Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Menghidupkan Kembali Budaya Bertanya

Adriyanto Syafril • Jumat, 10 Juli 2026 | 08:55 WIB
Eva Yanti, S.S., M.Pd.
Eva Yanti, S.S., M.Pd.

Penulis : Eva Yanti, S.S., M.Pd. - Guru UPT SMPN 2 Tanjuang Baru

Apakah ada yang ingin berta­nya?”

Kalimat tersebut hampir selalu diucapkan guru di penghujung pembelajaran. Namun, yang sering muncul justru keheningan. Puluhan pasang mata saling memandang, sebagian menunduk, sebagian lagi tersenyum kecil tanpa memberikan respons. Bel berbunyi, pelajaran usai, dan kesempatan bertanya pun berlalu begitu saja.

Fenomena ini bukanlah hal baru. Di banyak sekolah, budaya bertanya masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi. Padahal, kemampuan mengajukan pertanyaan merupakan salah satu indikator bahwa peserta didik berpikir, menganalisis, dan memiliki rasa ingin tahu. Ketika siswa enggan bertanya, guru tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa mereka sudah memahami materi. Bisa jadi mereka justru bingung, tetapi tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.

Ada berbagai alasan mengapa siswa takut bertanya. Sebagian khawatir pertanyaannya dianggap sepele atau salah. Ada yang takut ditertawakan teman, malu menjadi pusat perhatian, atau takut mendapat respons yang kurang menyenangkan. Tidak sedikit pula yang sejak awal terbiasa menjadi pendengar pasif sehingga menganggap bertanya bukan bagian dari proses belajar.

Di sisi lain, budaya belajar kita masih cenderung menempatkan guru sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Pem­belajaran sering berpusat pada penjelasan guru, semen­ta­ra siswa lebih banyak mendengarkan dan mencatat. Akibatnya, kesempatan untuk berdialog dan mengeksplorasi rasa ingin tahu menjadi terbatas. Pa­dahal, pembelajaran yang bermakna lahir dari interaksi dua arah yang saling menghargai.

Memasuki era digital dan kecerdasan buatan, kemampuan menghafal bukan lagi satu-satunya ukuran keberhasilan belajar. Informasi dapat diperoleh dengan mudah melalui internet maupun teknologi berbasis AI. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan berpikir kritis, menganalisis informasi, memecahkan masalah, dan mengajukan pertanyaan yang berkualitas. Semua keterampilan tersebut berawal dari keberanian untuk bertanya.

Oleh karena itu, membangun budaya bertanya bukan sekadar mendorong siswa me­ngangkat tangan di kelas. Yang lebih penting adalah menciptakan lingkungan belajar yang aman secara psikologis. Siswa harus merasa bahwa setiap pertanyaan dihargai, bukan dihakimi. Guru memiliki peran besar dalam membangun suasana tersebut melalui sikap yang ramah, terbuka, dan me­nghargai setiap usaha peserta didik untuk berpendapat.

Guru juga dapat mengu­bah cara mengajar agar lebih interaktif. Alih-alih selalu memberikan penjelasan panjang, guru dapat memulai pembelajaran dengan sebuah fenomena, gambar, video sing­kat, atau permasalahan yang dekat dengan kehidupan siswa. Ketika rasa ingin tahu muncul, pertanyaan akan lahir secara alami. Pembelajaran tidak lagi sekadar memindahkan informasi, tetapi mengajak siswa berpikir bersama.

Selain itu, penting untuk memberikan penghargaan kepada proses, bukan hanya jawaban yang benar. Ketika seorang siswa berani bertanya, guru sebaiknya memberikan apresiasi sederhana seperti ucapan terima kasih atau pujian atas keberaniannya. Sikap seperti ini akan menumbuhkan kepercayaan diri dan memberi pesan kepada siswa lain bahwa bertanya adalah sesuatu yang positif.

Budaya bertanya juga dapat dibangun melalui diskusi kelompok kecil. Banyak siswa yang merasa lebih nyaman menyampaikan pendapat kepada teman sebaya dibandingkan berbicara di depan seluruh kelas. Dari diskusi tersebut, kelompok dapat memilih pertanyaan terbaik untuk disampaikan kepada guru. Cara ini memb­antu siswa yang masih pemalu agar tetap memiliki kesempatan untuk berpartisipasi.

Tidak kalah penting, guru perlu menjadi teladan sebagai seorang pembelajar. Guru yang sesekali mengatakan, “Mari kita cari tahu bersama,” menunjukkan bahwa belajar adalah proses yang terus berlangsung. Sikap ini mengajarkan kepada siswa bahwa tidak mengetahui sesuatu bukanlah kelemahan, melainkan awal dari proses menemukan pe­ngetahuan baru.

Membangun budaya bertanya memang tidak dapat dilakukan dalam satu atau dua pertemuan. Ia membutuhkan konsistensi, kesabaran, dan komitmen dari seluruh warga sekolah. Ketika peserta didik merasa aman untuk bertanya, mereka juga akan lebih berani mengemukakan ide, berdis­kusi­, serta menghargai perbedaan pendapat. Kelas pun berubah menjadi ruang belajar yang hidup, dinamis, dan menyenangkan.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukanlah menghasilkan peserta didik yang hanya pandai menjawab soal, melainkan generasi yang mampu berpikir kritis, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta berani mencari solusi atas berbagai persoalan kehidupan. Semua itu berawal dari satu kebiasaan sederhana yang sering kita abaikan: keberanian untuk bertanya.

Sudah saatnya kita menghidupkan kembali budaya bertanya di kelas. Sebab, dari sebuah pertanyaan yang sederhana sering kali lahir pengetahuan yang luar biasa. Dan dari siswa yang berani bertanya, kita sedang menyiapkan generasi yang siap belajar sepanjang hayat. (*)

 

Editor : Adriyanto Syafril
#Laman Guru Sumatera Barat