Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SDN 60 Payakumbuh, Optimalisasi PID dan Pembelajaran Mendalam pada Materi Wawancara Bahasa Indonesia Kelas IV SD

Novitri Selvia • Kamis, 11 Desember 2025 | 06:10 WIB
DIGITALISASI PEMBELAJARAN: Pemanfaatan digitalisasi pembelajaran dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD Negeri 60 Payakumbuh.
DIGITALISASI PEMBELAJARAN: Pemanfaatan digitalisasi pembelajaran dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD Negeri 60 Payakumbuh.

PADEK.JAWAPOS.COM-Era globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang pesat, kemampuan berbahasa dan bernalar menjadi kompetensi kunci yang diperlukan untuk menghadapi perubahan sosial dan budaya.

Apalagi bahasa Indonesia dalam skala internasional diakui sebagai bahasa resmi ke-10 dalam Sidang Umum UNESCO sejak 20 November 2023.

Mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah disiplin ilmu yang mengembangkan kemampuan murid dalam berkomunikasi secara kritis dan kreatif baik secara lisan maupun secara tertulis.

Kemampuan berbahasa merupakan fondasi dari kemampuan literasi. Semua bidang kehidupan menggunakan kemampuan literasi. Mata pelajaran Bahasa Indonesia mendukung pemahaman konsep pada mata pelajaran lainnya.

Untuk saat ini tentunya pemanfaatan digitalisasi sangat mendukung dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan teks digital, literasi media dan informasi untuk menguatkan keterampilan berbahasa murid.

Pemanfaatan digitalisasi pembelajaran dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dilakukan pada materi wawancara kelas IV di SD Negeri 60 Payakumbuh.

Pemanfaatan digitalisasi ini pun sejalan dengan menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam.

Untuk materi ini setelah guru melakukan kolaborasi inkuiri dengan guru kelas tinggi, maka diupayakan pembelajaran yang dilakukan secara kontekstual dengan mengoptimalkan keterampilan berkomunikasi murid dalam melakukan praktek wawancara.

Guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran mendalam dengan memperhatikan tiga prinsip pembelajaran mendalam yaitu berkesadaran, bermakna dan mengembirakan. Kemudian memperhatikan tiga pengalaman belajar murid yaitu memahami, mengaplikasi dan merefleksikan.

Pemanfaatan digital dimulai guru dengan merancang RPPM ini melalui aplikasi Canva, menyiapkan bahan ajar dengan menggunakan storybook yang dibuat melalui aplikasi Gemini AI, menemukan video praktek pembelajaran di youtube dan game interaktif yang dibuat sendiri guru melalui Canva Code.

Kemudian guru mengidentifikasi aset sekolah yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran ini yaitu dengan melibatkan mitra belajar siswa kelas VI untuk membantu siswa kelas IV dalam praktek wawancara. Adapun guru menggunakan model pembelajaran sintaks Problem Based Learning.

Adapun kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru yaitu guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan dimensi profil lulusan yang diharapkan dapat dimiliki oleh murid nantinya setelah pembelajaran dilakukan, kemudian guru memberikan berbagai bahan ajar yang salah satunya adalah cerita praktek wawancara dalam bentuk storybook, kemudian guru menanyakan video praktek wawancara dan memberikan tiga pertanyaan pemantik terkait dengan video yang ditayangkan.

Pada tahap berikutnya guru memberikan game permainan interaktif open the box terkait materi wawancara. Murid dapat mengklik kotak secara interaktif melalui papan interaktif digital.

Pada langkah pembelajaran berikutnya adalah murid dikelompokkan untuk menguatkan dimensi kolaborasi dalam kelompok, murid dikelompokkan sesuai dengan asesmen awal yang telah dilakukan murid sehigga guru akan memberikan pendampingan yang tepat untuk murid.

Murid diberikan LKPD untuk belajar merancang pertanyaan–pertanyaan yang akan digunakan untuk melakukan wawancara nantinya dengan menggunakan metode pertanyaan ADIKSIMBA.

Topik wawancara nantinya adalah seputar pelaksanaan MBG bagi murid-murid di SDN 60 Payakumbuh. Untuk menambah semangat belajar murid, guru merancang LKPD dalam bentuk buklet wawancara yang menarik.

Di dalam kelompok murid-murid berlatih praktek wawancara. Kegiatan ini dilakukan pada pertemuan pertama untuk topik wawancara.

Pada pertemuan kedua pembelajaran, guru menyampaikan proses kegiatan wawancara, murid – murid melakukan praktek wawancara dengan mitra belajarnya atau narasumber mereka adalah kakak kelas VI.

Murid-murid menuliskan hasil wawancara mereka di dalam buklet wawancara. Setelah selesai kegiatan wawancara murid menyampaikan hasil wawancara mereka di depan kelas.

Murid-murid difasilitasi untuk melakukan tanya jawab seputar kegiatan praktek wawancara yang telah mereka lakukan. Dengan berlatih praktek wawancara ini akan menguatkan kemampuan berkomunikasi murid dalam melakukan wawancara.

Pada akhir kegiatan pembelajaran guru memberikan penguatan materi wawancara. Dan hal terpenting juga yang dilakukan murid adalah melakukan kegiatan refleksi.

Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan refleksi. Pertanyaan-pertanyaan bertujuan untuk memperkuat dan menginternalisasi pemahaman, serta mengembangkan kemampuan metakognitif dan dimesi profil lulusan yang diharapkan.

Refleksi menjadi bagian penting karena menjembatani antara pengalaman belajar (melakukan wawancara, menggunakan PID) dengan pemahaman konsep yang sebenarnya.

Dalam pelaksanaan praktek baik ini guru memiliki tantangan dalam memotivasi murid untuk mau mencoba mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bentuk melakukan wawancara kepada kakak kelas sendiri.

Pada awalnya ditemukan satu murid laki-laki yang tidak mau melakukan wawancara karena kakak kelasnya sebagai narasumber adalah perempuan, kemudian guru menukar narasumbernya dengan kakak kelas laki-laki sehingga proses wawancara yang dilakukannya dapat terselesaikan.

Dari kegiatan praktek baik ini dari hasil observasi dan refleksi bahwa murid-murid mendapatkan AHA momennya dalam belajar, bahwa mereka sangat menikmati pembelajaran dengan melakukan praktek wawancara, mereka dapat mengatasi rasa takut, malu, cemas ketika melakukan wawancara, kemudian penggunakan papan interaktif digital dengan berbagai aplikasi yang digunakan guru juga menjadikan pembelajaran menjadi lebih bermakna dan mengembirakan.

Untuk ke depannya kegiatan praktek wawancara ini dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran pada mata pelajaran lain yaitu matematika pada semester 2 pada materi Pitogram dan Diagam Batang, dimana murid-murid akan diminta untuk mengumpulkan data di sekolah melalui kegiatan wawancara kepada pihak-pihak yang terkait dan kemudian disajikan dalam bentuk diagram nantinya.

Praktek baik ini mencoba mengaplikasikan pendekatan pembelajaran mendalam untuk mencapai profil lulusan murid pada karakter kolaborasi dan komunikasi. (Rahma Deni, S.Pd SDN 60 Payakumbuh)

Editor : Novitri Selvia
#SD Negeri 60 Payakumbuh #Rahma Deni