PADEK.JAWAPOS.COM-DARI empat peledak yang dibawa terduga pelaku peledakan di SMAN 72 Jakarta Utara, tiga di antaranya gagal meledak. Sedangkan empat lainnya menyalak di dua titik.
“Untuk jenisnya telah diketahui,” kata Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri AKBP Mayndra Eka Wardhana di Jakarta kemarin (10/11), tanpa membeberkan lebih lanjut apa saja jenis peledak yang dimaksud.
Densus 88 juga terus mendalami dan menelusuri dugaan keterkaitan antara terduga pelaku peledakan saat salat Jumat (7/11) pekan lalu yang menyebabkan puluhan korban terluka itu dengan jaringan teror.
Sejumlah aspek dianalisis, termasuk motif serta aktivitas media sosial dari terduga pelaku.
“Hal itu untuk menelusuri kemungkinan pelaku pernah bergabung dalam grup atau komunitas daring yang memiliki afiliasi dengan kelompok teror tertentu,” kata Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombespol Budi Hermanto.
Dalam penanganan kasus ini, kepolisian juga memperhatikan aspek perlindungan anak. Sebab, baik korban maupun terduga pelaku sama-sama masih berstatus anak. Untuk itu, Polri menggandeng Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) serta tim trauma healing.
Sementara itu, kondisi terduga pelaku yang dirawat di Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih, Jakarta Pusat, sudah membaik. Itu terjadi setelah siswa SMAN 72 itu, yang sempat kritis, menjalani operasi.
“Tapi, tentu belum bisa dilakukan upaya-upaya yang mengarah kepada pendalaman informasi,” kata Ketua KPAI Margaret Aliyatul Maimunah setelah menjenguk terduga pelaku di RSIJ Cempaka Putih, Jakarta Pusat, kemarin (10/11).
KPAI lanjutnya, tidak punya kewenangan penyidikan. Pihaknya bertugas mendampingi proses pemulihan psikologis anak bersama kepolisian.
Selain terduga pelaku, di rumah sakit yang sama juga tengah dirawat 13 korban. Kondisi mereka juga berangsur membaik.
Menurut Direktur RSIJ Cempaka Putih Jakarta Pusat Pradono Handojo, dari 13 orang tersebut, dua di antaranya masih di ruang ICU dan HCU, sementara 11 lainnya berada di kamar rawat inap. Kondisi mereka sudah semakin membaik dibandingkan pada awal kedatangannya ke rumah sakit tersebut.
Pradono menjelaskan bahwa secara umum korban yang masih dirawat mengalami trauma pada daerah pendengarannya. Itu disebabkan oleh suara ledakan yang terjadi.
Bahkan, lanjut dia, ada korban yang gendang telinganya bolong total, sehingga pihaknya akan terus mengawasi pasien tersebut.
“Mudah-mudahan dalam dua minggu ini akan sembuh sendiri. Namun, kalau tidak, akan ada rencana tindak lanjut,” katanya. (idr/ttg/jpg)
Editor : Novitri Selvia