Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dari Ekspedisi ke MT Talamau 2.982 Mdpl: Hujan Deras, Tanjakan Tajam, dan Indahnya Telaga Puti Sangka Bulan (2)

Two Efly • Rabu, 10 September 2025 | 06:00 WIB

Two Efly dan Azib Fattah (survivor) di tepian Telaga Puti Sangka Bulan.
Two Efly dan Azib Fattah (survivor) di tepian Telaga Puti Sangka Bulan.
Rindu Alam alias Seribu Bunyian. Itulah nama yang diberikan warga dan survivor untuk Pos 3 menuju puncak Gunung Talamau. Kawasan ini pada pagi hari disemarakkan oleh bunyi aliran air yang deras, kicauan burung, serta suara binatang lainnya.

Laporan: Two Efly & Azib Fattah Mandala Putra

Perjalanan panjang dari Pos 1 (basecamp) menuju Rindu Alam (Pos 3) benar-benar melelahkan kami. Setelah santap malam dengan lauk rendang, kami mulai merilekskan tubuh yang sudah sangat lelah.

Sebelum memejamkan mata, Azib meminta terapi ulang untuk kedua kakinya. Pemulihan tubuh harus dilakukan cepat karena esok hari kami akan menempuh empat pos lagi.

Dari Rindu Alam, perjalanan dilanjutkan ke Bumi Sarasah (Pos 4), Paninjauan (Pos 5), Padang Siranjano (Telaga Puti Sangka Bulan/Pos 6). Estimasi perjalanan lebih kurang 10 jam.

Secara jarak, dari Rindu Alam ke Padang Siranjano lebih kurang 7 km. Dari sisi ketinggian, perbedaan antara Rindu Alam (1.100 mdpl) dan Padang Siranjano (2.640 mdpl) mencapai 1.450 meter.

Di rute Pos 1 menuju Pos 3 (Harimau Campo – Rindu Alam), kami melintasi hutan basah. Beberapa kali menyebrangi anak sungai.

Menjelang pintu rimba, masih terlihat padi ladang milik warga. Tidak hanya itu, cukup banyak pohon kopi peninggalan Belanda yang tumbuh meninggi di sepanjang jalur.

“Ini kopi peninggalan Belanda, Pak. Memang tidak terawat karena tumbuh liar dari bibit dan indukan yang ditanam pada masa lalu. Di rute ini banyak tumbuhan bernilai ekonomis, mulai dari tanaman obat hingga komoditas ekspor,” ujar salah seorang pendaki.

Menuju Bumi Sarasah

Sabtu pukul 06.00 WIB, Andri selaku leader perjalanan sudah bangun dan menyiapkan konsumsi, mulai dari merebus air hingga memasak nasi.

“Sesuai rencana, kita upayakan berangkat pagi. Karena itu persiapan dilakukan lebih awal. Mudah-mudahan cuaca bersahabat dan perjalanan kita lancar sampai puncak,” ujar Andri, yang juga pegawai Dinas Pariwisata Kabupaten Pasaman Barat.

Pukul 08.30 tim Seven Summit mulai bergerak menuju Bumi Sarasah. Trek berbeda mulai terasa: tanjakan demi tanjakan muncul, pepohonan besar dengan akar menyembul mendominasi jalur. Sesekali masih ada “bonus” jalur landai.

Hujan deras mengguyur separuh perjalanan dari Rindu Alam. Mantel hujan langsung dipasang. Target empat jam menuju Bumi Sarasah tetap dijalankan. Saat hujan makin deras, kami terpaksa membuat tenda darurat dengan terpal parasut. Setelah berteduh 30 menit, perjalanan dilanjutkan.

Setengah jam menjelang camp Bumi Sarasah, kami disuguhi pemandangan air terjun dan sempat berfoto.

Pukul 13.05 WIB, rombongan tiba di Bumi Sarasah (1.800 mdpl). Setelah istirahat hampir 50 menit, memasak, dan packing, pukul 14.45 WIB perjalanan dilanjutkan ke Pos 5 Paninjauan.

Rute Bumi Sarasah – Paninjauan dikenal sebagai jalur terberat pendakian Talamau. Tanjakan curam dengan kemiringan 65–75 derajat membuat tenaga terkuras. Hujan tak kunjung reda, mantel hujan yang sobek tersangkut ranting tetap dipakai. Beberapa titik jalur hanya bisa dilalui dengan berpegangan pada tali yang dipasang pengelola.

Meski hampir menyerah, semangat terus dipompa oleh Andri.
“Selepas tanjakan tajam ini kita sampai Paninjauan, Pak. Jangan lama berhenti. Begitu sesak nafas hilang, kita lanjut. Mudah-mudahan jam 19.00 WIB kita sudah sampai di Pos 5,” ujarnya.

Paninjauan ke Top Tri Martha

Rencana summit Minggu, 7 September 2025, pukul 07.00 WIB tertunda karena hujan deras. Badan yang lelah dan cuaca dingin membuat kami kembali tidur. Sekitar pukul 09.30, perjalanan dimulai menuju Camp Rajawali di tepi Telaga Puti Sangka Bulan.

Perjalanan dari Paninjauan ke Camp Rajawali memakan waktu 75 menit, lalu dilanjutkan 30 menit menuju puncak Tri Martha. Stamina cukup terjaga karena sudah sarapan.

Sekitar 15 menit dari Padang Siranjano, rombongan menemukan Telaga Siuntung Sudah—telaga terdalam dari 13 telaga di puncak Talamau. Airnya mengandung belerang dan tidak bisa dikonsumsi. Tak jauh dari sana ada Telaga Biru, kemudian telaga kecil lainnya, hingga akhirnya terlihat Telaga Puti Sangka Bulan yang legendaris.

“Ini dia telaga legendaris itu, Telaga Puti Sangka Bulan. Keren sekali, meski masih diselimuti kabut,” ucap Azib.

Pukul 11.14 WIB, tim tiba di Puncak Tri Martha. Kabut tebal menutup pemandangan, sehingga harus bertahan lebih dari satu jam sambil menunggu celah cerah. Sesekali terlihat lima telaga dari puncak, di antaranya Telaga Puti Sangka Bulan, Telaga Tapian Puti Mambang Surau, Telaga Siuntung Sudah, Telaga Puti Bungsu, dan Telaga Tapian Sutan Bagindo.

Setelah puas berfoto, perjalanan turun dilanjutkan menuju Telaga Puti Sangka Bulan. Beruntung, kabut menipis sesaat sehingga puncak Tri Martha terlihat jelas di latar belakang.

Pukul 14.15 WIB, rombongan kembali ke Pos 5 Paninjauan, memasak, dan makan siang. Hujan turun lagi, sehingga perjalanan diputuskan di-reschedule.

“Pak, hujan lagi. Kalau kita paksa, turun ke Bumi Sarasah pasti basah kuyup. Lebih baik camp di sini lagi, besok baru lanjut ke basecamp,” kata Andri. (***)

Editor : Hendra Efison
#hujan deras #Tanjakan Tajam #Indahnya Telaga Puti Sangka Bulan #Dari Ekspedisi ke MT Talamau 2982 Mdpl