Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Inflasi Sumbar Turun ke 1,97 Persen, Lebih Rendah dari Nasional

Suryani • Rabu, 6 Mei 2026 | 09:55 WIB
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sumbar, M. Abdul Majid Ikram.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sumbar, M. Abdul Majid Ikram.

PADEK.JAWAPOS.COM - Inflasi tahunan Sumatera Barat pada April 2026 tercatat menurun dan berada di bawah realisasi nasional. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sumbar, M. Abdul Majid Ikram, menyampaikan inflasi tahunan Sumbar mencapai 1,97 persen (year-on-year/yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,42 persen (yoy).

Penurunan inflasi ini terutama ditopang oleh meredanya tekanan pada kelompok barang bergejolak (volatile food/VF). Secara kumulatif Januari–April 2026, Sumatera Barat bahkan masih mencatat deflasi sebesar -0,43 persen (year-to-date/ytd). Kondisi tersebut membuat inflasi sepanjang 2026 diprakirakan tetap berada dalam rentang sasaran 2,5±1 persen (yoy), sehingga dinilai kondusif bagi daya beli masyarakat.

Secara bulanan, inflasi Sumbar pada April 2026 tercatat sebesar 0,39 persen (month-to-month/mtm), meningkat dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 0,04 persen (mtm). Kenaikan ini dipengaruhi faktor musiman pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri, kenaikan harga energi, serta transmisi harga barang global (traded goods).

Berdasarkan komoditas, inflasi April didorong kenaikan tarif angkutan udara, bawang merah, minyak goreng, jengkol, kentang, serta nasi dengan lauk. Tarif angkutan udara melonjak 32,24 persen (mtm) akibat berakhirnya diskon tiket pesawat saat HBKN, kenaikan harga avtur dan fuel surcharge, serta penyesuaian tarif batas atas.

Bawang merah mengalami inflasi 10,52 persen (mtm) seiring meningkatnya permintaan dari dalam dan luar Sumbar. Minyak goreng juga mencatat inflasi 4,75 persen (mtm) akibat kenaikan harga crude palm oil (CPO). Selain itu, kenaikan harga komoditas global mulai mendorong peningkatan harga bahan makanan, termasuk nasi dengan lauk pauk.

Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh deflasi sejumlah komoditas pangan strategis. Cabai rawit dan cabai merah masing-masing mengalami deflasi -21,13 persen (mtm) dan -13,55 persen (mtm), didukung peningkatan produksi lokal serta pasokan dari Sumatera Utara. Penurunan harga emas global turut mendorong deflasi emas perhiasan sebesar -2,92 persen (mtm), sementara daging ayam ras mengalami deflasi -2,93 persen (mtm) seiring membaiknya pasokan.

Secara spasial, inflasi tertinggi pada April 2026 terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 0,67 persen (mtm), sedangkan Kabupaten Pasaman Barat mengalami deflasi -0,02 persen (mtm). Kota Padang dan Kota Bukittinggi masing-masing mencatat inflasi sebesar 0,51 persen (mtm).

Secara tahunan, inflasi tertinggi hingga April 2026 tercatat di Kabupaten Dharmasraya sebesar 3,44 persen (yoy). Sementara itu, daerah lain masih berada di bawah 3 persen (yoy), yakni Kota Bukittinggi 2,48 persen (yoy), Kota Padang 1,97 persen (yoy), dan Kabupaten Pasaman Barat 1,03 persen (yoy).

Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, KPwBI Sumbar bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat sinergi melalui berbagai langkah, antara lain percepatan rekonstruksi infrastruktur pascabencana, pelaksanaan Rakortek TPID dan focus group discussion (FGD) untuk mitigasi risiko cuaca, serta intensifikasi operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM).

Selain itu, optimalisasi kerja sama antardaerah berbasis neraca pangan, fasilitasi business matching produsen dan offtaker, serta penguatan logistik terus dilakukan guna menjaga kelancaran distribusi. Upaya lain mencakup penguatan pemantauan menjelang Iduladha, pengamanan pasokan melalui koordinasi dengan BULOG, serta pengembangan urban farming untuk memperkuat ketahanan hortikultura.

 

Ke depan, inflasi Sumatera Barat diprakirakan tetap terjaga seiring normalisasi produksi dan perbaikan distribusi. Namun, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai, seperti kenaikan harga pangan global, gangguan rantai pasok, disparitas harga antarwilayah, potensi cuaca ekstrem dan bencana, serta tekanan depresiasi nilai tukar rupiah yang dapat meningkatkan imported inflation.

Penguatan sinergi TPID akan terus dilakukan guna menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen (yoy) sepanjang 2026, sekaligus mendukung stabilitas perekonomian daerah. (eni)

Editor : Adriyanto Syafril
#inflasi sumbar #bank indonesia