring dan banyak mahasiswa terdampak memilih pulang atau mendapatkan makanan dari posko bantuan. Pada Kamis (4/12/2025), omzet mereka bahkan tidak mencapai Rp200 ribu.
Komoditas seperti kopi instan dan rokok batangan yang biasanya cepat habis kini tetap tersusun rapi tanpa pembeli.
Mereka juga menghentikan sementara penjualan menu makanan seperti lontong karena minimnya permintaan.
Selain merosotnya pendapatan, rumah Lismimi turut terdampak bencana. Dapur terendam banjir dan sebagian atap rusak, memaksanya memindahkan aktivitas memasak ke warung.
“Dapur terpaksa ibu pindah ke sini,” ujarnya kepada Padek, Kamis (4/12/2025).
Frieska kerap membawa anaknya yang berusia lima tahun ke warung karena tidak ada tempat lain yang aman ditinggali selama masa pemulihan.
Mereka mengandalkan sisa tabungan untuk bertahan sambil berharap mendapatkan bantuan logistik. “Nanti semoga ada bantuan sembako,” kata Lismimi.
Hingga kini, Lismimi dan Frieska tetap membuka Warung Mamski setiap hari meski jumlah pembeli terus menurun.(CR7)
Editor : Hendra Efison