Penulis : Ayu Pebri, S.Pd.,M.Pd. - Plt.Kepala UPTD SDN 03 Labuah Gunuang
Kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan anak-anak saat ini. Di satu sisi, perkembangan zaman memberi kemudahan dalam belajar dan berkomunikasi. Namun di sisi lain, muncul tantangan besar yang tidak bisa diabaikan, yaitu menurunnya karakter generasi muda. Sikap kurang disiplin, rendahnya kepedulian sosial, melemahnya sopan santun, hingga lunturnya kecintaan terhadap budaya mulai sering ditemui di lingkungan pendidikan.
Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat mengejar nilai akademik semata. Pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang cerdas sekaligus berakhlak, memiliki kepedulian, serta kuat memegang nilai agama dan budaya. Karena itulah pendidikan karakter menjadi kebutuhan penting yang harus dibangun sejak usia dini melalui pembiasaan yang nyata dan berkelanjutan.
Menjawab tantangan tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lima Puluh Kota menghadirkan program “Sakato Berjaya”, singkatan dari Berkarakter Juara Berlandaskan Agama dan Budaya. Program ini bukan sekadar slogan, melainkan gerakan pendidikan yang menanamkan nilai karakter melalui aktivitas sederhana yang dilakukan secara konsisten di sekolah.
UPTD SD Negeri 03 Labuah Gunuang menjadi salah satu sekolah yang aktif mengimplementasikan program tersebut dalam kegiatan harian.
Salah satu kegiatan yang diterapkan diantaranya ialah LIPUS (Lihat Pungut Sampah). Melalui program ini, siswa dibiasakan peduli terhadap kebersihan lingkungan. Anak-anak dilatih memiliki kesadaran untuk memungut sampah tanpa harus diperintah. Kebiasaan kecil tersebut menjadi langkah penting dalam membangun rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekolah.
Sekolah juga menjalankan program SAHABAT (Sedekah Harian Berkah dan Bermanfaat). Kegiatan ini menanamkan nilai berbagi dan kepedulian sosial sejak dini dalam kehidupan.
Kemampuan berbahasa asing turut diperhatikan melalui program SEBARIS (Sehari Berbahasa Inggris). Program ini melatih keberanian siswa menggunakan bahasa Inggris dalam komunikasi sederhana. Sebaris dilakukan pada kegiatan Mukhadarah seperti MC atau Pidato berbahasa inggris, melatih anak-anak percaya diri tampil di depan banyak orang tanpa meninggalkan identitas budaya lokal.
Pembiasaan karakter juga dimulai sejak pagi hari. Guru menyambut peserta didik di gerbang sekolah dengan budaya 5S, yaitu senyum, salam, sapa, sopan, dan santun. Sebelum proses belajar dimulai, siswa mengikuti kegiatan selama 30 menit berupa mengaji, zikir, literasi Al-Qur’an, dan shalawat. Kegiatan ini menjadi pondasi spiritual dalam membentuk pribadi religius serta memperkuat akhlak peserta didik.
Pendidikan karakter juga diperluas ke lingkungan keluarga melalui program Birrul Walidain. Dalam kegiatan ini, siswa dibiasakan membantu orang tua di rumah saat hari libur agar memahami pentingnya menghormati orang tua sebagai bagian dari pembentukan akhlak mulia.
Berbagai kegiatan lain seperti tahfiz, muhadharah setiap Jumat, salat dhuha, salat zuhur berjemaah, hingga Sabtu Ceria dengan gerakan literasi budaya semakin memperkuat nilai agama dan budaya dalam kehidupan siswa. Sekolah berupaya menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya menghasilkan peserta didik berprestasi, tetapi juga memiliki karakter kuat.
Sesungguhnya, pendidikan karakter bukan pekerjaan instan. Karakter dibangun melalui keteladanan, pembiasaan, dan kerja sama antara sekolah, keluarga, serta masyarakat. Program Sakato Berjaya menjadi bukti bahwa membangun generasi berkarakter dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Pada akhirnya, bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar, tetapi juga generasi yang memiliki hati, adab, dan kepedulian. Sebab, kemajuan ilmu tanpa karakter hanya akan melahirkan kecerdasan yang kehilangan arah. (*)
Editor : Adriyanto Syafril