Meski berada di bawah target pemerintah, Bank Dunia menilai perekonomian Indonesia tetap berada pada jalur yang relatif stabil.
Dalam laporan Foundations for Digital Growth edisi Desember 2025, lembaga internasional itu menyebut ekonomi Indonesia masih cukup tangguh di tengah berbagai tekanan global.
“Perekonomian Indonesia diperkirakan tetap resilien dengan profil risiko yang relatif berimbang,” ucap Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste Carolyn Turk di Jakarta kemarin (16/12).
Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026–2027 akan ditopang oleh peningkatan investasi secara bertahap. Dukungan tersebut berasal dari investasi negara melalui Danantara, pelonggaran kebijakan moneter untuk mendorong kredit sektor swasta, serta aliran penanaman modal asing (PMA).
Di sisi lain, inflasi yang relatif rendah dan stimulus fiskal diperkirakan tetap menopang konsumsi rumah tangga. Namun, kontribusi konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi dinilai mulai menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Penurunan pendapatan masyarakat, khususnya kelas menengah, menjadi salah satu faktor yang membatasi dorongan konsumsi,” imbuhnya.
Ke depan, inflasi diperkirakan tetap berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia (BI), yakni 2,5 persen plus minus 1 persen. Kendati demikian, volatilitas harga pangan dan energi masih menjadi tantangan utama.
Sementara itu, Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual menilai 2026 akan menjadi periode penentuan bagi perekonomian Indonesia. Hal itu seiring pemerintahan baru mulai memasuki fase operasional penuh setelah melalui masa konsolidasi sepanjang 2025.
“Kalau 2025 itu masa konsolidasi pemerintahan baru, banyak penyesuaian. Nah, 2026 diharapkan mesinnya sudah mulai running,” katanya.
David menyebutkan, kinerja ekonomi RI sepanjang 2025 justru melampaui ekspektasi banyak lembaga global yang sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan di kisaran 4,7–4,8 persen.
Indonesia bahkan mencatat pertumbuhan lebih baik dibanding sejumlah negara tetangga dan Amerika Serikat. Salah satu penopang utama adalah kontribusi ekspor yang meningkat signifikan.
“Tertundanya pemberlakuan tarif Trump ini blessing in disguise. Banyak negara, termasuk Indonesia, justru ditopang oleh ekspor. Di kuartal III, kontribusi net export kita di atas 2 persen,” ujarnya. (*)
Editor : Adetio Purtama