Ia menggantikan Shigeru Ishiba, setelah memenangkan mayoritas suara di Majelis Tinggi dan Majelis Rendah, didukung oleh Partai Demokratik Liberal (LDP) dan anggota parlemen lainnya, termasuk Partai Inovasi Jepang.
Takaichi segera membentuk pemerintahan koalisi baru dengan kabinet beranggotakan 19 orang.
Beberapa menteri yang ditunjuk berasal dari mantan pesaingnya. Koizumi Shinjiro, lawan utamanya, ditunjuk sebagai menteri pertahanan. Hayashi Yoshimasa menjabat menteri dalam negeri dan komunikasi, sementara mantan Sekretaris Jenderal LDP Motegi Toshimitsu menjadi menteri luar negeri.
Katayama Satsuki akan menjadi perempuan pertama yang menjabat menteri keuangan Jepang. Sebelumnya ia pernah menjabat menteri revitalisasi regional.
Dalam konferensi pers Selasa malam, Takaichi menyatakan bahwa pemerintahannya menghadapi “awal yang sulit,” namun ia siap menghadapi tantangan tersebut.
“Kabinet ini adalah kabinet yang memiliki tekad dan kemajuan. Bersama rakyat Jepang, kami akan melaksanakan setiap kebijakan, langkah demi langkah, inci demi inci," ujarnya, dilansir The Japan Times.
Terpilihnya Takaichi sebagai perdana menteri dinilai akan mengurangi hambatan psikologis bagi perempuan untuk memasuki kehidupan publik. "Ada makna penting bagi Takaichi untuk menjadi perdana menteri, dengan dampak yang lebih luas bagi masyarakat," ujar Naomi Koshi, yang menjadi wali kota perempuan termuda di Jepang pada tahun 2012 di usia 36 tahun, kepada kantor berita Kyodo.(*)
Editor : Heri Sugiarto