Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

BMKG Ungkap Sumatera Barat Pernah Alami Gempa Kembar Seperti Myanmar!

Heri Sugiarto • Sabtu, 29 Maret 2025 | 01:07 WIB

Ilustrasi dampak gempa. (Foto: Dok. Jawapos.com)
Ilustrasi dampak gempa. (Foto: Dok. Jawapos.com)
PADEK.JAWAPOS.COM-Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Myanmar pada Jumat, 28 Maret 2025, pukul 13:20:56 WIB, menurut laporan United States Geological Survey (USGS).

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa tersebut berkekuatan M7,6, yang tergolong sebagai gempa kembar (doublet) dengan gempa susulan M7,2 yang terjadi 11 menit kemudian.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyatakan bahwa episentrum gempa berada pada koordinat 21,76° LU; 95,83° BT dengan kedalaman 10 km.

"Gempa ini dipicu oleh aktivitas Sesar Besar Sagaing dengan mekanisme geser (strike-slip),” jelasnya.

Gempa kuat ini tidak hanya mengguncang Myanmar, tetapi juga dirasakan hingga Thailand dan China.

Di Myanmar, pusat gempa berada di sekitar Mandalay, dengan skala intensitas maksimum VIII-IX MMI, yang menunjukkan tingkat kerusakan berat.

Gempa mengakibatkan banyak bangunan bertingkat roboh atau ambruk di Myanmar dan Thailand serta menimbulkan banyak korban jiwa.

 Getaran yang kuat menyebabkan warga panik dan berhamburan keluar dari gedung-gedung tinggi.

Di Bangkok, Thailand, guncangan terasa cukup kuat. Penghuni apartemen dan tamu hotel bertingkat tinggi berlarian keluar bangunan.

Salah satu insiden yang menjadi perhatian adalah runtuhnya gedung tinggi yang sedang dibangun di Bangkok, yang viral di media sosial setelah gempa mengguncang.

Mengapa Bangkok Ikut Terdampak?

Meskipun pusat gempa berada di Myanmar, Bangkok turut mengalami guncangan signifikan.

Menurut Daryono, fenomena ini disebut Vibrasi Periode Panjang (Long Vibration Period), di mana gelombang gempa dari lokasi jauh dipicu oleh tanah lunak.

Tanah lunak yang tebal di Bangkok merespons gelombang seismik dari Myanmar dan membentuk resonansi, yang dapat memperbesar getaran pada bangunan tinggi.

Hal ini menyebabkan risiko kerusakan pada gedung pencakar langit, meskipun pusat gempa berjarak lebih dari 1.400 km.

Sejarah Gempa Kembar di Sumatera Barat

Gempa kembar yang berpusat di darat seperti di Myanmar juga pernah terjadi di Sumatera Barat pada beberapa kesempatan.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Padangpanjang, Suadi Ahadi, menyebutkan bahwa segmen Sianok-Sumani memiliki sejarah gempa kembar.

Pada tahun 1926, terjadi gempa dengan magnitudo 7,2 dan 7,2. Kemudian, pada tahun 2007, segmen ini kembali mengalami gempa kembar dengan M6,1 dan M6,2.

Selain itu, pada tahun 1943, terjadi gempa kembar dengan M7,1 dan M7,4, yang menyebabkan korban jiwa sekitar 150 orang.

"Menurut BMKG dan Pusgen, skenario terburuk segmen Sianok-Sumani berkisar antara M7,0 hingga M7,5," kata Suadi Ahadi.

Namun demikian, terkait apakah gempa di Myanmar dapat berdampak pada Pulau Sumatera, Suadi menegaskan bahwa segmen yang berbeda tidak memiliki keterkaitan langsung.

Sebelumnya, Rahmat Triyono, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG, menjelaskan bahwa gempa di segmen Sianok tahun 2007 dan segmen Sumani tahun 1943 menyebabkan pergeseran horizontal hingga 1 meter.

Segmen Sianok memanjang dari kota Padangpanjang hingga Bukittinggi, dengan panjang patahan sekitar 90 km, melewati Ngarai Sianok hingga Tenggara Danau Singkarak di sisi timur. Pergeseran patahan di segmen ini tercatat sekitar 23 mm/tahun.

Sementara itu, segmen Sumani di Solok memiliki panjang patahan sekitar 60 km.

Ujung utara segmen ini berada di sisi Utara Danau Singkarak, menyisir sisi Barat Daya danau, melintasi daerah Kota Solok, Sumani, Selayo, dan berakhir di Utara Danau Diatas, sebelah Tenggara Gunung Talang.

Gempa merusak pernah terjadi pada 9 Juni 1943, dengan magnitudo 7,4, di bawah Danau Singkarak, yang menyebabkan pergeseran horizontal sejauh 1 meter (D. Hilman Natawijaya dkk. 1995).

Selain itu, gempa pada 6 Maret 2007 juga menyebabkan banyak kerusakan di sepanjang segmen ini dari Sumani hingga Selayo.

Potensi Gempa di Sumatera Barat

Rahmat Triyono, yang pernah menjabat Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG, mengingatkan bahwa potensi gempa di Sumatera Barat tidak hanya berasal dari zona subduksi Mentawai Megathrust.

Ancaman gempa bumi dari Sesar Sumatera, sebuah patahan aktif yang membelah daratan Pulau Sumatra, juga patut diwaspadai.

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dan selalu mengikuti arahan dari pihak berwenang.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#sejarah gempa sumbar #daryono #bmkg #gempa kembar Myanmar dan Sumatera Barat #Rahmat Triyono #Gempa Myanmar #gempa thailand #gemoa segmen sianok sumani #Suaidi Ahadi