Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Haji Mabrur, Taqwa dan Akhlak Asmaul Husna

Adriyanto Syafril • Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:17 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Penulis : Arrizal - Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Padang

Hari Raya Idul Adha memiliki banyak nama khas yaitu Hari Raya Kurban dan Hari Raya Haji. Pada Hari Raya Haji, umat Islam mengerjakan haji ke Makkah, Arafah, Muz­dalifah, dan Mina di Kerajaan Saudi Arabia.

Di antara kewajiban manusia kepada Allah adalah mengerjakan haji ke Baitullah, yaitu bagi ora­ng-orang yang mampu mela­kukan perjalanan ke sana (Al-Quran Surat Ali Imran ayat 97). Serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang dengan berjalan kaki atau mengendarai unta yang kurus. Mereka datang dari seluruh penjuru dunia yang jauh (Al-Quran Surat Al-Haji ayat 27). Mengendarai unta yang kurus menggambarkan jauh perjalanan haji yang ditempuh oleh ja­maah haji datang dari seluruh penjuru dunia yang jauh pergi ke Makkah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina di Kerajaan Saudi Arabia. Mazhab Syafii, maz­hab Maliki, maz­hab Hambali, dan mazhab Hanafi berpendapat bahwa hukum haji bagi umat Islam adalah wajib.

Di Indonesia ada tiga jenis paket haji yaitu paket haji reguler, paket haji khusus, dan paket haji non-kuota (paket furoda).

Tujuan Haji Untuk Menjadi Orang Bertaqwa

Apakah tujuan haji? Jawabannya, tujuan haji adalah untuk menjadi orang bertaqwa. Informasi ini dikatakan Allah dalam Al Quran surat Al-Ba­qarah ayat 197 yang berbunyi, “Musim haji itu pada bulan-bulan yang telah dimaklumi, yaitu Syawal, Zulqaidah, dan Zulhijah. Siapa yang mengerjakan haji pada bulan-bulan itu, maka dia tidak boleh berhubungan intim suami-isteri (rafas), tidak boleh berbuat maksiat (fasik), dan tidak boleh ber­tengkar dalam mengerjakan haji. Allah mengetahui semua kebaikan yang kamu kerjakan. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik be­kal adalah taqwa. Bertaqwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal”. Allah dalam Al Quran surat Al-Baqarah ayat 197 mengatakan bahwa tujuan haji adalah untuk menjadi orang bertaqwa. 

Apakah pengertian orang bertaqwa? Jawabannya, orang bertaqwa adalah orang berakhlak asmaul husna. Jawaban ini didasarkan pada dua hadis Nabi Muhammad yaitu, “Sesungguhnya aku diutus untuk memperbaiki akhlak manusia” (Hadist Nabi Muhammad riwayat HR. Ahmad) dan “Berakhlaklah kamu ma­nusia dengan akhlak Allah” (Hadist Nabi Muhammad riwayat Al-Baihaqi dari Abu Hurairah). Akhlak Allah berjumlah 99 yang disebut asmaul husna. Orang bertaqwa adalah orang berakhlak asmaul husna. Orang bertaqwa atau orang berakhlak asmaul husna ada­lah orang berakhlak dengan 99 akhlak Allah (asmaul husna). Orang beriman yang mengerjakan haji bercita-cita ingin menjadi orang bertaqwa atau orang berakhlak asmaul husna, maka wajib mencontoh 99 akhlak Allah (asmaul husna) itu sesuai dengan kemampuan sebagai manusia. Dengan demikian tujuan haji untuk menjadi orang bertaqwa itu pada hakekatnya adalah untuk menjadi orang berakhlak asmaul husna.

Apakah akhlak Allah yang di­contoh oleh orang berhaji? Allah dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 197 mengatakan bahwa, “Siapa yang mengerjakan haji pada bulan-bulan itu, maka dia tidak boleh berhubungan intim suami-istri (rafas), tidak boleh berbuat maksiat (fasik), dan tidak boleh bertengkar dalam mengerjakan haji”. Allah dalam Al Quran surat Al-Baqarah ayat 197 mengatakan bahwa ada tiga akhlak Allah yang dicontoh oleh orang berhaji. Pertama, orang berhaji yang tidak boleh berhubungan intim suami-istri (rafas) mencontoh akhlak Allah yang tidak memiliki isteri. Allah dalam Al Quran surat Al-Anam ayat 101 mengatakan, “Allah menciptakan langit dan bumi yang indah. Bagaimanakah Allah akan mempunyai anak, padahal Allah tidak mempunyai isteri”. Dengan demikian orang berhaji yang tidak boleh berhubungan intim suami-istri (rafas) itu pada hakekatnya mencontoh akhlak Allah yang tidak mempunyai isteri. Kedua, orang berhaji yang tidak boleh berbuat maksiat (fasik) mencontoh akhlak Allah Yang Maha Suci (Al-Quddus). Allah dalam Al Quran surat Al-Jumuah ayat 1 mengatakan, “Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci (Al-Quddus), Yang Maha Perkasa, dan Maha Bijaksana”. Dengan demikian orang berhaji yang tidak boleh maksiat (fasik) itu pada hakekatnya mencontoh akhlak Allah Yang Maha Suci (Al-Quddus). Ketiga, orang berhaji tidak boleh bertengkar mencontoh akhlak Allah Yang Maha Benar (Al-Haq). Allah dalam Al Quran surat An-Nisa ayat 59 mengatakan, “Wahai orang-orang yang beriman! Patuhlah kepada Allah dan patuhlah kepada Rasul-Nya (Muhammad) dan patuhlah kepada pe­mimpin kamu. Kemudian, jika ka­mu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Quran) dan Rasul-Nya (Sunnah), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagi kamu dan lebih baik akibatnya”. Dengan demikian orang berhaji yang tidak boleh ber­tengkar itu pada hakekatnya mencontoh akhlak Allah Yang Maha Benar (Al-Haq).

