Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Modal Insani Penangkal Ribawi 

Eri Mardinal • Jumat, 28 November 2025 | 23:15 WIB

Elfindri, Guru Besar FEB Unand.
Elfindri, Guru Besar FEB Unand.
Oleh: Elfindri, Guru Besar Universitas Andalas

PADEK.JAWAPOS.COM-Dalam pandangan ekonom klasik, fungsi produksi (Q) diperankan melalui tenaga kerja (L) dan modal (K). Kontribusi tenaga kerja akan semakin terlihat dari besaran koefisiennya, semakin besar nilai koefisien elastisitas tenaga kerja (Le), maka menghasilkan nilai tambah terbentuk dengan padat tenaga kerja, dihasilkan oleh manusia setempat relatif terhadap modal yang digunakan. 

Ketika pandangan ekonom modern Robert Solow dan dilanjutkan Daron Acemoglu, menemukan bahwa teknologi (t) mendorong pertumbuhan ekonomi, lewat inovasi baru, fungsi manusia tidak lagi sebagai pekerja, namun sebagai penghasil pembaharuan.

Melalui inovasi produk dan kerja. Schumpeter telah mengajukan begitu berperannya enterpreuneral manusia dalam menghasilkan barang barang dan jasa jasa. Dalam konteks syariah, mereka yang enterpreuneral syariah yang menjadi handalan untuk diperbanyak jumlahnya, dan pelakunya.

Dipercaya kemudian bahwa ekonomi akan semakin tumbuh ketika peranan teknologi semakin tinggi. Teknologi yang dihasilkan oleh manusia yang berilmu, yang semakin efisien dan kompetitif.

Dari pandangan klasik, neo klasik  pertumbuhan ekonomi moderen serta enterpreunership, keberadaan manusia menjadi dasar untuk investasi dalam perekonomian sebuah bangsa. Investasi manusia berkembang pesat, hingga investasi itu memenuhi manusia yang holistik dan sempurna.

Neuronomics dan Insanomic

Manusia yang diperankan oleh tenaga kerja, dan menghasilkan produktivitas dan inovasi pun tidak hanya bisa dipandang sebagai labor.

Secara statistik, tenaga kerja selain dari jumlah diperlukan kualitas manusia persoalan yang juga penting. Bagaimana investasi untuk hasilkan kualitas manusia, dan apa dimensinya yang perlu diperhatikan?

Pertanyaan mendasar kualitas manusia yang diformulasikan selama ini terbatas pada aspek pemenuhan "jenjang pendidikan" dan stok kesehatan. Semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin dipercaya sebagai instrumen kebijakan untuk hasilkan manusia yang bermutu.

Dalam perjalannya, manusia tumbuh dan berkembang tidak saja pada kualitas intelijensia (Qk), mengingat intelijensia hanyalah sebagai salah satu komponen otak manusia yang perlu dipenuhi menurut pandangan neurosains. Semakin baik investasi terhadap manusia, semakin baik kognitive yang tinggi diperlihatkan melalui "critival thingking dan kemampuan problem solving".

Kapasitas kognitif akan lahirkan teknologi dan inovasi yang positif dan rasional. Jika produk dihasilkan semakin efisien dan beragam, memerlukan  biaya produksi yang semakin rendah. Muaranya pada persaingan bersaing pasar pada posisi menguntungkan.

Investasi pada kognitif tidaklah cukup, mengingat masih banyak komponen  neuro manusia yang perlu disiapkan. Motorik pembentuk keterampilan akan membuat produktivitas tersendiri, melalui proses pendidikan kejuruan, magang serta "learning by doing". Proses ini akan meningkatkan kapasitas keterampilan (skills) manusia, ini merupakan komponen kualitas insani masuk Qt.

Sementara kualitas insani berikutnya adalah berkaitan dengan pembangunan karakter (Qss) dan keimanan, melalui pembiasaan bekerja keras, kemampuan berkomunikasi, disiplin dan etika,  kolaborasi, dan bersemangat. Unsur soft skills ini melengkapi kualitas manusia yang diajukan oleh Daniel Colleman. Sehingga Soft skills (Qss) merupakan bagian inveatasi manusia inveatasi yang tidak kalah pentingnya.

Berikutnya ketika kognitif, psikomotorik dan soft skills merupakan elaborasi dari manusia insani,  disiapkan masih ada satu dimensi  yang jarang dilihat sebagai stock manusia insani.

Dia adalah manusia yang X-talent, manusia yang talenta eksekusi terlatih, penerobos, inisiatif dalam bahasa Agama, manusia pengamal yang tangguh. 

Dalam skala mikro, X-talent merupakan unsur menusia yang kuat dan terasah pada tahap eksekusi, inisiative, x oleh Coleman dinyatakan sebagai excecution leaderships (X-talent). Komponen ini mesti dijadikan sebagai salah satu target lanjutan dalam menghasilkan  manusia Indonesia insani.

Mengingat manusia Indonesia juga memiliki  budaya dan agama, maka budaya lokal yang baik (yang bersandarkan agama) bisa dijadikan sebagai "endegeneous culture" yang mesti diperhitungkan. 

Mengingat Agama memandu manusia untuk hidup baik di dunia untuk tujuan akhirat, maka diperlukan juga menyiapkan keimanan dan kesolehan. Sehingga kesolehan merupakan modal religious yang perlu dijamin semakin lengkap sosok stock manusia yang dihasilkan.

Dalam konsepsi manusia insani, mereka tumbuh dan berkembang secara sempurna, tidak selfish, memiliki kepekaan lingkungan, dan sosial yang jujur, tidak koruptif.

Intinya dalam meningkatkan stock modal insani adalah menghasilkan manusia manusia yang sempurna, dimana kuat kognitive (Qk), kuat keterampilan (Qt), bagus soft skills (Qss), X-Talent, dan mantap Modal agamanya (Qr), ini akan membuat kesempurnaan dari penciptaan manusia dan menjadikan manusia semakin holistik keberadaanya.

Investasi Manusia Insani

Manusia insani adalah manusia emas. Dia tidak saja tumbuh dengan kepintaran saja, namun disertai kejujuran, keimanan yang terpartri ke dalam hatinya, sehingga manusia insani tidak tinggal diam terhadap ketidakadilan, resah dengan dominasi kapitalis, dan concerns masalah deprivation hasil pembangunan.

Manusia insani bukanlah yang hanya menargetkan nilai duniawi, namun menyiapkan diri dari segala tindakannya untuk kepentingan jangka panjang. Ekonomi yang dihasilkan adalah yang berkeadilan, yang juga menjaga keberlangsungan alam dan lingkungan.

Manusia insani merupakan manusia emas. Dia dihasilkan dengan keimanan yang given, menggunakan otak tingkat tinggi, dan berbuat baik. Kemudian Allah memberikan kemudahan baginya ilmu yang bermanfaat. Sebuah isi dan pesan dari salah satu ayat  Al-Qahfi 13. Insya Allah. (*)

Editor : Eri Mardinal
#modal insani #ekonomi syariah #penangkal ribawi