Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Indonesia Siap Kirim Pasukan ke Gaza: Mikrofon Dimatikan, Kemenlu Sebut Pesan Presiden Sudah Tersampaikan

Novitri Selvia • Rabu, 24 September 2025 | 10:45 WIB

SAMPAIKAN PANDANGAN: Presiden Prabowo Subianto berpidato di KTT Penyelesaian Damai atas Masalah Palestina dan Implementasi Solusi Dua Negara di Sidang Umum PBB di New York (22/9).
SAMPAIKAN PANDANGAN: Presiden Prabowo Subianto berpidato di KTT Penyelesaian Damai atas Masalah Palestina dan Implementasi Solusi Dua Negara di Sidang Umum PBB di New York (22/9).

PADEK.JAWAPOS.COM-Amerika Serikat (AS) mendorong Indonesia dan sejumlah negara lain untuk mengirim pasukan perdamaian ke Jalur Gaza.

Tujuannya, menjaga stabilitas, memastikan pemakaian dana rekonstruksi efektif, serta mendukung program transisi dan pembangunan kembali wilayah yang dihancurkan Israel sejak Oktober dua tahun lalu.

Tentunya pengiriman itu baru bisa dilakukan setelah Israel menghentikan serbuan ke wilayah Palestina itu. Poin-poin itulah yang bakal didiskusikan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pemimpin negara muslim atau berpenduduk mayoritas muslim.

Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung Selasa (23/9) waktu New York atau Rabu (24/9) WIB di sela Sidang Umum PBB.

Mengutip Channel News Asia, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut, negara-negara yang diundang adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Mesir, Jordania, Turki, Pakistan dan Indonesia. Dalam kesempatan itu, Trump akan menyampaikan proposal pascakonflik Gaza.

“Di dalamnya termasuk dorongan pembebasan sandera, penghentian perang, serta rencana penarikan pasukan AS dari wilayah Israel,” kata Leavitt.

Prabowo menyatakan, kesiapan Indonesia mengirim pasukan perdamaian ke Gaza. “Kami siap menjadi bagian dari perjalanan menuju perdamaian,” katanya dalam pidato di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Penyelesaian Damai atas Masalah Palestina dan Implementasi Solusi Dua Negara yang menjadi salah satu agenda di Sidang Umum PBB tahun ini.

Dia menambahkan, satu-satunya jalan menuju perdamaian adalah melalui solusi dua negara. “Indonesia kembali menegaskan komitmennya terhadap solusi dua negara. Hanya solusi ini yang dapat membawa perdamaian sejati,” katanya.

Lebih lanjut, Prabowo mengulangi, apa yang pernah dia nyatakan beberapa bulan lalu tentang kesiapan Indonesia mengakui Israel sebagai negara, dengan syarat Israel harus lebih dulu mengakui negara Palestina secara penuh.

Sementara itu, draf yang akan dibahas Trump bersama sejumlah kepala negara dan kepala pemerintahan yang diundang tadi, menurut Al Jazeera, tidak melibatkan campur tangan Israel. Namun, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu disebut mengetahuinya.

Seperti sebelumnya, AS menegaskan, tak ingin Hamas terlibat dalam proses transisi ini. Hamas kelompok yang berkuasa di Gaza dan sampai sekarang masih menyandera sejumlah warga Israel setelah melakukan penyerbuan ke wilayah Negeri Yahudi tersebut pada 7 Oktober 2023.

Kutuk Kekerasan

KTT untuk Penyelesaian Damai Palestina dan Implementasi Solusi Dua Negara digelar di Majelis Umum PBB dan dipimpin bersama oleh Perancis dan Arab Saudi.

Forum itu menjadi ajang penting untuk meneguhkan kembali komitmen global terhadap penyelesaian konflik Palestina secara damai.

Indonesia hadir sebagai salah satu anggota inti (core group) yang aktif mendorong solusi damai. Menurut Prabowo, kehadiran Indonesia bukan sekadar simbolik, tetapi bentuk konsistensi dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina.

“Ribuan nyawa tak berdosa, banyak di antaranya perempuan dan anak-anak, telah terbunuh. Kelaparan mengancam. Bencana kemanusiaan sedang terjadi di depan mata kita. Kami mengutuk semua tindakan kekerasan terhadap warga sipil tak berdosa,” tegas Prabowo yang tadi malam juga kembali berpidato dalam Sidang Umum PBB.

Prabowo mengapresiasi negara-negara yang telah mengakui Palestina, seperti Perancis, Kanada, Australia, Inggris dan Portugal. “Pengakuan Negara Palestina adalah langkah yang tepat di sisi sejarah yang benar. Bagi mereka yang belum bertindak, kami katakan: sejarah tidak akan berhenti,” ujarnya.

Lebih dari 5 Menit

Sementara itu, terkait insiden mikrofon Presiden Prabowo yang tiba-tiba mati dalam sesi pidatonya di KTT, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) memastikan bahwa hal itu tak lantas membuat pesan yang disampaikan tidak tersampaikan. Para kepala negara dan pemerintahan yang hadir memahami dan mengamini apa yang disampaikan presiden.

Direktur Informasi dan Media Kemenlu Hartyo Harmoko menjelaskan, terdapat rule of procedure dalam penyampaian pidato di sesi tersebut. Setiap negara mendapat kesempatan 5 menit. Sehingga, apabila pidato lebih dari 5 menit, mikrofon akan dimatikan.

“Meski mikrofon dimatikan, pidato Presiden Prabowo masih jelas terdengar oleh para delegasi di General Assembly Hall,” ungkapnya. (lyn/mia/ttg/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#Leavitt #donald trump #prabowo subianto #ktt #mikrofon mati #palestina - israel