Di balik kesulitan pastilah ada kemudahan, jika kita mau berusaha. Sama halnya dengan Kabupaten Pasaman. Negeri yang terletak di tapal batas Sumatera Barat dengan Sumatera Utara ini, ternyata menyimpan segudang keuntungan secara geografis, namun juga dibalut aneka kendala yang harus diperjuangkan.
Predikat sebagai negeri terjauh, yang membujur di sepanjang kaki Bukit Barisan, bukan berarti Kabupaten Pasaman harus menjadi daerah yang terisolasi, apalagi sampai tertinggal atas predikatnya itu.
Tidak mudah memang, untuk membalikkan keadaan. Dari platform daerah pinggir menjadi daerah terbuka di posisi tengah, tentu harus banyak dibangun akses jalan yang representatif ke daerah-daerah tetangga.
Secara administrasi pemerintahan, Pasaman saat ini berbatas dengan enam kabupaten di tiga provinsi. Dalam Provinsi Sumatera Barat sendiri, Pasaman berbatas langsung dengan Kabupaten Agam, Pasaman Barat, dan Kabupaten Limapuluh Kota.
Ke sisi utara berbatas dengan Kabupaten Padang Lawas dan Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara. Dan di sisi Timur-nya dengan Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau.
Alhamdulillah sejak rentang waktu periode pertama jabatan kami sebagai Bupati Pasaman 2010 - 2015, hingga masuk 2 tahun periode sekarang, seluruh jalur transportasi ke seluruh daerah tetangga tersebut, sudah bisa diakses, kecuali satu yang baru dimulai dan masih harus diperjuangkan, yakni pembukaan dan pembangunan jalan baru ke Kabupaten Limapuluh Kota, via Bonjol - Suliki.
Memulai sesuatu, apalagi yang berskala besar, akan membutuhkan perjuangan yang juga besar. Namun, dengan dorongan tekad untuk memajukan daerah yang kita amanahi, serta dalam upaya menumbuhkan ekonomi masyarakat, maka pekerjaan-pekerjaan berat dan besar itu akan bisa diwujudkan.
Menurut Saya, tidak ada upaya lain untuk lekas memajukan Pasaman dan melepas stigma daerah pinggir, selain dengan membangun banyak akses transportasi ke daerah simpul-simpul ekonomi yang menjadi pasar dari produk-produk pertanian masyarakat Pasaman. Seperti Riau, Payakumbuh - Limapuluh Kota dan Pasaman Barat, serta Bukittinggi.
Komitmen itu mesti dipatrikan terlebih dahulu, mengingat upaya kearah itu tidaklah mudah. Terutama bila dihadapkan pada alokasi anggaran daerah yang relatif kecil dari tahun ke tahun, dan hadangan regulasi berupa kawasan hutan lindung yang 'mem-barriel' lebih 70 % wilayah Kabupaten Pasaman.
Dalam tulisan ini kami ingin fokus mengupas simpul akses ekonomi strategis, pembukaan dan pembangunan jalan dari Kecamatan Rao dan Mapatunggul (Pasaman) ke Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) Provinsi Riau.
Sebenarnya Rao - Rohul tidaklah terpaut jarak yang jauh. Dua kabupaten beda langgam dan budaya dan beda provinsi ini hanya terpisah tapal batas sebuah aliran anak sungai di Nagari Rumbai, Kecamatan Mapattunggul di Kabupaten Pasaman.
Bermodal APBD yang terbatas, dan minim PAD dari sektor industri serta usaha-usaha swasta, kami mencoba merintis itu. Kajian akademik dilakukan, tim teknis diturunkan untuk menghitung anggaran rill yang dibutuhkan, Itu dilakukan di masa periode 2010 - 2015 lalu.
Dimulai tahun 2011, lanjut 2012 hingga 2015, telah dialokasikan secara bertahap anggaran untuk pengaspalan dan pembangunan jembatan ke wilayah perbatasan dengan Provinsi Riau. Dan di 2015 itu, final kita melakukan pengaspalan hingga ke tapal batas Pasaman - Rohul di Rumbai.
Gayung pun bersambut. Upaya kita membuka diri dan membangun jalur baru dari Rao - Mapatunggul ke Rokan Hulu juga berbalas.
Berbagai upaya komunikasi dan lobi-lobi, dilakukan dengan Pemda Kabupaten Rokan Hulu dan Pemprov Riau, termasuk akses kekuatan politik di legislatif Provinsi Riau. Sejumlah moment pertemuan formal maupun informal dengan Pemprov Riau dan Pemkab Rokan Hulu, dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Alhamdulillah, Kabupaten Rokan Hulu didukung APBD Pemprov Riau, pun melakukan pembangunan badan jalan lanjut pengaspalan secara bertahap, mulai dari daerah Ujung Batu, Rokan dan tersambung hingga ke tapal batas Pasaman di Rumbai, Kecamatan Mapattunggul.
