PADEK.JAWAPOS.COM – Semifinal Piala Dunia 2026 mempertemukan dua raksasa sepak bola, Argentina dan Inggris, dengan modal statistik yang sama-sama impresif. Namun, jika melihat perjalanan sejak fase grup hingga perempat final, Argentina tampil lebih tajam di lini depan dengan koleksi 17 gol, sedangkan Inggris mengemas 13 gol. Menariknya, kedua tim sama-sama telah kebobolan enam kali dalam enam pertandingan.
Data tersebut menempatkan Argentina sebagai tim paling produktif di antara empat semifinalis. Sementara itu, Inggris menunjukkan konsistensi dengan belum sekalipun menelan kekalahan sepanjang turnamen, mencatat lima kemenangan dan satu hasil imbang.
Argentina Lebih Tajam, Inggris Tak Terkalahkan
Argentina menyapu bersih tiga pertandingan Grup J dengan sembilan poin. Tim asuhan Lionel Scaloni mencetak delapan gol dan hanya sekali kebobolan sebelum melanjutkan tren positif di fase gugur.
Di babak 32 besar, Albiceleste menyingkirkan Tanjung Verde dengan skor 3-2. Mereka kemudian mengalahkan Mesir 3-2 pada 16 besar dan menaklukkan Swiss 3-1 di perempat final.
Rangkaian hasil tersebut membuat Argentina mengoleksi 17 gol atau rata-rata 2,83 gol per pertandingan. Produktivitas itu menjadi yang tertinggi di antara seluruh tim semifinalis.
Inggris juga menunjukkan performa stabil. The Three Lions lolos sebagai juara Grup L setelah meraih dua kemenangan dan satu hasil imbang dengan torehan enam gol serta hanya kebobolan dua kali.
Perjalanan Inggris berlanjut dengan kemenangan 2-1 atas RD Kongo pada 32 besar, mengalahkan Meksiko 3-2 di 16 besar, lalu menundukkan Norwegia 2-1 pada perempat final.
Secara keseluruhan, Inggris telah mencetak 13 gol atau rata-rata 2,17 gol per laga. Meski produktivitasnya berada di bawah Argentina, pasukan Thomas Tuchel mampu menjaga konsistensi hasil dengan belum terkalahkan hingga semifinal.
Messi dan Kane Jadi Pembeda
Ketajaman Argentina tidak lepas dari kontribusi Lionel Messi. Kapten Albiceleste itu menjadi motor serangan sekaligus penyelesai akhir yang efektif sepanjang turnamen.
Di sisi lain, Inggris mengandalkan Harry Kane sebagai ujung tombak. Penyerang berpengalaman tersebut tetap menjadi tumpuan lini depan, didukung kreativitas lini tengah yang membuat serangan Inggris lebih bervariasi.
Duel kedua pemain diperkirakan menjadi salah satu penentu hasil pertandingan. Pengalaman Messi dalam laga-laga besar akan diuji oleh efektivitas penyelesaian peluang yang dimiliki Kane.
Statistik Sedikit Memihak Argentina
Jika hanya melihat angka, Argentina memang memiliki keunggulan tipis dibanding Inggris. Selain unggul empat gol dalam produktivitas, Albiceleste juga selalu mencetak tiga gol di setiap pertandingan fase gugur.
Sebaliknya, Inggris lebih sering meraih kemenangan dengan selisih satu gol. Pola itu menunjukkan tim asuhan Thomas Tuchel mampu mengelola pertandingan secara efektif, meski tidak seagresif Argentina dalam menyerang.
Menariknya, kedua tim memiliki catatan pertahanan yang identik. Argentina maupun Inggris sama-sama sudah kebobolan enam gol dalam enam pertandingan atau rata-rata satu gol per laga.
Fakta tersebut mengindikasikan semifinal tidak hanya menjadi adu ketajaman lini depan, tetapi juga ujian bagi pertahanan kedua tim dalam meredam pemain-pemain kreatif lawan.
Meski statistik memberikan sedikit keunggulan kepada Argentina, angka tidak selalu menentukan hasil akhir di Piala Dunia.
Laga semifinal sering kali ditentukan oleh efektivitas memanfaatkan peluang, disiplin bertahan, hingga kemampuan menjaga konsentrasi sepanjang 90 menit atau bahkan hingga babak tambahan dan adu penalti.
Dengan modal produktivitas serangan yang lebih tinggi, Argentina layak disebut sedikit lebih siap menatap final.
Namun, rekor tak terkalahkan Inggris sepanjang turnamen menjadi bukti bahwa The Three Lions memiliki kapasitas untuk menggagalkan ambisi Albiceleste dan merebut satu tempat di partai puncak Piala Dunia 2026.(*)
Editor : Hendra Efison