Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Tak Satupun Poin di Enam Laga Terakhir Kabau Sirah

Adetio Purtama • Senin, 27 Oktober 2025 | 11:45 WIB

Pemain Semen Padang FC saat berduel dengan pemain Malut United FC pada lanjutan BRI Super League, kemarin di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate.
Pemain Semen Padang FC saat berduel dengan pemain Malut United FC pada lanjutan BRI Super League, kemarin di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate.
PADEK.JAWAPOS.COM—Kekalahan 1-0 dari Malut United FC, kemarin di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate, menjadikan Semen Padang FC sebagai satu-satunya tim di BRI Super League yang tidak meraup satu poin pun dari enam pertandingan terakhir.

Meskipun sudah melakukan pergantian pelatih dari Eduardo Almeida ke Dejan Antonic, namun usaha itu belum bisa mengangkat posisi tim Kabau Sirah—julukan Semen Padang FC—dari dasar klasemen sementara.

Khusus untuk pertandingan melawan Malut United FC, bayang-bayang kekalahan sudah terlihat sejak babak pertama ketika gelandang Semen Padang FC, Rosad Setiawan, mendapatkan kartu kuning kedua (berujung kartu merah) pada menit ke-41.

Dengan 10 orang pemain, ditambah melawan tim Laskar Kie Raha—julukan Malut United FC—yang sedang berada dalam tren positif, memaksa pemain Semen Padang FC bertahan di garis pertahanan mereka.

Meskipun bermain dengan 10 orang, tapi bisa dikatakan Semen Padang FC cukup baik dalam membangun lini pertahanan. Buktinya sampai pertengahan babak kedua, pemain Malut United terlihat frustasi membongkar pertahanan Kabau Sirah.

Petaka bagi Semen Padang FC ketika pemain mereka, Alhassan Wakaso, terkena handsball di kotak penalti pada menit ke-77. Kesempatan itu tidak disia-siakan Tyronne sehingga tuan rumah unggul 1-0. Skor tipis itupun bertahan hingga peluit akhir dibunyikan.

Caretaker Semen Padang FC, FX. Yanuar usai pertandingan mengatakan, secara umum dengan hasil kekalahan melawan Malut United FC, timnya cukup menerima hal tersebut. Namun, ia mengaku kecewa dengan penampilan wasit yang dianggap mengurangi kualitas pertandingan akibat beberapa keputusan selama pertandingan.

“Kami sejak awal sudah mengatakan bahwa menang, seri, atau kalah adalah hal biasa dalam pertandingan. Tapi pihak ketiga, saya tidak mau sebutkan apa pihak ketiga, malahan menurunkan kualitas pertandingan dengan keputusannya,” katanya.

Ia menambahkan, selama pertandingan, pemain Semen Padang FC sudah menunjukkan permainan yang baik. Buktinya sebelum Rosad Setiawan diganjar kartu kuning kedua, Malut United FC cukup kesulitan membongkar pertahanan Semen Padang FC.

“Bahkan saat kami bermain dengan 10 orang, kami masih bisa menyulitkan pemain Malut United FC. Tetapi apa yang terjadi, kami kebobolan dari proses penalti. Tapi pada saat kami punya kesempatan, pemain kami diganjar, setidaknya lihatlah VAR untuk memastikan,” ungkapnya.

Dengan keputusan-keputusan pengadil di lapangan selama pertandingan, FX. Yanuar berharap agar hal-hal yang bisa menurunkan kualitas liga bisa dihindari agar jalannya suatu pertandingan bisa ditonton dengan enak oleh masyarakat.

“Kita semua, baik tim, suporter, media harus bersama-sama menjaga kualitas liga ini. Jika terus dibiarkan seperti ini, tentu tidak akan baik bagi sepakbola Indonesia ke depan,” ujarnya.

Sementara itu, pemain Semen Padang FC, Abrizal Umanailo mengaku para pemain Semen Padang FC sangat kecewa dengan kekalahan melawan tuan rumah.

“Saya dan teman-teman sudah berjuang semaksimal mungkin meskipun bermain dengan 10 orang sejak babak pertama. Namun hasil ini tidak akan membuat kami berputus asa, dan akan tampil lebih baik lagi di laga berikutnya,” pungkasnya. (adt)

Editor : Adetio Purtama
#Malut United FC #poin #enam laga #Kabau Sirah #semen padang fc #BRI Super League