PADEK.JAWAPOS.COM -- Universitas Andalas (Unand) memperluas kerja sama internasional dengan sejumlah perguruan tinggi di Tiongkok sebagai bagian dari percepatan internasionalisasi kampus.
Hasilnya, mahasiswa Unand akan mendapat peluang lebih besar mengikuti program credit earning di Tiongkok dengan pengakuan kredit akademik, sekaligus membuka jalan bagi pengembangan pendidikan tinggi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Kerja sama tersebut terjalin dalam kunjungan Delegasi Pendidikan Pemerintah Kota Padang ke Guangzhou dan Beijing pada 5–10 Juli 2025. Selain penandatanganan nota kesepahaman (MoU), agenda itu juga menghasilkan peluang kolaborasi di bidang riset, mobilitas mahasiswa dan dosen, hingga transformasi pembelajaran digital.
Delegasi dipimpin Wali Kota Padang Fadly Amran bersama Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang Yopi Krislova, Tim Padang Juara, serta Staf Khusus Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Dr Oki Earlivan Sampurno. Misi tersebut juga melibatkan tujuh perguruan tinggi di Kota Padang, termasuk Universitas Andalas.
Unand diwakili Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof Dr Syukri Arief dan Ketua Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Prof Dr Eng Ir Meifal Rusli MT.
Di Guangzhou, Unand menandatangani MoU dengan Foshan Polytechnic dan Guangzhou Huashang Vocational College. Kesepakatan itu menjadi dasar pengembangan kerja sama pendidikan, penelitian, pelatihan, serta peningkatan kapasitas dosen dan mahasiswa.
Syukri Arief mengatakan, salah satu program utama yang disiapkan adalah credit earning, yang memungkinkan mahasiswa Unand mengikuti perkuliahan di perguruan tinggi mitra di Tiongkok dengan hasil studi diakui sebagai bagian dari kurikulum di Unand.
Program ini mendapat dukungan Pemerintah Kota Padang melalui penyediaan beasiswa bagi 60 mahasiswa dari perguruan tinggi di Kota Padang. Sebanyak 14 di antaranya merupakan mahasiswa Program Studi Sarjana Teknik Mesin Universitas Andalas.
Ia menambahkan, skema tersebut diharapkan menjadi model internasionalisasi kurikulum Unand sekaligus memperkuat kompetensi global mahasiswa melalui pengalaman belajar di luar negeri, penguasaan teknologi, kemampuan bahasa asing, dan pemahaman budaya akademik internasional.
Selain penandatanganan kerja sama, delegasi juga mengunjungi laboratorium modern dan kawasan industri di Provinsi Guangdong untuk mempelajari keterkaitan pendidikan, riset terapan, dan kebutuhan industri.
Agenda berlanjut di Beijing melalui China–Indonesia Education Cooperation Symposium yang mempertemukan delegasi dengan sejumlah perguruan tinggi terkemuka, di antaranya Beijing University of Technology, Beijing Institute of Petrochemical Technology, Beijing Union University, Beijing Information Science and Technology University, Beijing Polytechnic University, dan Beijing College of Finance and Commerce.
Forum tersebut membuka peluang kolaborasi lanjutan dalam mobilitas mahasiswa dan dosen, riset bersama, serta pengembangan pembelajaran berbasis teknologi digital.
Sorotan lain dalam kunjungan ini adalah pemanfaatan AI dalam sistem pendidikan Tiongkok. Delegasi mengunjungi Zhongguancun Low-Altitude Airspace Technology Innovation Center yang menampilkan penerapan AI sebagai fondasi pengembangan teknologi, industri, hingga pendidikan nasional.
Rombongan juga mendatangi The National Torch Academy of Innovation and Entrepreneurship (NTAIE) di Tsinghua University. Lembaga yang bermitra dengan sekitar 400 perusahaan itu memperlihatkan model pembelajaran, inovasi teknologi, dan ekosistem kewirausahaan yang terintegrasi dengan AI.
Sebagai penutup, delegasi mengunjungi Northern International Automotive Education School of Advanced Manufacturing and Robotics, Peking University, guna mempelajari pengembangan pendidikan manufaktur maju, otomotif, dan robotika yang terhubung dengan kebutuhan industri masa depan. (rdo)
Editor : Adriyanto Syafril