Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Catatan Ekspedisi Seven Summit West Sumatera ke MT Kerinci (2): Tupai Jinak, Kayu Bolong, dan Guyuran Hujan

Two Efly • Rabu, 29 April 2026 | 06:30 WIB
Azib Fattah MP di titik ikonik Kayu Bolong di jalur pendakian Gunung Kerinci. Lokasi ini dikenal sebagai spot mistis dengan berbagai cerita yang berkembang di kalangan pendaki. (dok pribadi)
Azib Fattah MP di titik ikonik Kayu Bolong di jalur pendakian Gunung Kerinci. Lokasi ini dikenal sebagai spot mistis dengan berbagai cerita yang berkembang di kalangan pendaki. (dok pribadi)

Kamis pagi, 24 April, hawa dingin terasa menusuk tulang di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci. Sisa hujan deras yang mengguyur sejak Rabu malam masih menyisakan kelembapan di tanah dan udara. Kabut tipis menggantung rendah, menyelimuti kaki Gunung Kerinci yang pagi itu tampak bersih dan gagah.

Laporan: Two Efly & Azib Fattah, MP

Seperti biasa, pagi dimulai dengan rutinitas sederhana. Secangkir kopi hangat menemani aktivitas menulis sebelum perjalanan panjang dimulai.

Di kejauhan, aktivitas warga mulai menggeliat. Para pemetik teh beranjak ke ladang, petani menuju kebun. Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya—tenang, teratur, dan bersahaja.

Namun bagi kami, hari itu adalah awal dari sebuah langkah besar. Sekitar pukul 09.00 WIB, tim Seven Summit West Sumatera mulai bergerak menuju R-10 untuk registrasi di pos Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Setelah semua administrasi rampung, perjalanan dilanjutkan menuju pintu rimba (gerbang awal pendakian) menuju atap Sumatera.

Menuju Pintu Rimba

Untuk mencapai pintu rimba, kami memilih menggunakan kendaraan milik warga. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Selain menghemat tenaga, akses kendaraan menuju gerbang pendakian memang sudah menjadi praktik umum bagi para pendaki.

“Untuk menuju pintu rimba kita bisa menggunakan kendaraan warga, Pak. Ini cukup membantu sebelum benar-benar mulai berjalan menuju puncak Gunung Kerinci,” ujar Lihun Alfonso, yang kami daulat sebagai leader tim.

Dalam tim ini, Lihun memimpin jalannya pendakian, sementara Bang Roy mengambil peran sebagai sweeper (penjaga ritme) di barisan belakang. Formasi ini memastikan seluruh anggota tetap dalam satu kendali perjalanan.

Gerbang Lama dan Gerbang Baru

Sebelum benar-benar memasuki jalur hutan, kami melewati dua titik gerbang pendakian. Gerbang lama kini hanya menyisakan jejak berupa bangunan kecil di sisi kanan jalur.

Sekitar 200 meter dari sana berdiri gerbang baru yang lebih kokoh dan representatif sebagai titik awal pendakian resmi.

Gerbang baru ini berdiri megah dengan panjang kurang lebih 10 meter dan tinggi enam meter. Di bagian atasnya tertera tulisan “Gunung Kerinci Alur Pendakian Gunung Kerinci”, diapit logo Kementerian Kehutanan dan TNKS.

Di sisi belakang sebelah kanan terdapat peta jalur pendakian, sedangkan di sisi kiri terdapat dinding besar bertuliskan “Kerinci Seblat International Park” yang kerap menjadi spot foto favorit para pendaki. Ketinggian di titik ini berada di angka 1.810 meter di atas permukaan laut (mdpl).

“Kita akan menempuh perjalanan sekitar empat jam dari pintu rimba ke Shelter 1. Sebelum bergerak, pastikan semuanya aman dan lengkap. Setelah doa bersama, kita langsung menuju Pos 1 Bangku Panjang,” kata Lihun.

Langkah Awal Pendakian

Seperti tradisi yang selalu kami jaga, pendakian diawali dengan doa bersama. Dipimpin langsung oleh Lihun, kami menundukkan kepala sejenak, memohon keselamatan dan kelancaran perjalanan.

Jalur awal menuju Pos 1 yang dikenal sebagai Bangku Panjang relatif landai. Waktu tempuhnya sekitar 30 menit dengan jarak kurang lebih 2 km dari pintu rimba.

“Biasanya jalur ini jadi jalur pemanasan bagi para pendaki. Jangan langsung memaksakan diri. Berjalan santai saja agar otot tidak kaget,” ujar Bang Roy.

Vegetasi hutan masih didominasi pepohonan besar. Tanah hitam yang padat dan lembap menjadi ciri khas hutan basah. Bekas hujan semalam menyisakan genangan kecil di beberapa titik, namun jalur masih aman dilalui.

Pos 1: Bangku Panjang

Bangku Panjang berada di ketinggian 1.889 mdpl. Nama ini merujuk pada bangunan tempat duduk panjang yang tersedia di lokasi tersebut. Selain itu, terdapat pondok permanen yang kerap dimanfaatkan pendaki untuk berteduh saat hujan.

