PADEK.JAWAPOS.COM-Momentum Ramadhan dan Idul Fitri menjadi tumpuan untuk mendongkrak konsumsi rumah tangga pada kuartal I 2026. Namun, pekerjaan rumahnya tidak ringan.
Daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah dan bawah, perlu dijaga di tengah tren tabungan yang masih melemah.
Data terbaru Office of Chief Economist Bank Mandiri menunjukkan, tingkat tabungan masyarakat per pertengahan Februari 2025 memang mulai membaik dibanding Januari 2025. Meski begitu, tren pelemahan belum sepenuhnya terhenti.
Laporan Daily Economic and Market menyebutkan, secara umum, tingkat tabungan seluruh kelompok tercatat lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu.
Tabungan kelompok menengah menjadi yang terendah sejak Oktober 2022 atau dalam 29 bulan terakhir.
“Kondisi tersebut menjadi alarm bagi upaya menjaga konsumsi domestik. Apalagi, konsumsi rumah tangga selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro di Jakarta kemarin (25/2).
Di sisi lain, geliat belanja mulai terlihat. Berdasarkan data Mandiri Spending Index (MSI) per pertengahan Februari 2025, belanja masyarakat meningkat 2,3 persen dibanding akhir Januari 2025.
Sebelumnya, belanja sempat mengalami normalisasi setelah puncak akhir tahun 2024. Pada awal 2025, belanja turun 6,8 persen dari posisi tertinggi akhir tahun.
Namun, penurunan ini lebih landai dibanding periode normalisasi awal 2024 yang mencapai 14,5 persen.
Ramadhan yang jatuh lebih dekat ke awal tahun membuat fase penurunan hanya berlangsung singkat. Setelah itu, belanja kembali menanjak seiring persiapan menyambut bulan suci.
Secara wilayah, kenaikan belanja paling terasa di Jawa dengan pertumbuhan 3 persen dibanding akhir Januari 2025. Sumatra menyusul 1,3 persen, Kalimantan 1,0 persen, dan Sulawesi 0,4 persen.
Sebaliknya, Bali dan Nusa Tenggara stagnan, Maluku dan Papua masih melanjutkan tren normalisasi dengan penurunan 3,3 persen.
Khusus Bali dan Nusa Tenggara, pola historis menunjukkan lonjakan belanja biasanya terjadi saat libur Idul Fitri dan musim libur sekolah, yakni sejak Juni hingga awal Oktober.
“Dari sisi sektor, kenaikan belanja paling menonjol terjadi pada kelompok barang konsumsi dan mobilitas. Subkelompok supermarket mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 5 persen,” imbuhnya.
Sementara itu, sektor transportasi udara melonjak 30 persen dan transportasi darat tumbuh 4,8 persen. Kenaikan ini erat kaitannya dengan persiapan mudik dan libur Idulfitri di akhir Maret.
Sebaliknya, belanja untuk olahraga, hobi, dan hiburan justru terkontraksi paling dalam, turun 8,1 persen.
“Stabilitas harga serta penciptaan lapangan kerja dinilai penting agar konsumsi tetap terjaga,” pungkasnya. (mim/dio/jpg)
Editor : Novitri Selvia