Orang berhaji tidak hanya wajib mencontoh tiga akhlak Allah saja, tetapi orang berhaji juga wajib mencontoh 99 akhlak Allah (asmaul husna). Orang berhaji yang akan menjadi orang bertaqwa atau orang berakhlak asmaul husna adalah orang berhaji yang mencontoh 99 akhlak Allah (asmaul husna). Orang berhaji yang hanya mencontoh tiga akhlak Allah saja yaitu tidak boleh berhubungan intim suami-isteri (ra­fas), tidak boleh berbuat maksiat (fasik), dan tidak boleh bertengkar saja, maka orang berhaji itu akan gagal menjadi orang bertaqwa atau orang berakhlak asmaul husna. Apakah penyebab orang berhaji itu gagal menjadi orang bertaqwa atau orang berakhlak asmaul husna? Jawabannya adalah karena orang berhaji itu tidak mencontoh 99 akhlak Allah (asmaul husna), dan orang berhaji itu hanya mencontoh tiga akhlak Allah saja yaitu tidak berhubu­ngan intim suami-isteri (ra­fas), tidak berbuat maksiat (fasik), dan tidak ber­tengkar saja. Orang berhaji wajib mencontoh 99 akhlak Allah (asmaul husna) untuk menjadi orang bertaqwa atau orang berakhlak asmaul husna.

Haji Mabrur dan Akhlak Asmaul Husna

Orang berhaji mabrur adalah orang berhaji berakhlak asmaul hus­na. Orang berhaji yang wajib mencontoh 99 akhlak Allah (asmaul husna) untuk menjadi orang bertaqwa atau orang berakhlak asmaul husna adalah orang berhaji mabrur. Ada tujuh contoh akhlak orang berhaji mabrur dari 99 akhlak asmaul husna. Pertama, Allah bersifat Maha Pemaaf (Al-Afuwwu). Agar menjadi orang berhaji mabrur, maka orang berhaji wajib mencontoh ak­hlak Allah yang Maha Pemaaf (Al-Afuwwu) dengan memberikan maaf kepada manusia. Orang berhaji mab­rur ada­lah orang pemaaf. Kedua, Allah bersifat Maha Mencipta atau Maha Bekerja (Al-Khaliq). Allah dalam Al-Quran surat Arrahman ayat 29 me­ngatakan, “Seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi meminta kepada Allah. Setiap hari Allah be­kerja”. Agar menjadi orang berhaji mabrur, maka orang berhaji wajib mencontoh akhlak Allah yang Maha Mencipta atau Maha Bekerja (Al-Khaliq) dengan setiap hari bekerja. Orang berhaji mabrur adalah orang bekerja. Ketiga, Allah bersifat Maha Penyabar (Ash-Shabuuru). Agar menjadi orang ber­ha­ji mabrur, ma­ka orang berhaji wajib mencontoh akhlak Allah yang Maha Penyabar (Ash-Shabuuru) dengan berperilaku sabar. Orang berhaji mabrur adalah orang sabar. Keempat, Allah bersifat Maha Kaya (Al-Ghanii­y­yu). Agar menjadi orang berhaji mab­rur, maka orang berhaji wajib mencontoh akhlak Allah yang Maha Kaya (Al-Ghaniiyyu) dengan rajin be­ker­ja dan rajin menuntut ilmu agar menjadi orang kaya. Orang berhaji mabrur adalah orang kaya. Kelima, Allah bersi­fat Maha Mengetahui atau Maha Berilmu (Al-Alimu). Agar menjadi orang berhaji mabrur, ma­ka orang berhaji wajib mencontoh akhlak Allah yang Maha Me­ngetahui atau Maha Berilmu (Al-Ali­mu) dengan rajin me­nuntut ilmu agar menjadi orang be­­rilmu. Orang berhaji mabrur adalah ora­ng berilmu. Ke­enam, Allah bersifat Maha Dermawan (Al-Barru). Agar menjadi orang berhaji mabrur, maka orang berhaji wajib mencontoh akhlak Al­lah yang Maha Dermawan (Al-Barru) dengan memberi derma. Orang ber­haji mabrur adalah orang derma­wan. Ketujuh, Allah bersifat Maha Pem­beri Petunjuk (Al-Hadi). Agar menjadi ora­ng berhaji mabrur, maka ora­ng berhaji wajib mencontoh akhlak Allah yang Maha Pemberi Petunjuk (Al-Hadi) dengan memberi petunjuk ke­pada orang banyak. Orang berhaji mab­rur ada­lah orang pemberi petunjuk. De­mikian tujuh contoh akhlak ora­­ng berhaji mabrur dari 99 akhlak asmaul husna. Dengan demi­kian untuk menjadi orang berhaji mab­rur, maka orang berhaji wajib mencontoh 99 akhlak Allah (asmaul husna) sesuai dengan kemampuan sebagai manusia. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#opini #Opini Padek