Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mengenal Euphonious: Usung Modern Metal dari Tongkrongan jadi Panggung

Adetio Purtama • Sabtu, 18 April 2026 | 10:32 WIB
Band Euphonious. (DOKUMENTASI PRIBADI)
Band Euphonious. (DOKUMENTASI PRIBADI)

Perjalanan sebuah band tidak selalu dimulai dari studio besar atau label ternama. Bagi Euphonious, semuanya justru berawal dari ide sederhana, yakni sebuah video musik pendek di media sosial yang kemudian berkembang menjadi karya nyata. Seperti apa ceritanya?

Laporan ADETIO PURTAMA, Padang--

Band yang terbentuk pada awal 2024 ini mulai merangkai identitas musikalnya dari nol. Salah satu personel memiliki gagasan untuk mengembangkan potongan video menjadi lagu utuh. Dari situlah proses kreatif dimulai, mulai dari penulisan lirik hingga penyusunan instrumen.

Setelah melalui beberapa kali pengiriman demo, akhirnya lahirlah single pertama mereka bertajuk Brother in Revenge. Lagu tersebut kemudian diuji secara live di studio, yang justru menjadi titik awal produktivitas mereka dalam menciptakan karya-karya berikutnya.

Baca Juga: Tidak Lolos BIMA, Disambut Parodi Dunia Maya

Formasi awal band ini terdiri dari lima personel, yakni Fikri (vokalis), Edo (gitaris), Tom (bass), dan Boby (drum). Seiring perjalanan, mereka menambah satu vokalis tambahan, Ari, yang berperan sebagai backing vocal untuk memperkaya warna musik mereka.

Nama Euphonious sendiri memiliki makna yang cukup filosofis. Secara harfiah berarti “merdu”, berasal dari konsep euphony, yakni perpaduan bunyi yang enak didengar. Nama tersebut dipilih sebagai representasi dari visi musikal mereka yang ingin menghadirkan harmoni di tengah kerasnya genre yang diusung.

Sejak awal, Euphonious konsisten mengusung genre modern metal. Mereka mengaku terinspirasi oleh sejumlah band internasional seperti Architects, I Prevail, dan Lost Souls Movement, yang menjadi referensi dalam mengembangkan karakter musik mereka.

Baca Juga: Unand Perkuat Koordinasi dan Strategi Branding di Era Digital

“Genre ini menantang sekaligus menarik bagi kami. Dari sini kami bisa terus mengeksplorasi ide-ide baru dalam bermusik,” ungkap salah satu personel.

Hingga saat ini, Euphonious telah merilis sebuah EP yang berisi beberapa lagu seperti Dissension, Holy War, Brother in Revenge, Trap in the System, dan Let Me Burn. Tak berhenti di situ, mereka juga baru saja merilis single terbaru berjudul Skeptic yang menandai konsistensi mereka dalam berkarya.

Secara tematik, lagu-lagu Euphonious banyak mengangkat isu konflik batin, ketakutan terhadap perubahan iman, kritik terhadap hipokrisi, hingga perjuangan mempertahankan kebenaran dan kebebasan diri. Tema-tema tersebut menjadi benang merah yang memperkuat identitas mereka sebagai band dengan pesan yang kuat.

Baca Juga: Pernah Jemput Langsung Pelajar Berpotensi yang Terkendala Biaya

Meski demikian, mereka mengakui tantangan terbesar saat ini adalah menciptakan lagu yang dapat diterima oleh berbagai kalangan tanpa kehilangan karakter khas mereka.

Dalam hal pengalaman panggung, Euphonious terbilang aktif. Sejak awal berdiri, mereka telah tampil di berbagai kota di Sumatera Barat seperti Payakumbuh, Bukittinggi, dan Padang. Salah satu momen paling berkesan adalah saat tampil di iven musik “Roar on Friday” di Fabriek Padang.

“Di sana kami pertama kali benar-benar merasakan musik kami diterima. Sound yang bagus dan dukungan penonton menjadi pengalaman yang tidak terlupakan,” ujar mereka.

Baca Juga: Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Tumbangkan Pohon Setinggi 15 Meter di Padang

Perkembangan platform digital juga menjadi faktor penting dalam perjalanan band ini. Mereka memanfaatkan media digital untuk mempromosikan karya agar dapat menjangkau pendengar lebih luas. Meski demikian, mereka tetap melihat rilisan fisik seperti kaset dan piringan hitam sebagai sesuatu yang bernilai, terutama sebagai arsip karya.

Menilai perkembangan skena musik di Sumatera Barat, Euphonious menyebut kondisi saat ini semakin positif. Sekitar 85 persen gigs dinilai sudah berpihak pada musisi lokal, dengan pertumbuhan yang pesat dari tahun ke tahun.

“Skena musik di Sumbar sekarang lebih berwarna dan inklusif, tidak hanya terpusat di satu wilayah saja,” ungkap mereka.

Baca Juga: Hadiri KPPD Lemhannas, Bahas Sinkronisasi Program Pusat-Daerah

Namun, untuk menembus pasar nasional, Euphonious menilai masih dibutuhkan wadah yang mampu menampung berbagai genre musik lokal agar dapat berkembang lebih luas.

Ke depan, band ini berencana merilis beberapa single baru sepanjang tahun 2026, serta menghadirkan merchandise sebagai bagian dari penguatan identitas mereka di industri musik.

Di tengah segala dinamika yang ada, Euphonious hanya memiliki satu harapan sederhana untuk dunia musik Sumatera Barat: tetap produktif. (*)

Editor : Adetio Purtama
#Euphonious #band modern metal #band asal padang #sumbar #tongkrongan