Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Satupena Sumbar akan Bedah Dua Buku: Menyingkap Wajah Minangkabau

Hendra Efison • Selasa, 26 April 2022 | 22:41 WIB
Photo
Photo
Pengurus DPD Satupena Sumatera Barat.

Baru sebulan dikukuhkan, DPD Satupena Sumatera Barat, sebuah komunitas penulis terbesar di Sumatera Barat, memiliki anggota 200-an orang, langsung tancap gas.

Alhamdulillah, kita sudah merampungkan program kerja satu tahun ke depan. Sejumlah agenda juga sudah dilaksanakan,” kata Ketua I DPD Satupena Sumatera Barat Sastri Bakry, di Padang, selepas buka puasa, Selasa (26/4).

Sepanjang tahun ini, katanya, ada beberapa kegiatan dilaksanakan. Puncaknya, direncanakan Februari 2023 dengan menghadirkan program Internasional Minangkabau Literacy Festival 2023. Peserta bukan saja anggota Satupena Sumbar, tetapi juga penulis Satupena se-Indonesia dan luar negeri.

Sebelum sampai ke puncak program tersebut, terlebih dahulu dilaksanakan sejumlah kegiatan, sekaligus “pemanasan” bagi Satupena untuk program puncak tersebut.
“Selepas lebaran nanti, kita akan usung buku, musik dan halalbihalal di Padang,” kata Sastri Bakry.

Kegiatan ini, katanya ditujukan untuk semua anggota Satupena Sumatera Barat. Sekaligus sebagai ajang silaturrahmi, sebab saat pengukuhan Maret 2022 lalu, peserta yang datang dibatasi karena keterbatasan tempat dan hal-hal lainnya.

Iven Buku, Musik dan Halalbihalal, direncanakan di Taman Pucuk Merah Café, dimulai pukul 13.30 WIB. Selain itu juga ada pentas musik dan bedah buku. “Kita akan membedah dua buku sekaligus,” kata Sastri Bakry.

Kedua buku tersebut, pertama Tuanku Nan Renceh, karya Irwan Setiawan, anggota Satupena Sumatera Barat. Buku kedua, Menyingkap Wajah Minangkabau (Paparan Adat dan Budaya) karya Yus Datuk Parpatih. “Mak Datuk Yus Parpatih bukan anggota Satupena, namun kami memberikan apresiasi kepada beliau,” kata Sastri.

Mengapa apresiasi diberikan kepada Yus Datuk Perpatih? Selain beliau seorang budayawan Minangkabau yang konsisten di jalurnya, pengembangan dan mengawal budaya dan adat istiadat, ternyata ada hal yang mengejutkan. Di saat usianya sudah 84 tahun, ternyata beliau masih menulis. Menggunakan mesin tik.

“Saat kami bersilaturrahim ke kediaman beliau di Sungai Batang, kami menemukan berkas tulisan mesin tik di meja kerjanya. Ada sejumlah koreksian di kertas yang sudah ditulis tersebut,” Sastri Bakry.

Kedua buku tersebut dibahas oleh pembahas berbeda. Menyingkap Wajah Minangkabau akan dibahas Hasril Chaniago (Penasihat Satupena Sumatera Barat), dipandu Dr Hermawan. Buku Tuanku Nan Renceh dibahas Januarisdi dan dipandu Sry Eka Handayani, semuanya pengurus DPD Satupena Sumatera Barat. (*) Editor : Hendra Efison
#Satupena Sumbar #Bedah Dua Buku