PADEK.JAWAPOS.COM-Jika tidak berswadaya membuat rakit, mereka akan terisolasi dalam waktu lama.
Itulah yang dipikirkan warga empat korong di Nagari Anduriang, Kecamatan 2x11 Kayutanam, setelah jembatan satu-satunya yang menjadi akses mereka ke pusat kecamatan atau ke jalan nasional Padang-Bukittinggi, putus akibat banjir bandang pada November 2025.
RABU (4/2), dari pagi sampai sore, rakit penyeberangan di Korong Lubuakaua, Nagari Anduriang, Kecamatan 2x11 Kayutanam, tampak terus beroperasi.
Sangat banyak warga antrean menggunakan rakit itu. Pasalnya, memang itulah satu-satunya alat penyeberangan yang dapat mereka gunakan.
Rakit yang terbuat dari drum itu, hasil swadaya masyarakat. Kapasitasnya hanya dapat mengangkut dua sepeda motor dan sekitar lima orang. Rakit dioperasikan dengan cara dipandu menggunakan tali kawat (sling).
Satu warga pemandu berada di atas rakit untuk menarik, beberapa warga berdiri di sisi kiri dan kanan sungai untuk meregang sling dan membantu turun naik warga di atas rakit itu.
“Aktivitas ini dimulai sejak pukul 6 pagi hingga pukul 11 malam,” ujar On Hendri, 64, salah seorang warga yang ikut berswadaya membantu mengoperasikan rakit tersebut, kemarin.
On Hendri mengatakan, keberadaan rakit sangat membantu warga agar tetap lancar aktivitasnya. Mengingat, di sana terdapat sekolah dan kantor.
“Kalau tidak ada rakit ini, sudah lumpuh total akses warga di sini. Makanya, warga inisiatif membuat rakit,” ujar mantan Wali Korong Lubuakaua ini.
Ia menjelaskan, warga yang membantu menjalankan rakit, tidak meminta bayaran atau tarif. Namun, warga yang menggunakan tetap memberi secara suka rela.
“Ya, uang yang dikasih warga itu untuk beli minum warga yang membantu menjalankan rakit, serta untuk membantu dampak-dampak lainnya akibat bencana,” jelas On Hendri.
Apabila kondisi cuaca buruk, semisal hujan lebat, operasional rakit terpaksa dihentikan sebagai antisipasi. Sebab aliran sungai itu sangat deras dan dapat membahayakan apabila rakit tetap beroperasi ketika hujan lebat.
“Tali penyeberangan rakit ini, satunya berada di tengah sungai. Kalau sungai meluap payah warga untuk menyelamatkan diri. Makanya, kalau hujan kita stop beroperasi,” tukasnya.
Deni Yunanda, 34, salah seorang warga yang menggunakan rakit tersebut, merasa sangat terbantu. Mengingat ia setiap pagi memang keluar masuk di sana.
“Saya mengajar di SD. Sebenarnya di sini kampung saya. Tapi saya tinggal di rumah istri di Nagari Katapiang,” ujarnya.
Jika tidak memungkinkan balik ke rumah istrinya di Katapiang, Deni menginap di rumah orangtuanya di Nagari Anduriang itu. “Kalau cuaca buruk tidak mungkin ke Katapiang. Sebab rakit tidak dapat beroperasi,” tambahnya.
Ia sangat berterima kasih kepada masyarakat yang sudah berswadaya secara materi, waktu dan tenaga, agar akses di nagari itu tetap lancar.
“Kalau tidak ada rakit ini, pasti banyak yang lumpuh. Tidak saja ekonomi, tetapi juga pendidikan dan layanan pemerintah nagari,” tukasnya.
Sling Hasil Pinjaman, Kebut JembatanDarurat
Rakit yang digunakan untuk penyeberangan warga itu, memang ada dua. Hanya saja, kawat sling untuk memandu rakit cuma tersedia satu jalur. Itupun hasil peminjaman warga ke pihak kepolisian.
“Sebenarnya bisa dibuat lebih dari dua jalur, cuma kita kekurangan sling. Yang sekarang saja sling kita pinjam,” ungkap Wali Korong Lubuakaua, Rinaldi Azhar.
Katanya, dua rakit yang tersedia salah satunya juga dari pihak kepolisian. “Kalau rakit hasil buatan warga, itu yang dari drum. Sebelum ada bantuan dari kepolisian, rakit buatan warga itu belum seperti sekarang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, awal warga membuat rakit dari drum sangat berat dioperasikan.
Sebab, terlalu banyak kayu yang disusun di atasnya. Saat kepolisian membantu menyediakan rakit, warga pun memodifikasi kembali rakit yang mereka buat sehingga bisa dipakai dengan baik seperti sekarang.
“Jadi rakit drum ini baru sekitar 10 hari lalu kembali digunakan. Sebelumnya kita pakai rakit yang dari pihak kepolisian,” paparnya.
Rinaldi menjelaskan, bergantung sepenuhnya pada rakit tidaklah mudah. Pasalnya, jumlah warga yang membutuhkan rakit setiap harinya sangat banyak. Yakni sekitar 5 ribu orang.
“Di dalamkan ada 4 korong. Yakni Korong Sipisangsipinang, Lubuaknapa, Kampuangtangah, dan Korong Lubuakaua ini,” ucapnya.
Untuk itu, lanjutnya, warga bersama TNI AD dan AL, serta didukung Ormas Aksi Solidaritas Piaman Laweh (Aspila), berswadaya membangun jembatan darurat.
Bagian pondasi jembatan menggunakan batu ronjong dan alas atasnya pakai potongan pohon kelapa.
“Jembatan dadurat ini insya Allah selesai dalam waktu dekat. Jadi, sudah ada infrastruktur penyanggah untuk memperlancar akses warga. Namun, rakit mungkin saja tetap beroperasi, mengumingat ramainya warga yang keluar masuk,” ungkapnya.
Belum Lepas dari Ancaman Luapan Sungai
Pantauan Padang Ekspres, jembatan darurat yang dibangun secara swadaya itu, salah satu sisinya juga berada di tengah aliran sungai. Artinya, besar kemungkinan jembatan juga tidak dapat digunakan apabila aliran sungai meluap akibat hujan deras.
“Semoga tidak terjadi lagi hujan lebat, sehingga jembatan ini aman untuk digunakan nantinya. Kalau secara ketahanan, saya rasa bisa dilalui sepeda motor nantinya,” hemat On Hendri.
Kendati begitu, di lokasi sudah tampak alat berat yang bekerja mengatur aliran sungai. Rinaldi Azhar pun menjelaskan bahwa pihak Hutama Karya Infrastruktur (HKI) juga sudah datang ke sana melakuka survei untuk pembangunan jembatan permanen.
“Kabarnya jembatan permanen dibangun mulai tahun ini juga. Semoga cepat terwujud,” harap Rinaldi.
Menurutnya, infrastruktur yang paling aman bagi warga memang hanya jembatan permanen. Mengingat aliran Batang Anai yang akan diseberangi di sana sangat lebar.
“Kalau jembatan ini siap dibangun tahun ini, mungkin pemulihan dampak bencana yang luas di nagari ini bisa lebih cepat dilaksanakan,” sebut dia.
Menimpali, On Hendri pun berharap agar jembatan di Lubuakaua itu benar-benar menjadi prioritas atau tidak ditunda pekerjaannya.
“Ini satu-satunya akses. Satu-satunya urat nadi ekonomi warga di sini. Semoga menjadi prioritas utama,” tukasnya. (***)
Editor : Novitri Selvia