Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Virus Oropouche Picu Kematian di Brasil: Kenali Gejala dan Cara Pencegahannya

Heri Sugiarto • Senin, 29 Juli 2024 | 22:42 WIB

Oropouche ditularkan melalui vektor, terutama gigitan agas (Culicoides Paraensis) dan nyamuk Culex Quinquefasciatus.(Foto: Bild: crewcut/stock.adobe.com)
Oropouche ditularkan melalui vektor, terutama gigitan agas (Culicoides Paraensis) dan nyamuk Culex Quinquefasciatus.(Foto: Bild: crewcut/stock.adobe.com)
PADEK.JAWAPOS.COM-Kementerian Kesehatan Brasil telah mengonfirmasi kematian pertama di dunia akibat virus Oropouche pada Kamis (25/7/2024).

Dua wanita berusia di bawah 30 tahun dari negara bagian Bahia, timur laut Brasil, menjadi korban dari virus ini. Kedua pasien menunjukkan gejala yang mirip dengan demam berdarah yang parah.

Hingga saat ini, belum ada laporan dalam literatur ilmiah dunia mengenai kematian yang disebabkan oleh penyakit ini.

Brasil saat ini sedang menyelidiki kemungkinan penularan OROV dari ibu hamil ke anak.

Sebelumnya, selama wabah di Manaus pada 1980-1981, infeksi OROV diamati pada sembilan wanita hamil, dua di antaranya mengalami keguguran.

Demam Oropouche pertama kali terdeteksi di Brasil pada tahun 1960, dan sejak itu, kasus-kasus lainnya telah tercatat, terutama di wilayah Amazon dan negara-negara Amerika Latin lainnya. Hingga Juli 2024, Brasil telah melaporkan 7.236 kasus.

Pada Juli tahun ini, Organisasi Kesehatan Pan Amerika (PAHO) mengeluarkan peringatan epidemiologi terkait peningkatan kasus virus Oropouche (OROV) yang dilaporkan di lima negara di Kawasan Amerika: Brasil, Bolivia, Peru, Kuba, dan Kolombia.

Virus Oropouche (OROV) adalah arbovirus dari famili Peribunyaviridae, pertama kali terdeteksi pada tahun 1955 di dekat Sungai Oropouche di Trinidad.

Pada awal Maret 2024, Peru telah melaporkan 146 kasus, jumlah tertinggi sejak negara itu mencatat kasus pertamanya tahun 2016. Infeksi terbaru dilaporkan di departemen Loreto, Ucayali, dan Madre de Dios, semuanya di bagian timur, yang berbatasan dengan wilayah terdampak di Brasil.

Oropouche ditularkan melalui vektor, terutama gigitan agas (Culicoides paraensis) dan nyamuk Culex quinquefasciatus. Penyakit ini menyebar antarmanusia melalui serangga tersebut.

Gejala Oropouche meliputi demam mendadak, sakit kepala, sendi kaku, nyeri, dan dalam beberapa kasus, fotofobia, diplopia (penglihatan ganda), mual, dan muntah terus-menerus.

Gejala biasanya berlangsung selama lima hingga tujuh hari. Meskipun kasus parah jarang terjadi, infeksi dapat menyebabkan meningitis aseptik. Pemulihan penuh bisa memakan waktu beberapa minggu. Kebanyakan penderita pulih tanpa efek jangka panjang.

Demam Oropouche dapat menyerang orang dari segala usia dan sering kali disalahartikan sebagai demam berdarah.

Oropouche dikonfirmasi melalui uji laboratorium. Saat ini, belum ada tes cepat yang tersedia, serta belum ada pengobatan atau vaksin khusus untuk demam Oropouche.

Pengobatan yang tersedia bersifat suportif, seperti istirahat, pemberian cairan, dan obat pereda nyeri.

Langkah pencegahan meliputi penggunaan kelambu berjaring halus, pakaian yang menutupi tubuh, dan obat nyamuk dengan kandungan DEET, IR3535, atau icaridin. Kelambu tradisional tidak efektif terhadap gigitan agas yang berukuran kecil.

Para pengunjung yang bepergian ke daerah yang terkena dampak disarankan untuk mengambil langkah-langkah pencegahan dan menghindari gigitan serangga.

Jika mengalami gejala seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, sendi kaku, mual, muntah, menggigil, atau sensitif terhadap cahaya selama atau setelah perjalanan, disarankan untuk segera mencari perawatan medis.

Penelitian Oropouche

Berdasarkan penelitian Molecular Epidemiology of Oropouche Virus, Brasil-PMC tahun 2011, Oropouche Virus adalah penyebab demam Oropouche.

Virus ini adalah arbovirus yang menyebar luas di Amerika Selatan dengan lebih dari 30 epidemi dilaporkan di Brasil dan negara-negara Amerika Latin lainnya antara tahun 1960–2009.

Analisis molekuler menunjukkan bahwa OROV telah ada di Brasil sekitar 223 tahun yang lalu dan memiliki beberapa genotipe, di mana genotipe I adalah yang paling dominan dan bertanggung jawab atas penyebaran virus.

Ada setidaknya tiga genotipe OROV yang dikenal, dan studi menunjukkan kemungkinan penyebaran genotipe baru ke daerah yang lebih padat penduduk di Brasil tenggara.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#kesehatan #Oropouche #virus #demam Oropouche #kematian pertama di dunia #nyamuk #virus Oropouche #wabah #tips kesehatan #brasil #Penyebaran penyakit