PADEK.JAWAPOS.COM-RIBUAN warga Padang pariaman dan sekitarnya memadati tanah lapang di samping Stasiun Kayutanam, pada malam puncak Galanggang Arang #4 Kayutanam, akhir pekan lalu.
Mereka tampak sangat antusias datang menonton ragam penampilan tradisi seni budaya khas Piaman (Padangpariaman dan Pariaman) di sana.
Paling menggema, penampilan 21 sanggar gandang Tambua Tasa. Kesenian yang lahir di Piaman ini, mengilustrasikan kehidupan masa lalu tentang Kureta Mandaki (kereta mandaki).Ini, merujuk pada rel kereta di Lembah Anai yang menanjak. Di sana juga pernah ada peristiwa besar.
Sanggar Seni Dayung-Dayung dan Orkes Taman Bunga, ikut serta menarasikan tentang ingatan kolektif soal Warisan Budaya Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) itu.
Mereka menghadirkan Anduang Rosmailini, 92, seniman Orkes tahun 1950-1970-an.
Meskipun nada suara Rosmailini sudah terdengar sangat bergetar, ia mampu memukau setiap kepala yang hadir di Stasiun Kayutanam itu.
Dalam senandungnya, diceritakan bagaimana kecelakaan kereta api Lembah Anai di tahun 1944 dan 1945. Lagu yang dibawakan Rosmailini tersebut diciptakan oleh Boestanoel Arifin Adam.
Tragedi Lembah Anai menyoroti betapa rentannya kehidupan masyarakat di kala itu. Infrastruktur yang mereka bangun, ternyata bukan untuk mereka. Namun, dimanfaatkan sebagai sarana mengeksploitasi sumber daya mereka.
Kurator Galanggang Arang Mahatma Muhammad menceritakan bahwa memori kolektif masyarakat di sepanjang jalur kereta api, mencerminkan hubungan yang kompleks antara masa kolonial dan kehidupan sehari-hari mereka pascakolonial.
“Di balik pengakuan dunia dan upaya merawat warisan budaya ini, terdapat kisah derita nenek moyang kita. Hal itu menuntut kita untuk mengungkap dan menceritakan kembali sejarah yang sesungguhnya.
Bukan hanya mengenang, tapi juga menghormati dan memberi pengakuan yang layak atas perjuangan mereka. Stasiun Kayutanam yang kini jadi salah satu ikon penting dari WTBOS, adalah saksi bisu masa kelam tersebut,” jelas pendiri kelompok seni Nan Tumpah ini. Mahatma mengajak untuk melihat masa lalu dengan kacamata yang kritis.
“Kita harus mengakui warisan yang dirayakan hari ini adalah hasil perjuangan dan penderitaan masa lalu. Dengan kesadaran ini, kita bisa merajut paco-paco (perca-perca) dari narasi lokal yang kerap kali terabaikan dan membangun masa depan yang lebih baik,” jelas Mahatma.
Rijal Tanmenan, kondaktur dari pertunjukan Kureta Mandaki menceritakan pesan penting tentang perjuangan dan ketahanan masyarakat di era kolonial Belanda.Di mana masyarakat terus beradaptasi dan bertahan pada berbagai tantangan. Untuk menarik ingatan setiap orang akan itu, sambungnya, disatukan lah 21 grup sanggar gandang tambua tasa.
Sehingga, penampilan mereka benar-benar menggema. ”Meskipun tahun lalu pernah diadakan Kureta Mandaki, namun pada tahun ini ada intepretasi baru secara musikal. Ritme digarap dengan dinamika yang lebih dinamis. Ditambah dengan talempong pacik dan pupuik batang padi. Secara konfigurasi mengambil bentuk kereta yang berselisih. Korografi yang lebih rampak,” ujar pendiri Gudang Seni Menata ini.(*)
Editor : Novitri Selvia