Kondisi saat ini dari wilayah Kabupaten Rokan Hulu menuju Mapattungul dan Rao, hanya terkendala beberapa segmen jalan lagi yang masih terus dilanjutkan pengaspalannya oleh Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu.
Sementara belasan unit jembatan klasifikasi besar dan kecil sudah hampir rampung dikerjakan Pemkab Rohul dan Pemprov Riau.
Namun, walau belum rampung 100 persen, ruas jalan itu sudah banyak dilewati kendaraan roda 4, apalagi roda 2, termasuk saya dengan rombongan SKPD teknis Pemdakab. Pasaman sudah mencoba menempuh rute itu lima bulan lalu, saat membangun komunikasi lanjutan dengan Pemda Kabupaten Rahul di Kota Pasir Pangaraian, pada hari libur Sabtu, tepatnya di Rumah Dinas Wakil Bupatinya.
Kunjungan Muhibah
Layaknya dua kabupaten bersaudara antara Kabupaten Pasaman dan Rokan Hulu saling berkunjung dan saling berkabar. Pada akhir Mei 2022 yang lalu saya sebagai Bupati Pasaman mendatangi Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu dan bertemu Wakil Bupatinya.
Perjalanan bersama sebagai bentuk keseriusan kami untuk mempercepat proses pembangunan jalan dan jembatan dari Kabupaten Rokan Hulu menuju Kabupaten Pasaman.
Begitu juga sebaliknya. Satu bulan pasca kunjungan kami ke Kabupaten Rokan Hulu, gantian Wakil Bupati Rahul pula yang berkunjung ke Pasaman.
Memudahkan Pasar
Sebagai daerah berbasis pertanian dan Perikanan, dengan tingkat surplus produksi yang tinggi dari tahun ke tahun, Kabupaten Pasaman sangatlah punya kepentingan terhadap jalur Rao - Mapattunggu ke daerah pemasaran di Riau.
Selama ini produk pertanian yang dihasilkan masyarakat Kabupaten Pasaman termasuk Pasaman Barat harus menempuh rute panjang dan lama untuk bisa masuk ke Kota Pekan Baru.
Contoh kecil, ikan air tawar yang dibudidayakan sejumlah kelompok tani di Kecamatan Rao dan sekitarnya, dengan pasar potensial Kota Pekan Baru dan daerah-daerah di Riau umumnya.
Bayangkan, dari luas kolam budidaya 4.467 Ha, petani kolam ikan Pasaman bisa memproduksi sebanyak 54.503, 97 Ton ikan konsumsi per tahunnya, dengan kalkulasi perputaran uang mencapai Rp995.209.181.000,- atau nyaris Rp1 triliun per tahun.
Selama ini hasil panen ikan dimobililsasi dari Rao melalui jalur darat yang panjang dan memakan waktu lama.
Mulai dari lokasi tambak Ikan di Rao, terus 50 km ke Lubuk Sikaping, lanjut Agam, Bukittinggi - Payakumbuh - Kabupaten Limapuluh Kota - Kabupaten Kampar, Bangkinang, baru sampai ke Kota Pekanbaru.
Kalau dihitung jarak perjalanannya mencapai 398,4 Km atau memakan waktu tempuh antara 8 hingga 10 jam. Itupun dalam kondisi normal. Jika ada 'trouble di jalan atau macet di saat 'long week end', tentu lama tempuhnya akan memakan waktu lebih panjang. Bisa-bisa ikan menjadi busuk di perjalanan.
Nah, jika jaraknya bisa dipangkas, waktunya lebih pendek, tentulah 'coast' distribusinya bisa dltekan, dan keuntungan yang didapat akan lebih banyak, apalagi dihadapkan pada fluktuasi kenaikan harga BBM yang terus memberatkan ongkos transportasi.
Selain memudahkan arus barang dan jasa dari dan ke Kabupaten Pasaman, ruas jalan Rao Mapatunggul ke Kabupaten Rokan Hulu ini juga akan menjadi alternative bagi masyarakat kabupaten tetangga Kabupaten Pasaman Barat, warga di kawasan Mandailing Natal (Madina) serta Padang Lawas (Palas) untuk bepergian ke Provinsi Riau.
Khusus masayarakat dari arah Pasaman Barat cukup melewati Simpang Empat - Panti via Talu - Dua Koto, terus ke Rao sejauh 20 Km.