“Tempatnya nyaman. Bisa jadi lokasi istirahat yang ideal,” kata Azib.

Namun kami tidak berlama-lama. Selain jaraknya yang masih dekat dari pintu rimba, kondisi fisik tim juga masih prima. Setelah rehat singkat, perjalanan dilanjutkan.

Pos 2: Batu Lumut

Perjalanan menuju Pos 2 Batu Lumut memakan waktu sekitar 30 menit. Jaraknya sekitar dua kilometer dari Bangku Panjang, dengan ketinggian mencapai 2.020 mdpl. Elevasi antara Bangku Panjang dan Batu Lumut tidak terlalu curam, dengan selisih ketinggian sekitar 131 mdpl.

Jalur mulai berubah. Tanjakan perlahan muncul, diselingi akar-akar pohon yang mencuat dari permukaan tanah. Meski belum terlalu curam, ritme langkah mulai diuji.

“Tadi kita berangkat pukul 10.35 WIB, sekarang 11.05 WIB. Masih sesuai target,” ujar Lihun.

Berbeda dengan Pos 1, Batu Lumut tidak memiliki bangunan permanen. Hanya terdapat batang kayu tumbang dan tumpukan batu berlumut sebagai penanda. Area datarnya pun terbatas sehingga biasanya pendaki tidak berlama-lama di pos ini.

Pos 3: Panorama

Dari Batu Lumut, perjalanan dilanjutkan menuju Pos 3 Panorama dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Jaraknya sekitar dua kilometer dengan ketinggian mencapai 2.225 mdpl.

Di Pondok Panorama terdapat pondok permanen. Namun yang paling menarik bukan bangunannya, melainkan penghuni kecil yang menyambut dengan ramah.

Tupai-tupai liar tampak mendekat tanpa rasa takut. Bahkan, mereka naik ke tubuh pendaki untuk mengambil makanan.

“Jinak sekali ya tupai. Mereka seperti sudah terbiasa dengan manusia,” ujar Azib.

Menurut Lihun, kebiasaan pendaki memberi makan membuat satwa ini beradaptasi dan menjadi akrab dengan manusia.

“Mereka jadi akrab karena sering diberi makan. Tapi kita tetap harus bijak memperlakukannya,” ujar Lihun Alfonso.

Di pos ini juga terdapat rambu keselamatan, termasuk imbauan untuk tidak berkemah.

“Jalur dari Pos 2 hingga Shelter 1 memang tidak direkomendasikan untuk berkemah. Selain hutan padat dan lembap, jalur ini juga merupakan lintasan hewan buas. Selain itu, cerita-cerita mistis juga cukup banyak,” ujarnya.

Menuju Shelter 1: Ujian Dimulai

Perjalanan dari Panorama menuju Shelter 1 menjadi tantangan sesungguhnya. Jaraknya sekitar 1,5 km dengan elevasi cukup tajam. Shelter 1 berada di ketinggian 2.505 mdpl, dengan selisih sekitar 250 mdpl dari Panorama.

Jalur berubah drastis—lebih curam, licin, dan dipenuhi akar pohon besar. Di beberapa titik, kami harus berpegangan untuk menjaga keseimbangan.

Sekitar 30 menit berjalan, kami tiba di titik ikonik: Kayu Bolong.

“Ini salah satu ikon Gunung Kerinci, Pak,” kata Lihun.

Kayu Bolong dikenal sebagai salah satu spot mistis di Gunung Kerinci. Berbagai cerita beredar, mulai dari sosok “nenek tua” hingga fenomena aneh yang sulit dijelaskan.

“Benar atau tidak, yang penting kita tetap menjaga sopan santun dan tidak merusak alam,” ujar Lihun.

Tak lama kemudian, hujan deras turun. Kami segera mengenakan mantel dan melanjutkan perjalanan.

Udara dingin semakin menusuk. Jalur berubah menjadi aliran air. Sepatu dan kaus kaki basah, tubuh diliputi dingin dan lelah.

Namun semangat tak boleh runtuh.

“Lihat itu, shelter sudah dekat. Sekitar 10 menit lagi,” seru Lihun.

Rombongan mulai terpecah menjadi dua kelompok, hal yang lazim dalam pendakian besar karena perbedaan stamina.

Tiba di Shelter 1

Akhirnya, kami tiba di Shelter 1 di ketinggian 2.505 mdpl. Area ini merupakan lokasi perkemahan sebelum melanjutkan ke Shelter 3 dan puncak Indrapura (3.805 mdpl).

“Alhamdulillah, kita sampai. Di sini kita akan bermalam,” ujar Lihun.

Hujan masih turun, dingin masih menggigit. Namun satu hal pasti—etape pertama telah dilewati dengan selamat.

“Tadi kita bergerak pukul 12.15 WIB dari Panorama dan tiba pukul 14.05 WIB. Artinya, hampir dua jam perjalanan. Sedikit molor dari jadwal,” ujar Azib.

(Bersambung)

Editor : Hendra Efison
#ekspedisi Gunung Kerinci #Seven Summit West Sumatra #pendakian Gunung Kerinci #jalur pendakian Kerinci #Shelter 1 Gunung Kerinci