HABIS gelap, gelap lagi. Habis macet, macet lagi. Mau diapakan lagi? Tak dapat akal dek kita lagi do. Mau lewat Malalak ke Bukittinggi ataupun mau lewat Sitinjaulauik menuju Solok. Dua-duanya sama-sama macet. Sudah berbagai upaya dan kepandaian dikeluarkan namun macet tetaplah macet.
Mulai dari diberlakukannya pembatasan kendaraan, pembatasan jam jalan kendaraan berat dan sebagainya. Namun macet tak kunjung terurai. Macetnya pun bertambah menjadi-jadi. Ndak siang ndak malam, tengah malam, dini hari hingga subuhpun macet masih terjadi.
Bagaimana akal lagi? Terima sajalah realita itu. Perbanyak sajalah sabar. Mungkin insan di ranah ini sedang diuji. Pemprov sebagai jangkar pemerintah se-Sumatera Barat juga sudah berupaya keras. Jalan berlubang sudah ditambal, drainase tersumbat di Balingka-Padanglua juga sudah diperbaiki. Petugas pun sudah dikerahkan. Baik di Balingka ke Padanglua ataupun di rute Sitinjaulauik. Hasilnya? Ya masih macet juga, Apa akal lagi?
Mungkin satu-satunya jalan untuk mengurai kemacetan adalah menghentikan orang bertransportasi. Namun itu tak mungkin dilakukan. Sebab, bertransportasi dari suatu daerah ke daerah lain adalah kebutuhan. Kita tak bisa melarang orang berpergian.
Kalaulah saat kondisi macet di mana-mana seperti sekarang orang tetap berpergian itu tanda kepergiannya sangatlah penting. Kalaulah tak penting-penting amat pastilah mereka memilih berdiam diri di rumah.
Tambahlah Ruas Jalan
Bak orang deman, pemberian Paracetamol hanya sebatas penghilang rasa nyeri. Begitu perasa hilang maka deman dan nyerinya datang lagi. Itulah yang bisa dilakukan saat ini. Setidaknya upaya seperti itu sudah menunjukan kepada kita semua bahwa upaya dan iktiar sudah dilakukan.
Penulis melihat dan merasa bahwa ada yang kita lupa. Apa yang dialami saat ini adalah buah dari kelalaian dan kelupaan kita dimasa lalu. Kita terlena dan lupa bahwa pertumbuhan kendaraan setiap bulan terus berkali-kali lipat. Ratio pertumbuhan kendaraan sudah terlampau jauh meninggalkan ratio ruas jalan.
Kita juga lupa bahwa kita hidup di wilayah “etalese bencana”. Kini apa hendak dikata, semuanya sudah jadi masalah. Ditangani jadi masalah dan tak di tangani jadi musibah. Benar-benar menjadi buah simalakama.
Sebagai anak negeri, penulis melihat ada dua langkah yang bisa dilakukan. Untuk jangka pendek, tambal sulam, penempatan petugas dan penyediaan kendaraan derek mustilah dilakukan. Kalau perlu buatlah posko lalu lintas sehingga lebih terintegrasi informasi dan penanganannya seperti saat Lebaran.
Sementara itu untuk jangka panjang penambahan ruas jalan menjadi mutlak harus dilakukan. Ingat! MUTLAK. Tanpa penambahan ruas jalan baru kemacetan dimasa mendatang dipastikan tak akan terhindarkan.
Singkarak-Asam Pulau-Lubuk Alung
18 rahun yang lalu Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi memaksakan diri untuk membangun jalan Sicincin-Malalak. Jalan ini tersambung ke Balingka menuju Padanglua. Kini jalan itu menjadi “Pahlawan” ketika jalur Lembah Anai terputus.
Masih teringat oleh penulis kenapa Gamawan Fauzi menginginkan sekali jalan Padang-Sicincin-Malalak. “Sumbar ini daerah rawan bencana bung. Cepat atau lambat jalur Lembah Anai pasti akan bermasalah. Kalau itu terjadi maka jalur Sitinjaulauik menjadi satu-satunya. Tak terbayangkan oleh kita kalau itu terjadi dan bagaimana pula menumpuknya kendaraan, macet dan pasti akan macet parah,” kata Gamawan.
Kini apa yang dicemaskan Gamawan terjadi. Anai terputus, jalur Malalak yang jadi “Pahlawan” juga tak mampu menampung “ledakan” jumlah kendaraan karena jalan penyambung dari Simpang Balingka-Padanglua yang tak memadai.
Jika kita melihat kepadatan dan jumlah kendaraan saat ini maka penambahan jalan (jalur alternatif baru mutlak dilakukan). Tak mungkin kita memaksakan diri bertahan dengan tiga jalur itu. Jalur Sicincin-Malalak-Padanglua, jalur Sicincin-Kayutanam-Padangpanjang, jalur Indarung-Sitinjaulauik-Solok-Padangpanjang tak akan mampu menampung ledakan kendaraan di masa depan. Yakinlah itu!!!
Sumbar sudah harus memeras otak dan keringat kembali ditengah keterbatasan anggaran. Harus ada tambahan jalan alternatif baru dari Padang menuju Bukittinggi. Kalaupun ada rencana pembangunan tol itu adalah jalan berbayar dan tak jelas juga entah kapan selesainya. Sumbar mulai hari ini dan dimasa datanh sangat membutuhkan tambahan ruas jalan baru sebagai alternatif untuk menyambungkan dua kota utama di Sumbar (Padang dan Bukittinggi).
Ruas mana? Singkarak-Asam Pulau-Lubuk Alung. Ini dulu pernah dirintis. Malahan sebagian badan jalan sudah ada. Sejumlah lahan yang dilewati konon kabarnya juga sudah dibebaskan. Kenapa ini tak dilanjutkan kembali. Kalau ada kendala, tuntaskanlah. Jangan dibiarkan memgendap dan kelak akan jadi masalah. Lanjutkanlah itu pak.
Penulis juga menyadari bahwa kita di Sumbar terbatas dana. Pembangunan jalan baru membutuhkan anggaran yang sangat besar. Kalaulah tak bisa tahun tunggal jadikan itu project multiyear. Kalau memang tak sanggup “mambana” kita ke Kementrian PUPR. Mana tau dengan “bersitungkin dan mambana” ini APBN bisa “diculik” untuk pembangunan jalan baru tersebut.
Sebagai pemimpin di ranah ini sudah tiba saatnya gubernur memanggil dan duduk bersama dengan seluruh stakeholders. Rangkul dan libatkan 14 orang wakil rakyat kita di DPR RI, ajaklah 4 orang senator kita di DPD RI untuk memperjuangkannya. Berikan tanggung jawab itu pada mereka agar diperjuangkannya dalam APBN.
Rangkul dan baok ba iyo jugalah diaspora Minang yang ada di Senayan. Mana tahu ini bisa menjadi tambahan energi baru untuk merebut kue APBN yang juga terbatas. Tanamkan pada mereka, semua bahwa Sumbar saat ini sudah dalam kondisi “darurat” jalan. Duduk bersamalah untuk itu. (***)
Editor : Novitri Selvia