Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Memberi Makna di Momen Hardiknas Menuntun, Bukan Menekan

Adriyanto Syafril • Senin, 4 Mei 2026 | 11:00 WIB
Ilustrasi. (REZA FEBRINO/PADEK)
Ilustrasi. (REZA FEBRINO/PADEK)

Penulis : Susi Yanti, S.Pd. - Guru SDN 02 Cupaktangah

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Namun di balik upacara dan pidato, ada pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan: sudahkah pendidikan kita benar-benar memerdekakan potensi anak, atau justru masih membelenggunya? 

Jawabannya ada dalam warisan pemikiran Ki Hajar Dewantara—sang Bapak Pendidikan Nasional yang filosofinya tetap relevan hingga hari ini.

Mengenal Sang Pelopor

Ki Hajar Dewantara — yang bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat — adalah sosok luar biasa. Beliau memilih menanggalkan gelar kebangsawanannya demi bisa lebih dekat dengan rakyat jelata. Pilihan itu bukan sekadar simbol, melainkan cerminan keyakinan mendalam: bahwa pendidikan hak semua orang, bukan hanya kaum elit.

Beliau mendirikan Taman Siswa pada tahun 1922 sebagai wujud nyata perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial yang kaku dan diskriminatif. Taman Siswa bukan sekadar sekolah, ia adalah gerakan: ruang di mana setiap anak diperlakukan sebagai pribadi yang utuh dengan potensi yang unik.

Menuntun Kodrat, Bukan Memaksakan Kehendak

Inti dari filosofi Ki Hajar Dewantara terletak pada satu gagasan sederhana namun sangat dalam: setiap anak lahir dengan kodratnya sendiri. Tugas pendidikan bukan mengubah atau memaksa kodrat itu, melainkan menuntunnya agar berkembang ke arah yang terbaik.

Pendidikan yang baik, menurut beliau, bertujuan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya — baik bagi si anak sebagai individu, maupun sebagai anggota masyarakat. Pendidikan bukan tentang mencetak manusia yang seragam, melainkan tentang menumbuhkan manusia yang seutuhnya: cerdas, berakhlak, dan berguna bagi sesama.

Di sinilah peran guru menjadi sangat istimewa. Ki Hajar Dewantara menyebut guru sebagai “pamong” — pengasuh dan pembimbing yang dengan penuh kasih menuntun tumbuh kembang anak sesuai bakat dan minatnya. Guru yang sejati bukan pemegang otoritas di depan kelas, melainkan mitra terpercaya dalam perjalanan seorang anak menemukan dirinya.

Trilogi Pendidikan: Tiga Peran yang Hidup

 

Warisan paling dikenal dari Ki Hajar Dewantara adalah semboyan yang hingga kini terukir di lambang Kementerian Pendidikan kita. Semboyan itu bukan sekadar rangkaian kata indah — ia adalah panduan praktis bagi setiap pendidik dalam mendampingi peserta didiknya.

Ing Ngarsa Sung Tuladha — Di Depan Memberi Teladan

Seorang pendidik adalah figur yang pertama kali dilihat dan ditiru oleh murid-muridnya. Keteladanan bukan disampaikan dengan kata-kata, melainkan ditunjukkan melalui perilaku nyata sehari-hari: cara bertutur, cara bersikap, cara menghargai orang lain. Ketika guru datang tepat waktu, jujur, dan rendah hati, murid belajar nilai-nilai itu tanpa perlu satu pun ceramah.

Ing Madya Mangun Karsa — Di Tengah Membangun Semangat

Ketika berada di antara murid-muridnya, seorang pendidik hadir bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai pemantik semangat. Ia mendengar, berdialog, membangkitkan rasa ingin tahu, dan merayakan setiap langkah kemajuan — sekecil apapun itu. Pembelajaran menjadi hidup karena murid merasa dihargai dan didorong untuk terus berkembang.

Tut Wuri Handayani — Di Belakang Memberikan Dorongan

Inilah prinsip yang paling mencerminkan kepercayaan pada kemampuan anak. Seorang pendidik yang bijak tahu kapan harus melangkah mundur dan membiarkan muridnya mencoba sendiri. Ia memberi ruang bereksplorasi, mengizinkan anak membuat keputusan, dan siap hadir sebagai sandaran jika dibutuhkan — bukan sebagai pengawas yang selalu mengontrol.

Relevansi di Era Modern

Di tengah arus digitalisasi dan tekanan akademik yang kian berat, filosofi Ki Hajar Dewantara justru semakin terasa urgensinya. Banyak anak yang cerdas secara akademis, namun rapuh secara emosional. Banyak sekolah yang menghasilkan nilai tinggi, namun belum tentu menghasilkan manusia yang bahagia dan bermartabat.

Pendidikan yang berpihak pada anak — sebagaimana Ki Hajar Dewantara ajarkan — bukan berarti memanjakan atau membiarkan. Ia berarti memahami, setiap anak adalah individu unik dengan kecepatan, cara, dan gaya belajar yang berbeda-beda. Tugas kita sebagai pendidik dan orang tua adalah menyediakan tanah yang subur agar benih-benih potensi itu dapat tumbuh dengan sehat.

Teknologi boleh terus berkembang. Kurikulum boleh terus berubah. Namun sentuhan manusiawi dalam pendidikan — rasa kasih, kepercayaan, dan penghargaan terhadap potensi anak — adalah sesuatu yang tidak boleh kita kompromikan.

Menjaga Api yang Dinyalakan

Hari Pendidikan Nasional seharusnya bukan sekadar hari libur atau upacara. Ia adalah undangan merenungkan kembali: sudahkah kita menjadi pendidik yang menuntun, bukan menekan? Sudahkah kita menjadi orang tua yang mendampingi, bukan sekadar menuntut? Sudahkah kita, sebagai masyarakat, menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi yang merdeka dan berbudi?

Warisan Ki Hajar Dewantara bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah kompas yang selalu menunjuk ke arah yang benar: bahwa pendidikan sejati adalah tentang memanusiakan manusia, menyalakan potensi setiap jiwa, dan mengantar mereka menuju keselamatan dan kebahagiaan yang hakiki
Pendidikanikan bukan tentang menjadi yang terbaik, tetapi tentang menjadi lebih baik setiap hari — setiap langkah, setiap jiwa yang terus belajar. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Laman Guru Padang