Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Membangunkan Slow Food "Halal"

Eri Mardinal • Jumat, 24 Oktober 2025 | 09:40 WIB

Elfindri, Guru Besar FEB Unand.
Elfindri, Guru Besar FEB Unand.
Oleh: Elfindri, Guru Besar FEB Unand

PADEK.JAWAPOS.COM—Jika ingin memasuki bisnis kecil kecilan, di bidang culinary dan minuman, maka rintislah usaha "slow food" halal. 

"Slow food" berasal dari kata-kata makanan lokal termasuk "popular", dan memiliki kekhasan cita dan rasa, termasuk tampilan, mengingat jenis makanan serupa tidak dibuat oleh masyarakat tertentu. Di mana, makanan terkenal kekhasan karena berasal dari daerah tertentu.

Terminologi kata "slow food" lawan dari "fast food", makanan cepat saji, konotasinya terbuat dari berbagai sumber bahan makanan yang sebelum disajikan, diolah di tempat. 
Biasa "fast food" berkembang di negara maju, berbahan baku misalnya daging sosis ayam, dan sapi. Kemudian, dimakan bersamaan dengan roti yang dipanaskan.

McDonald dan Kentutcky Fried Chicken bagian dari "fast food". Sementara "slow food" berupa makanan lokal yang diolah dengan cara lokal bercita rasa khas. 
Kita mengenal lemang, pempek palembang, kita mengenal rendang padang, sala lauak pariaman, lapek bugih, bika, kacimuih, bubur kampiun, papeda, dan lainnya.

Dalam konteks makanan lokal yang mesti diperhatikan tentunya selain halal, tetapi juga toyyib.

Berbagai riset di bidang pariwisata telah ditemukan bahwa makanan lokal "slow food" berfungsi sebagai faktor penarik untuk "pulled factors" wisatawan berkunjung pada objek objek daerah tertentu. Salah satu alasan kenapa seseorang pergi ke suatu daerah juga ingin mencicipi makanan lokal.

Persoalannya adalah bahwa segmen wisata juga berdasarkan latar belakang agama berbeda, mulai Islam, Kristen, Budha dan lainnya. Tentunya, agama seperti Islam bagi pemeluknya ada concern yang tinggi terhadap makanan dan minuman..

Sementara untuk daerah tujuan wisata juga beragam, mulai kawasan di mana mayoritas Hindu, seperti wilayah Bali. Toba dominan Kristian, dan banyak lokasi di Sumatera misalnya mayoritas Islam. 

Halal dan Toyib

Dalam konteks Islam, maka "slow food" mesti disertai dengan halal dan toyib. Halal dimaksudkan bisa dikonsumsi dan sesuai syari. Tidak saja makanan, namun juga segala jenis minuman.

Namun itu tidak cukup, selain halal, dia juga sehat. Dari berbagai sudut pandang. Sehat dikonsumsi karena memang diolah sedemikian rupa, dengan waktu, tempat pengolahan, keperluan bahan baku yang tidak terkontaminasi, dan sejenisnya.

Concern "slow food" di Ranah Minang ke depan tidak saja bagaimana makanan lokal dibuat, unsur unsur yang terkandung di dalamnya mesti bebas dari segala bahan non halal.

Halal dalam konteks tidak saja kandungan yang memang mesti terpenuhi, namun manajemenya juga perlu mendapatkan perhatian.

Kita mengetahui label halal memang dihasilkan atas kerja tim yang nantinya tim merekomendasikan untuk dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia.

Akan tetapi, semakin ke depan concern terhadap toyib itu semakin mendalam. Masyarakat internasional saja sudah meluas menuntut makanan tidak terkontaminasi makanan yang terkena pupuk kimia, atau racun. Mereka kembali kepada konsep "green food" konsep yang sama pandangan dengan toyib.

Ayam dan sapi halal dimakan oleh umat Islam, namun bisa tidak toyib, ketika proses makanan ternak itu tidak sesuai dengan ternak hidup dan bahagia, proses penyemblihannya, penyimpanan setelah disemblih, serta bahan yang digunakan memasak dan seterusnya.

Literasi halal dan toyib sepertinya sangat diperlukan, apalagi untuk jenis makanan daerah yang banyak disukai publik.

Kenapa rendang sebagai slow food Minang sulit menembus pasar internasional? Salah satunya, karena daging yang digunakan tidak memperoleh lisensi yang memenuhi daging hewan direkomendasi negara-negara maju.

Makanya, sudah saatnya masalah halal dan toyib ini menjadi bagian penting untuk diperhatikan agar makanan lokal benar-benar tidak diragukan konsumen, apalagi konsumennya paham soal halal dan toyib. (*)

Editor : Eri Mardinal
#Slow Food #Kuliner Halal #kuliner lokal #Bisnis Kuliner