Penulis : Efniwati, S.Pd - Kepala Sekolah SDN 02 Tungkar
Pagi di Jorong Tungkar, Situjuah Limo Nagari, masih diselimuti embun yang turun perlahan dari kaki bukit. Udara terasa sejuk menenangkan hati. Namun sebelum pukul 06.15 WIB, halaman UPTD SDN 02 Tungkar sudah hidup. Bukan dengan hiruk pikuk, melainkan dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang mengalun lembut dari sudut kelas.
Anak-anak duduk bersila dengan khusyuk. Satu per satu maju menyetor hafalan kepada guru pembina tahfiz. Wajah mereka serius, tapi mata itu berbinar.
Pemandangan ini sudah menjadi nadi kehidupan sekolah kami, tiga kali dalam seminggu, sejak program “Sakato Berjaya” benar-benar hidup di sini.
Program ini lahir dari kepedulian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Limapuluh Kota. Ia merupakan implementasi nyata dari program makro “Sakato Mengaji” yang digagas langsung bupati.
Tujuannya sederhana namun dalam maknanya: mencetak generasi yang cerdas otaknya, kuat imannya, dan tidak tercerabut dari akar budaya Minangkabau.
Di bawah amanah sebagai Kepala Sekolah, bersama majelis guru yang luar biasa, kami menyulap program ini menjadi napas harian siswa. Kami kemas dalam tiga pilar utama: pembiasaan karakter, kegiatan kokurikuler, dan penguatan ekstrakurikuler. Semua dirancang dengan pendekatan spiritual yang kuat, namun tetap membumi dalam kearifan lokal.
Hari-hari di SDN 02 Tungkar dimulai dengan pembiasaan 5S: Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun. Anak-anak berbaris rapi di depan kelas, menundukkan kepala menyapa guru dengan penuh hormat. Hal kecil, tapi dampaknya besar. Dari sinilah karakter kesantunan dan kedisiplinan mulai ditanamkan.
Setelah itu datang waktu emas. Selama 30 menit sebelum belajar dimulai, seluruh sekolah tenggelam dalam suasana religius. Ada yang mengaji, ada yang melantunkan Asmaul Husna, ada pula yang bersalawat bersama. Suasana hening itu seperti menyejukkan jiwa sebelum otak diajak berpikir. Di saat itu, kami merasa sedang membangun pondasi akhlak sebelum membangun ilmu. Jika langit mulai cerah, halaman sekolah berubah fungsi.
Tepat pukul 07.15 WIB, ia menjadi saf sholat yang panjang. Siswa dan guru melaksanakan Sholat Dhuha berjamaah di bawah langit terbuka. Yang membuat kami bangga, imam sholat digilir dari perwakilan setiap kelas. Dari sini lahir keberanian, mental kepemimpinan, dan kemandirian religius yang tidak bisa diajarkan hanya lewat buku. Siangnya, kami tutup hari dengan Sholat Zuhur berjamaah, dipimpin dan dibimbing langsung para guru.
Program “Sakato Berjaya” juga membuka ruang bagi anak-anak tumbuh secara global tanpa melupakan jati diri. Setiap Selasa, kami adakan English Day. Anak-anak belajar menyapa, berdialog, dan bermain dengan bahasa Inggris, namun tetap pulang membawa identitas Minang di dada. Gerakan “Lihat Pungut Sampah” membuat mereka peka terhadap kebersihan lingkungan. Sementara program “Sedekah Harian Berkah Bermanfaat” menanamkan empati dan jiwa sosial sejak usia dini.
Yang paling progresif adalah penguatan ekstrakurikuler Tahfiz Al-Qur’an. Sejak fajar menyingsing, anak-anak sudah duduk bersama pembina tahfiz, menghafal ayat demi ayat dengan penuh kesungguhan. Untuk menjaga kualitas, kami menjalin kemitraan strategis dengan Rumah Tahfiz Darul Qur’ani Jorong Sialang.
Kolaborasi ini memastikan metode hafalan, tajwid, dan pembinaan spiritual berjalan terstruktur, sistematis, dan profesional.
Hari Jumat menjadi hari syiar. Sekolah menggelar Muhadarah, panggung kecil bagi siswa untuk tampil. Di sana mereka berpidato, membaca puisi islami, melantunkan nasyid, dan menunjukkan bakat seni keagamaan. Nilai bakti kepada orang tua juga terus kami pupuk melalui Peringatan Hari Besar Islam dan program khusus Birrul Walidain. Kami ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas, tapi juga tahu berterima kasih.
Hari yang paling ditunggu anak-anak adalah Sabtu. Kami menyebutnya hari Krida. Pagi diawali dengan Senam Ceria untuk menyegarkan tubuh. Setelah itu, siswa laki-laki berlatih khutbah, sementara yang lain mengikuti program Tuntas Baca Al-Qur’an.
Namun yang paling berkesan adalah kegiatan Literasi Berbasis Budaya. Di sinilah anak-anak belajar langsung dari sumbernya. Kami mengundang pemuka adat dan bundo kanduang untuk menjadi narasumber. Mereka dikenalkan pada makanan tradisional, permainan rakyat, hingga simulasi prosesi adat yang sakral seperti Manjapuik Marapulai dan Turun Mandi. Setelah mendapat materi, anak-anak berdiskusi kelompok, lalu mempresentasikan hasil kajian mereka di depan teman-teman. Metode ini membuat mereka tidak hanya tahu, tetapi juga mencintai dan bangga menjadi orang Minang. Kemampuan berpikir kritis dan berbicara di depan umum pun terasah dengan sendirinya.
Keberhasilan SDN 02 Tungkar dalam mengawal program ini ternyata menjadi buah bibir. Awalnya, hanya dua sekolah yang ditunjuk sebagai pilot project di wilayah Situjuah Limo Nagari. Namun melihat perubahan perilaku siswa yang begitu nyata, Pengawas Satuan Pendidikan Ibu Nurarifah mendorong agar 22 SD di kecamatan ini melaksanakan program “Sakato Berjaya” secara serentak. Kini, SDN 02 Tungkar menjadi salah satu role model utama.
Semua keberhasilan ini tidak akan mungkin terjadi tanpa dukungan penuh dari orang tua, komite sekolah, dan masyarakat sekitar. Mereka menjadi bahan bakar yang membuat program ini terus menyala. Seperti yang diungkapkan Ibu Yulfina Yesi, salah satu guru senior kami dengan mata berbinar: “Kami tidak hanya ingin mencetak anak-anak yang cerdas secara akademis. Kami bermimpi melahirkan generasi yang berkarakter kuat, hafiz Al-Qur’an, taat beragama, dan bangga akan budaya Minangkabau. Semoga konsistensi ini membuahkan hasil manis bagi masa depan Kabupaten Lima Puluh Kota.”
Melalui “Sakato Berjaya”, UPTD SDN 02 Tungkar telah membuktikan satu hal penting: sekolah dasar bukan hanya tempat belajar membaca dan berhitung. Ia bisa menjadi laboratorium peradaban. Di sinilah nilai-nilai ketuhanan dan kearifan lokal dipadukan dengan indah, agar lahir generasi emas Lima Puluh Kota yang siap menyongsong Indonesia Emas.
Di balik senyum anak-anak Tungkar, tersimpan harapan besar. Harapan bahwa mereka akan tumbuh menjadi manusia yang berilmu, berakhlak, dan tidak pernah malu mengakui dari mana mereka berasal. (*)
Editor : Adriyanto Syafril