Pernyataan ini disampaikan setelah Inggris gagal menghindari tarif yang diberlakukan secara global oleh AS.
Trump menetapkan tarif sebesar 10 persen terhadap semua ekspor Inggris ke AS, sebagai bagian dari kebijakan tarif yang lebih luas.
Negara-negara lain, termasuk Uni Eropa, juga dikenai tarif lebih tinggi, yaitu sebesar 20 persen.
Dalam pernyataannya seperti dilansir dari Independent, Trump menyebut kebijakan tersebut sebagai tindakan resiprokal.
Gedung Putih dalam pernyataan resmi menegaskan bahwa Inggris masih memberlakukan standar non-ilmiah yang sangat membatasi ekspor produk daging sapi dan unggas berkualitas tinggi dari AS.
Larangan terhadap ayam yang dicuci klorin disebut sebagai salah satu “hambatan non-tarif” utama yang mengganggu akses perdagangan bagi produk pangan AS.
Ayam klorin, atau chlorinated chicken, merujuk pada produk unggas yang dicuci atau direndam dalam air yang mengandung klorin dioksida guna membunuh bakteri.
Meskipun klorin dalam dosis kecil dianggap tidak berbahaya, para kritikus berpendapat bahwa praktik ini menandakan lemahnya standar kebersihan selama proses produksi awal di AS.
Inggris selama ini menolak impor ayam cuci klorin karena alasan kesehatan, dan pada Kamis lalu, Downing Street kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga standar pangan tinggi sesuai dengan manifesto pemerintah.
Ketika ditanya apakah Inggris mungkin akan mengubah sikapnya guna menyenangkan pihak AS, juru bicara resmi Perdana Menteri menyatakan,
“Posisi kami tetap sama. Anda dapat melihat komitmen kami dalam manifesto terkait standar pangan, dan hal itu tidak berubah.”
Sebelumnya, pada November lalu, Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves juga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan petani Inggris dirugikan oleh perbedaan aturan dan regulasi dari negara lain.(*)
Editor : Heri Sugiarto