Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Menjaga Cahaya Al Quran di Hati Generasi Muda

Adriyanto Syafril • Rabu, 6 Mei 2026 | 10:25 WIB
MA Islam Al Ishlah Bukittinggi sedang melakukan mujaraah Al Quran beberapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)
MA Islam Al Ishlah Bukittinggi sedang melakukan mujaraah Al Quran beberapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)

Penulis : Suci Kurnia Putri, S. Pd., Gr - Guru Sosiologi SMA IsIam Al Ishlah Bukittinggi

Di tengah derasnya arus globalisasi yang membawa berbagai pengaruh terhadap pola pikir dan perilaku generasi muda, pendidikan berbasis nilai-nilai Al-Quran menjadi semakin penting diperkuat. Dalam konteks ini, SMA Islam Al Ishlah Bukittinggi kembali menunjukkan komitmennya melalui pelaksanaan Mukhayyam Al-Qur’an VIII yang diselenggarakan pada Kamis hingga Sabtu, 16–18 April 2026. Mengusung tema “Langkah Bersama Menuju Generasi Qurani: Bersama Orang Tua dan Guru Kita Bentuk Generasi Al-Qur’an”, kegiatan ini menjadi bukti nyata pembinaan karakter tidak hanya dilakukan di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman spiritual yang mendalam.

Mukhayyam Al-Qur’an bukan sekadar kegiatan seremonial atau rutinitas tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ruang pembinaan intensif bagi siswa mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Selama tiga hari penuh, para peserta diajak fokus berinteraksi dengan kitab suci, mulai dari membaca, menghafal, hingga mengulang hafalan (murajaah). Dalam suasana yang kondusif dan penuh kebersamaan, siswa dapat merasakan pengalaman belajar yang berbeda dari biasanya.

Salah satu keunggulan kegiatan ini adalah pembagian fokus berdasarkan jenjang kelas. Siswa kelas X diarahkan mencapai target hafalan baru atau menambah hafalan yang telah dimiliki. Sementara itu, siswa kelas XI difokuskan pada penguatan hafalan melalui murajaah, yang disesuaikan dengan jumlah hafalan masing-masing. Pendekatan ini menunjukkan , sekolah memahami pentingnya strategi pembelajaran yang adaptif dan berorientasi kebutuhan individu siswa.

Namun, yang paling menarik dari tema kegiatan ini adalah penekanan peran bersama antara guru dan orang tua. Pendidikan Al-Quran tidak bisa berjalan optimal jika hanya dibebankan kepada sekolah. Guru memang memiliki peran penting sebagai pembimbing dan fasilitator, tetapi orang tua adalah pendidik pertama dan utama di rumah. Ketika keduanya berjalan seiring, proses pembentukan generasi Qurani akan menjadi lebih kuat dan berkelanjutan.

Keterlibatan orang tua dalam mendukung kegiatan seperti ini menjadi faktor kunci. Dukungan moral, pengawasan, serta pembiasaan membaca dan menghafal Al-Quran di rumah memperkuat hasil yang dicapai selama mukhayyam. Tanpa dukungan tersebut, tidak jarang semangat siswa hanya bertahan sementara dan perlahan memudar setelah kegiatan berakhir.

Dari sisi pendidikan karakter, Mukhayyam Al-Quran memberikan dampak signifikan. Siswa tidak hanya ditargetkan menambah hafalan, tetapi juga dibentuk memiliki kedisiplinan, kesabaran, serta keikhlasan beribadah. Aktivitas yang terjadwal dengan baik selama kegiatan melatih siswa mengatur waktu dan menjaga konsistensi. Selain itu, suasana kebersamaan juga menumbuhkan rasa ukhuwah dan kepedulian antarsesama.

Meski demikian, tantangan yang dihadapi tidaklah sedikit. Di era digital saat ini, perhatian siswa seringkali teralihkan berbagai distraksi seperti media sosial dan hiburan digital. Oleh karena itu, kegiatan seperti mukhayyam perlu terus dikembangkan dengan pendekatan yang relevan dan menarik. Inovasi dalam metode pembelajaran, pemanfaatan teknologi secara bijak, serta pendekatan yang lebih interaktif dapat menjadi solusi untuk meningkatkan minat siswa terhadap Al-Quran.

Lebih jauh lagi, keberhasilan kegiatan ini tidak boleh berhenti pada pelaksanaan semata. Diperlukan tindak lanjut nyata agar semangat yang telah dibangun selama tiga hari tersebut dapat terus terjaga. Program lanjutan seperti halaqah rutin, pemantauan hafalan, serta evaluasi berkala perlu menjadi bagian dari sistem pembinaan yang berkelanjutan di sekolah.

Pada akhirnya, Mukhayyam Al-Qur’an VIII yang diselenggarakan SMA Islam Al Ishlah Bukittinggi adalah langkah nyata membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai spiritual. Generasi Qurani yang diharapkan bukan hanya mereka yang mampu menghafal ayat-ayat suci, tetapi juga mampu mengamalkan dan menjadikannya sebagai pedoman hidup sehari-hari.

Langkah ini memang membutuhkan proses panjang dan komitmen bersama. Namun, dengan sinergi yang kuat antara sekolah, guru, dan orang tua, cita-cita untuk melahirkan generasi Al-Quran bukanlah hal yang mustahil. Justru dari upaya-upaya seperti inilah masa depan yang lebih baik dapat dibangun, masa depan yang berlandaskan nilai, akhlak, dan cahaya Al-Quran. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Laman Guru Bukittinggi