PADEK.JAWAPOS.COM-Semangat juang dan kegigihan menjadi modal lebih Australia saat bersiap menghadapi tuan rumah Amerika Serikat (AS) pada laga kedua mereka di Grup D Piala Dunia 2026. Karakter tangguh khas olahraga Socceroos ini dinilai mampu merusak pesta sang rival..
"Sudah menjadi tugas kami untuk merusak salah satu bagian dari pesta tersebut," ujar gelandang Socceroos, Aiden O'Neill, pada hari Sabtu (30/5/2026) lalu, dikutip dari laman AFC.
"Sangat luar biasa melihat Piala Dunia digelar di AS, sepak bola di sana terus berkembang. Saya bisa melihatnya secara langsung karena saya terlibat di dalamnya," tambah O'Neill yang saat ini bermain untuk klub Major League Soccer (MLS), New York City FC.
"Ini sangat menarik... Kami yang akan finis pertama dan mereka (AS) bisa menyusul di tempat kedua!" candanya.
Peta Persaingan Grup D Piala Dunia 2026
Selain Amerika Serikat dan Australia, persaingan Grup D Piala Dunia 2026 juga dihuni oleh Turki dan Paraguay.
Persaingan di grup ini diprediksi akan berjalan sengit dan dinilai sebagai grup yang paling berimbang di turnamen ini.
Meskipun Amerika Serikat lebih difavoritkan untuk lolos ke babak berikutnya, Australia kerap bergerak di bawah radar.
Padahal, tim berjuluk Socceroos ini memiliki rekam jejak yang konsisten dalam menembus Piala Dunia, meskipun olahraga sepak bola di negara mereka secara tradisi masih kalah populer dibanding cabang olahraga lainnya.
O'Neill menegaskan bahwa karakter keras kepala dan ketangguhan khas yang mengalir di dunia olahraga Australia dapat memberikan timnya keunggulan untuk melaju ke babak sistem gugur.
"Kami akan memberikan segalanya demi meraih hasil tersebut, dan saya pikir itulah yang akan menjadi pembeda. Ada perjuangan dan nyali di tim ini. Memiliki nyali dan tekad kuat adalah sesuatu yang sangat kami banggakan," tegas O'Neill.
Pelajaran dari Kekalahan Melawan Meksiko dan Tekanan Suporter
Karakter tangguh dan pengorbanan lini pertahanan Australia sudah terlihat saat mereka kalah tipis 1-0 dari Meksiko pada hari Sabtu lalu. Meski kebobolan gol cepat, Australia tampil gigih dan berhasil menciptakan peluang-peluang di sepanjang laga.
Pertandingan tersebut digelar di Stadion Rose Bowl, luar kota Los Angeles—berjarak 240 kilometer dari perbatasan Meksiko.
Di hadapan hampir 80.000 penonton yang mayoritas mendukung El Tri, atmosfer stadion sempat memanas ketika gol kedua Meksiko dianulir wasit karena tendangan bebas dinilai diambil terlalu cepat.
Meskipun kalah, pelatih kepala Australia, Tony Popovic, mengaku puas dengan kebangkitan anak asuhnya di babak kedua.
"Penampilan setelah turun minum akan memberi kami banyak kepercayaan diri bahwa kami mampu meladeni negara yang sangat bagus, tim yang fantastis, dilatih dengan baik, dan didukung penonton yang masif," ujar Popovic.
Pengalaman menghadapi tekanan suporter fanatik Meksiko menjadi simulasi bagi Socceroos. Australia dijadwalkan akan menantang tuan rumah Amerika Serikat di Seattle pada tanggal 19 Juni mendatang pada laga kedua fase grup.
"Kami jelas akan menghadapi atmosfer serupa di pertandingan kedua melawan Amerika Serikat yang diuntungkan status tuan rumah," kata bek Harry Souttar.
Menanggapi potensi tekanan dari suporter tuan rumah, kapten sekaligus penjaga gawang utama Australia, Mathew Ryan, mengaku sangat antusias.
Former kiper Brighton and Hove Albion yang sempat dipinjam oleh Arsenal ini menegaskan bahwa di fase kariernya saat ini, keandalan suporter lawan hanyalah suara bising di latar belakang (white noise).
"Saya menyukainya. Saya justru bersemangat. Sangat mudah bagi orang luar untuk berpikir bahwa Anda akan merasa gugup dalam situasi seperti itu, tetapi Anda harus mencoba membalikkan keadaan dan mengubahnya menjadi sebuah motivasi," tegas sang kapten.(*)