PADEK.JAWAPOS.COM-Petulangan beda generasi kembali berlanjut. Pendakian kedua dalam misi “Sevent Summit” Ranah Minang sang ayah Two Efly dengan anaknya Azib Fattah MP adalah menaklukan puncak tertinggi Gunung Sago dengan ketinggian 2.271 meter dari permukaan laut (Mdpl).
GUNUNG yang terletak di tapal batas Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Tanahdatar ini memiliki ketinggian 2.271 Mdpl. Walau terbilang tidak tinggi, namun track pendakian relatif berat dan lebih didominasi tanjakan dengan kemiringan yang cukup tajam.
Dikalangan pendaki, Gunung Sago di istilahkan “ketek-ketek lado kutu”. Gunung Sago bertipe stratovolcano. Pernah meletus besar pada 1.600 Masehi.
Namun setelah itu “tertidur pulas” sampai saat ini. Jejak letusan itulah yang dikenal dengan Kawah Tingga. Dalam ekspedisi ini kami tak berdua saja. Ada Dani Fauzi serta Habil sebagai guide yang merupakan akamsi alias anak kampung sini.
Kami berangkat dari Padang dengan mobil pukul 05.30 WIB. Setelah menempuh perjalanan sekitar137 Km, sampai di Kanagarian Bukitkamuyang, Kecamatan Luhak, Kabupaten Limapuluh Kota.
Di sana sudah menunggu Dani Fauzi serta Habil. Rehat sejenak kami gunakan untuk rechange tenaga dan prepare sebelum memulai pendakian. Peralatan dan logistik diperiksa untuk terakhir kalinya.
Dari rumah Danil yang berjarak sekitar 20 Km dari SMP 1 Luhak perjalanan menuju puncak Gunung Sago dimulai.
Namun, mengingat badan jalan masih bagus dan untuk menghemat tenaga, kami memilih naik ojek hingga ke Pintu Rimba. Dari sana, Gunung Sago tampak tegak menjulang dengan tiga puncaknya.
Pintu Rimba menuju Padang Sibunian
Pendakian dari Pintu Rimba dimulai pukul 11.30 WIB. Tujuannya Padang Sibunian. Butuh dua jam perjalanan hingga sampai ke lapangan Bunian ini.
Sepintas nama kawasan ini sedikit berbau mistis. Konon kabarnya, mitos yang terwarisi dari generasi ke generasi kawasan itu merupakan wilayah bermukimnya para makluk halus (urang bunian, red).
“Ngeri-ngeri sedap juga ni Mby, yang pasti kita ke sini hanya menumpang lewat. Kita tak mengganggu makluk lain. Jangan sampai kita merusak dan mengganggu apapun. Kita upayakan saja bisa cepat melewati kawasan ini,” ujar Azib.
Kawasan Padang Sibunian ini kami lintasi selama 10 menit perjalanan. Wilayah yang diyakini sebagai pemukiman orang bunian ini ditandai dengan daerah datar dan bersih, lebih kurang 200 meter persegi. Lapangan ini di tengah padatnya rimba.
Namun tak ada sebatang pohon pun yang tumbuh. Gampang sekali menandakan lokasi ini. Di ujung lapangan langsung ditandai dengan pepohonan besar dan rapat.
Vegetasi alamnya sudah mulai berubah drastis. Ukuran pohon yang semula sedang berubah besar dengan diameter 1 sampai 2,5 meter. Atap vegetasi mulai relatif tak bisa ditembusi cahaya matahari.
Selain vegetasi yang berubah, topografi kawasan juga berbeda. Dataran tinggi dan lembah curam mulai mendominasi jalur pendakian. Cukup lama kami menempuh jalur ini hingga ke anak Sungai Sarasah. Lebih kurang 1,5 jam perjalanan baru sampai.
Di sini kami rehat sejenak. Aliran anak sungai ini kami pergunakan untuk mengambil air bersih. Galon kapasitas 5 liter sebanyak dua buah kami penuhkan. Galon ini kami pergunakan untuk cadangan air selama pendakian. Karena hingga ke puncak tak akan ditemui cadangan air bersih.
“Botol masing-masing juga diisi penuh ya. Inilah pembeda Gunung Sago dibanding gunung lainnya. Sumber air sangat sulit,” Dani Fauzi.
Kemudian, ujian terberat dilalui. Sebab, setelah Sarasah langsung menanjak tajam. Kemiringannya berkisar antara 65-80 derajat. Jalurnya cukup panjang. Butuh tenaga ekstra.
Pendaki profesional butuh 1,5 jam menuju pertigaan Sibaladuang dengan jalur Kayu Kolek. Namun karena kami pendaki Penat dan pelet (pendaki nafas tua dan pendaki lelet, red), butuh waktu 2 jam 45 menit.
Berkali-kali waktu istirahat diambil. Rasa-rasanya jalan 10 menit berhenti 3 menit. Berulang-ulang begitu. Selain menanjak tajam, kamipun harus bergelantungan diakar pohon agar bisa berangsur-angsur naik.
“Wuihhh… tanjakannya luar biasa tajam dan berat ya Mby. Harus nanjak dengan ’gigi kecil’ kita ini agar bisa sampai ke posisi puncak,” ujar Azib Fattah Mandala Putra.
Ada perbedaan yang cukup terasa pada etape dua ini. Kalau etape 1 saya lebih unggul dari fisik dan pengalaman maka etape 2 (Sago, red) nak bujang saya lebih tangguh. Selama pendakian menuju Sarasah beliau lebih banyak memotivasi saya agar tetap semangat untuk sampai ke pucak.
Kondisi baru berubah ketika kami mulai masuk tanjakan tajam pasca sarasah. Tanjakan berat dan panjang ini meluluhkan mental Azib. Jadi saya yang lebih banyak memberikan motovasi.
Dari Sarasah kami bergerak pukul 18.00 WIB dan baru sampai dipertigaan pertemuan jalur Sibaladuang-Kayu Kolek pukul 20.30 WIB. Di pertigaan jalur ini kami rehat cukup lama.
Nafas sesak dan kaki pegal harus kami rehatkan. Untuk Menuju puncak harus berjuang keras lagi. Tanjakan kian tajam dan kian berat. Tak terasa hari sudah menunjukan pukul 21.00 WIB. Sudah lebih 9 jam kami berjalan dari Pintu Rimba.
“Beda ya Gunung Sago ini. Walau lebih rendah dari Gunung Talang tapi treknya cukup berat. Jangan terlalu dipaksakan Mby. Kita naik santai saja. Tak apa-apa kalau kita masuk sore di puncak (Camp Area),” ujar Azib.
Sambil bergurau, langkah tetap kami ayunkan. Selangkah demi selangkah kami terus menuju puncak. Untuk menghilangkan kejenuhan kami mencoba istirahat sembari berdiri dan memandang rimbun dan lebatnya hutan belantara.
Kian ke atas tanjakannya kian terasa berat. Berulang kali kami istirahat untuk mengatur nafas. Di sini nafas perokok saya benar-benar diuji.
Tak terasa sudah di ketinggian 2.261 Mdpl. Sudah sampai di Puncak Rabuang. Jam di tangan menunjukan pukul 22.45 WIB. Tenda didirikan. Ke puncak top lanjut besok pagi. (Bersambung…)
Editor : Novitri Selvia