Hubungkan Sejarah
Antara Kabupaten Pasaman dengan Rokan Hulu dan Kabupaten Kampar tidaklah berdiri sendiri di masa lalu. Sebagai putra daerah Pasaman saya yakin sekali dengan itu. Dasar pertimbangannya sederhana. Di Kampar ditemukan Candi Muara Takus sementara di daerah Tanjung Medan Kecamatan Panti Kabupaten Pasaman, tak jauh dari aliran Batang Sumpur juga ditemukan Candi Puti Sangka Bulan, yang sama dengan di Muara Takus.
Batang Sumpur ini mengalir hingga ke Kampar. Artinya dari Tanjung Medan bisa saja antara Candi Padang Bulan dengan Candi Muara Takus memiliki kaitan yang erat. Ini memang masih membutuhkan kajian mendalam serta penelitian ulang oleh para ahli sejarah.
Itu baru dari sudut situs budaya. Masyarakat terluar dari kedua daerah juga sudah berintergrasi dan berasimilasi. Pembauran etnis dan budayapun sudah terjadi termasuk bahasa yang dipergunakan.
Hampir tidak ada beda logat bahasa, budaya dan tradisi yang digunakan masyarakat daerah Mapattunggul dengan masyarakat desa-desa di Kecamatan Rokan IV Koto, Rahul, seperti daerah Tibawan, kubang Buaya, Cipang, Tanjung Medan dan desa-desa lainnya.
Jalan setapak yang memang sudah ada semenjak Kolonial Belanda dulu telah membuka akses warga di tapal batas kedua daerah. Artinya, ada benang sejarah kekerabatan yang kuat antara Pasaman - Rokan Hulu dan Kampar. Semoga saja nanti sejarahwan tertarik untuk menggali lebih dalam.
Hubungkan Antar Daerah
Ada tujuh ruas jalan yang menjadi “windows” Kabupaten Pasaman ke luar daerah. Empat diantaranya jalur lama, Masing-masing dua jalur jalan Nasional (Bukittingggi - Palupuh - Lubuk Sikaping) dan Lubuk Sikaping - Rao - Medan), serta dua jalan provinsi yakni Panti - Simpang Empat serta Kumpulan - Padang Sawah
Empat rute alternatif baru dalam 'Program Pasaman di Tengah' yang masih dalam proses penyelesaian, yakni Lubuk Sikaping-Talu via Tenang Daliak. Jalur ini merupakan jejak perjalanan lama sebagai arus mobilisasi jalan kuda pemerintahan Kolonial belanda untuk mengangkut hasil Kopi dan teh dari kawasan sejuk Sungai Janiah Talu ke Lubuk Sikaping.
Kedua, dari Kabupaten Pasaman ke Kabupaten Limapuluh Kota, yang diawali dengan pembukaan badan jalan baru dengan program TMMD (Tentara Manunggal Masuk Desa). Jalur transportasi dari Bonjol menuju Manggani di Kabupaten Limapuluh Kota ini, merupakan Dua daerah titik perjuangan penting pada masa PDRI dulu.
Rute ini cukup strategis, karena akan mendekatkan Pasaman ke pintu Tol Trans Sumatera yang akan dibangun di daerah Suliki.
Ketiga, akses antar provinsi dari Rao Mapattunggul Kabupaten Pasaman ke Kabupaten Rokan Hulu Riau yang hampir rampung dikerjakan. Dan Keempat, dari Rao Utara ke daerah Gunung Manahan Kabupaten Padang Lawas Provinsi Sumatera Utara.
Menariknya dari tujuh 'Pintu' menuju Kabupaten Pasaman ini, enam diantaranya merupakan rute bersejarah. Kenapa saya ngotot membuka akses ini? Semuanya demi kemajuan daerah dan peningkatan ekonomi masyarakat Kabupaten Pasaman.
Sebagai daerah terjauh dari ibu kota Provinsi Sumatera Barat, Pasaman harus membuka diri dan membuka jalur transportasi yang lebih singkat dan efisien dengan daerah luar.
Tanpa ada pemangkasan jarak tempuh dan akses jalan baru yang jauh lebih pendek, sepertinya sulit bagi Pasaman bisa lekas maju.
Sebagai putra daerah harapan saya sederhana. Dengan terbukanya akses Bonjol ke Manggani, Rao Mapatunggul ke Rokan Hulu, Rao Utara ke Gunung Manahan (Palas), dan Lubuk Sikaping ke Talu Pasaman Barat, maka arus mobilisasi barang dan manusia bisa lebih cepat dan lancar serta ekonomi masyarakat Kabupaten Pasaman bisa bergerak lebih baik lagi, di samping sektor pariwisata juga bakal terdampak bias positif.
Dan, stigma negatif Pasaman sebagai daerah pinggir, akan be-reposisi menjadi ke tengah. Insyaallah… (***) Editor : Hendra Efison