PADEK.JAWAPOS.COM-Pantun merupakan salah satu warisan budaya sastra lisan Indonesia yang mengandung nilai-nilai moral, pendidikan, dan estetika.
Sebagai bentuk ekspresi yang kaya akan kearifan lokal, pantun tidak hanya menjadi alat komunikasi tradisional, tetapi juga digunakan sebagai sarana pembentukan karakter melalui pesan-pesan yang tersirat di dalamnya.
Di tengah perkembangan teknologi dan budaya global yang begitu pesat, pelestarian budaya lokal menjadi tantangan tersendiri, khususnya di kalangan generasi muda.
Oleh karena itu, dibutuhkan upaya konkret yang melibatkan sekolah dan murid secara aktif untuk menumbuhkan kecintaan terhadap budaya sastra Indonesia ini.
SMP Fidelis Payakumbuh merealisasikannya dengan Gerakan Literasi Sekolah dalam tema “Kalisbadantun” atau Kegiatan Literasi Sekolah Belajar dengan Pantun.
Dengan membiasakan murid untuk membuat dan menyampaikan pantun, diharapkan mereka tidak hanya mengenal bentuk pantun, tetapi juga mampu menginternalisasi pesan-pesan positif yang terkandung di dalamnya.
Kegiatan ini selain untuk melatih kreativitas berbahasa murid dan menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal, juga memiliki tujuan khusus yaitu untuk melatih kemampuan literasi membaca materi pelajaran yang kemudian dituliskan kembali dengan bahasa yang indah.
Setiap pantun harus memuat sampiran berupa materi pelajaran yang telah dipelajari. Hal ini bertujuan agar para murid berkreativitas membuat harmonisasi materi pelajaran dengan isi pantunnya.
Semua warga sekolah berpartisipasi dalam kegiatan ini, termasuk guru mata pelajaran dan kepala sekolah.
Kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan program yang telah disusun oleh Tim Literasi Sekolah dengan alokasi waktu 6 minggu pada hari Jumat kedua di setiap bulannya.
Tahapan awal dimulai dengan pemaparan terkait syarat dan ketentuan pada penulisan pantun yang dikoordinir oleh guru mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Semua murid dikumpulkan di aula sekolah untuk mendapat penjelasan ulang terkait pantun ini walaupun di kelas VII murid telah mempelajari materi pantun.
Selanjutnya, semua murid diarahkan untuk membaca materi pelajaran yang akan mereka jadikan sebagai sampiran dalam penulisan pantun.
Barulah kemudian dilakukan penulisan pantun yang sampirannya terdiri dari materi pelajaran dan isi pantun berupa kalimat motivasi dalam hidup.
Setiap pantun yang telah ditulis akan dikirim oleh semua murid ke link google drive yang telah dipersiapkan oleh Tim Literasi Sekolah.
Akhirnya, semua pantun tersebut dibukukan dengan mencantumkan nama penulisnya seperti contoh berikut :
Kalikan panjang dengan lebar,
Rumus luas persegi panjang.
Marilah kita giat belajar,
Agar menjadi generasi cemerlang. (oleh : Felicia Setiawan)
Pelapukan besi terbentuk karat,
Prosesnya disebut dengan korosi.
Mari belajar dengan giat,
Agar sukses kemudian hari. (oleh : Hanna Shakila Adra)
Jamur nama latinnya fungi,
Benang halusnya disebut hifa,
Menuntut ilmu sampai tinggi,
Agar tak menyesal di hari tua. (oleh : Saira Anesti)
Terdapat 200 buah pantun yang termuat dalam buku bertajuk “Kalisbadantun” tersebut dengan perincian 169 pantun dari semua murid dan digenapkan 31 pantun lagi dari guru dan kepala sekolah.
Gerakan literasi sekolah “Kalisbadantun” ini memberikan ruang bagi murid untuk mengeksperesikan diri melalui pantun.
Dengan kegiatan ini diharapkan murid tidak hanya berlatih berbahasa yang indah, tetapi juga mengembangkan kreativitasnya dalam mengaitkan sampiran yang berisi materi pelajaran sehingga akan lahir generasi muda yang kreatif dan santun.(Eni Darlita, S,Si, Kepala SMP Fidelis Payakumbuh)