Media Massa Relation Nan Tumpah, Ivan Harley, menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan hari ini dimulai dengan pameran yang dibuka sejak pukul 10.00 WIB. Pameran itu dilanjutkan dengan pelatihan kerajinan bertajuk
“Membuat Gelang Tali Giok dan Strap HP” yang dipandu oleh Pelita Padang bersama Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI). Sementara itu, di waktu yang sama, panggung eksibisi turut diramaikan dengan penampilan TJDM Performance dari Manajemen Talenta Nasional (MTN) yang mengangkat tema “Tentang Jika dan Maka”.
Sorotan utama sore ini, lanjut Ivan, akan datang dari SMA Negeri 2 Batang Anai yang mempersembahkan tari tradisional berjudul “Manimbo Aia” pada pukul 16.00 WIB. Penampilan itu akan disusul oleh tari kreasi Nias dari Keluarga Besar Mendrofa Padang (KBMP).
“Agenda malam harinya akan diisi dengan pemutaran film pada pukul 19.00 WIB, lalu dilanjutkan pertunjukan Trikona Resonansia oleh Bandar Kertas Buram pada pukul 20.00 WIB. Sebagai penutup hari keenam, kelompok seni Kata Gerak akan menampilkan karya Hamparan Kain Jemuran dalam Suatu Perjalanan,” jelas Ivan, Jumat (29/8).
Sementara itu, sehari sebelumnya, tepatnya pada Kamis (28/8), hujan deras sempat mengguyur lokasi acara. Kondisi ini membuat beberapa agenda mengalami penyesuaian, termasuk pemindahan lokasi pertunjukan eksibisi ke panggung belakang. Meski begitu, antusiasme pengunjung tidak surut.
Pada hari kelima, pelatihan Turuk Laggai dari Komunitas Sinuruk Mattaoi berlangsung pukul 13.30 WIB, diikuti gelar wicara bertajuk “Ikon Inspirasi: Kolaborasi Seni Lintas Media” bersama Siko Setyanto dari MTN yang sukses menarik sekitar 100 peserta. Dalam kesempatan itu, Siko berbagi pengalaman mengenai proses kreatif dan perjalanan seninya yang penuh inspirasi.
Di Panggung Eksibisi, SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping tampil dengan pertunjukan “Bulek Kato Anak Nagari”, disusul oleh grup Tonel Bahasa Tangsi Sikalang yang membawakan “Murat-Marit Asik”. Meski pemutaran film terpaksa dibatalkan akibat kondisi lokasi yang basah, malam tetap semarak dengan dua pertunjukan seni: “Dukhakala Vol. 2” karya Kurniadi Ilham serta “Nilam Sati” oleh kelompok seni Kamarkost.
Koordinator Ruangtemu untuk Panggung Eksibisi, Tenku Raja, menyebut bahwa hujan yang turun pada hari kelima merupakan kejutan pertama selama penyelenggaraan Pekan Nan Tumpah 2025.
“Namun kami sudah menyiapkan rencana cadangan. Yang menarik, penonton tetap bertahan dan menikmati pertunjukan meski diguyur hujan,” ujarnya.
Dengan hanya menyisakan satu hari menuju penutupan, Pekan Nan Tumpah 2025 semakin menegaskan posisinya sebagai ajang kolaboratif yang memadukan seni, budaya, dan kreativitas lintas komunitas. Dari pertunjukan tari, teater, musik, hingga pelatihan kerajinan, seluruh rangkaian acara menggambarkan semangat kebersamaan yang kuat di tengah masyarakat.
Pekan Nan Tumpah bukan hanya sekadar festival seni, tetapi juga ruang pertemuan yang mempertemukan ide-ide kreatif dari berbagai latar belakang. Kehadiran komunitas seni, pelajar, hingga kelompok disabilitas menjadikan kegiatan ini semakin inklusif dan penuh warna.
“Semangat inilah yang membuat Pekan Nan Tumpah tetap hidup dan relevan, bahkan di tengah berbagai tantangan seperti perubahan cuaca. Kreativitas dan kolaborasi menjadi napas utama dari seluruh rangkaian acara,” pungkas Ivan. (cr1)
Editor : Adetio Purtama