Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

BMKG: Ancaman Gempa di Sumbar Tidak Hanya Megathrust Mentawai

Heri Sugiarto • Kamis, 15 Agustus 2024 | 10:03 WIB
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG, Rahmat Triyono. (Foto: Dok)
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG, Rahmat Triyono. (Foto: Dok)
PADEK.JAWAPOS.COM-
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG, Rahmat Triyono, mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah akan potensi gempa di Sumatera Barat yang tidak hanya berasal dari Mentawai megathrust.
 
Ancaman gempa bumi dari Sesar Sumatera, sebuah patahan aktif yang membelah daratan pulau Sumatra, juga patut diwaspadai.
 
Secara umum, Rahmat menjelaskan bahwa tatanan tektonik di Sumatera dicirikan oleh tiga sistem utama: Zona Subduksi, Mentawai Fault System, dan Sumatra Fault System.
 
Zona Subduksi ini memanjang dari pantai barat Sumatera hingga selatan Nusa Tenggara, di mana lempeng India-Australia menunjam di bawah lempeng Eurasia dengan kecepatan ±50-60 mm/tahun, menciptakan potensi gempa dengan magnitudo hingga 8.9 SR di Megathrust Mentawai.
 
Selain itu, Mentawai Fault System adalah sesar mendatar yang memanjang di sekitar pulau-pulau Mentawai.
 
 
Sedangkan Sumatra Fault System merupakan sesar strike-slip berarah dekstral yang membelah Sumatera, membentang sepanjang Bukit Barisan dari Lampung hingga Banda Aceh.

"Gempa bumi Aceh 2004 telah meningkatkan kesadaran kita akan risiko gempa dan tsunami. Namun, kita perlu ingat bahwa ancaman gempa tidak hanya datang dari laut, tidak hanya dari Megathrust Mentawai," ujar Rahmat Triyono kepada Padang Ekspres, Kamis (15/8/2024).

Sesar Sumatera, kata Rahmat, telah menyebabkan beberapa kali gempa merusak di masa lalu, termasuk gempa bumi di Batusangkar Kabupaten Tanahdatar, Sumbar tahun 2007 yang menelan korban jiwa dan merusak ribuan bangunan.

"Seperti gempa tahun 2007 di Batusangkar yang menelan 67 korban jiwa, melukai 826 orang, dan merusak 43.719 bangunan di Bukittinggi, Padangpanjang, Payakumbuh, dan Solok," kata Rahmat yang pernah menjabat Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG.

Sumbar memiliki beberapa segmen aktif dari Sesar Sumatera, yakni Segmen Sumpur di Pasaman, yang memiliki panjang patahan ±35 km Segmen Sianok di Bukittinggi sepanjang ±90 km, Segmen Sumani di Solok sepanjang ±60 km dan Segmen Suliti di Solok Selatan, sepanjang ±90 km.

Baca Juga: Gempa Kembali Guncang Bukittinggi Sabtu Dini Hari, BMKG: Ada 2 Gempa Susulan

Masing-masing segmen ini memiliki sejarah gempa yang signifikan, dengan kerusakan besar yang pernah terjadi, seperti gempa di segmen Sianok  tahun 2007 dan gempa di segmen Sumani  tahun 1943 yang menyebabkan pergeseran horizontal hingga 1 meter.

"Meskipun kekuatan gempanya tidak besar, bahkan di bawah magnitudo 5, tapi berpotensi merusak," ingatnya.

Menurutnya, ada tiga segmen lagi yang bagian ujungnya berada di perbatasan wilayah Sumbar dan dapat mempengaruhi aktivitas kegempaan di wilayah Sumbar .

Yakni Segmen Angkola dan Barumun di wilayah Sumatera Utara dan segmen Siulak di Jambi. Lalu, Segmen Angkola yang ujung selatannya berada di dekat Lembah Batang Pasaman, dan Segmen Barumun bagian selatan berada di perbatasan Sumbar, Pasaman. Sedangkan segmen Siulak overlap dengan segmen Suliti di wilayah Solok Selatan.

Rahmat mengingatkan bahwa segmen Suliti di Solok Selatan menunjukkan sedikit aktivitas kegempaan dalam beberapa dekade terakhir, dibandingkan segmen di sekitarnya.

Untuk itu perlu diwaspadai karena potensi "seismic gap" yang mungkin memicu gempa di masa mendatang.

Baca Juga: Sumbar Rawan Gempa dan Tsunami, Menko PMK Minta BNPB Tambah Shelter

Sesar Suliti berada di wilayah Kabupaten Solok Selatan. Ujung utara segmen berada pada Danau Diatas dan Danau Dibawah (Solok) dan menelusuri lembah Sungai Suliti ke Tenggara hingga anak-anak Sungai Liki di Barat Laut Gunung Kerinci di Jambi.

"Jadi, sekali lagi, ancaman gempa di Sumbar tidak hanya dari Megathrust Mentawai, tetapi juga dari sesar daratan Sumatera, khususnya segmen Suliti. Ini harus menjadi perhatian kita semua, termasuk pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat," tegas Rahmat.

Perhatian juga perlu diarahkan pada segmen sesar lainnya yang ada di Pasaman, Bukittinggi, Padangpanjang, Tanahdatar dan Solok.

"Kita ketahui bersama, dalam beberapa hari lalu sesar aktif Sianok kembali memicu beberapa kali gempa di Bukittinggi dan sekitarnya. Untuk itu perlu perhatian kita bersama," tambahnya.

Pentingnya Mitigasi

Rahmat menekankan pentingnya upaya mitigasi untuk mengurangi dampak gempa bumi. Pembangunan rumah tahan gempa, sistem peringatan dini, dan edukasi masyarakat menjadi langkah-langkah krusial yang perlu dipersiapkan.

Kita tidak bisa menghentikan gempa bumi, tetapi kita bisa mengurangi dampaknya. Pemerintah pusat dan daerah, bersama dengan masyarakat, harus bekerja sama untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa.

Baca Juga: Badan Meteorologi Jepang Keluarkan Peringatan Potensi Gempa Besar Palung Nankai

"Jangan sampai kita hanya fokus pada ancaman Megathrust Mentawai, sementara ancaman gempa yang lebih dekat dengan tempat tinggal kita seakan diabaikan," ujar Rahmat yang pernah menjabat Kepala BMKG Sumbar.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#sejarah gempa sumbar #bmkg #gempa darat sumbar #gempa bumi Sumatera 2024 #Rahmat Triyono #megathrust mentawai #Mitigasi Bencana Gempa #Sesar Sumatera