Oleh: Two Efly, Wartawan Padang Ekspres
Apa hubungan Lionel Messi dengan karambia tuo (kelapa tua)? Bisa ada, bisa pula tidak. Namun, jika dicermati, perjalanan karier Messi seolah menggambarkan filosofi orang Minangkabau tentang karambia tuo: makin tuo makin ba minyak—semakin tua, semakin banyak manfaatnya.
Begitu pula Messi. Semakin bertambah usia, semakin banyak pula rekor dan prestasi dunia yang berhasil ia torehkan.
Siapa sangka, bocah bertubuh mungil yang pernah dianggap tidak layak menjadi pesepak bola profesional justru menjelma menjadi pemain terbaik sepanjang sejarah. Tubuhnya kecil, kekuatan fisiknya diragukan, bahkan banyak yang menilai ia tidak akan mampu bertahan dalam kerasnya sepak bola yang penuh benturan.
Bakat alami memang dimiliki Messi, tetapi tubuhnya tidak mendukung. Saat berusia 11 tahun, ia didiagnosis mengalami Growth Hormone Deficiency (GHD) atau kekurangan hormon pertumbuhan. Ia harus menjalani terapi suntikan hormon selama bertahun-tahun, sesuatu yang tidak mampu dibiayai keluarganya.
Harapan kemudian datang dari akademi muda Barcelona, La Masia. Meski sempat diragukan karena posturnya, Barcelona melihat bakat luar biasa yang dimilikinya. Bahkan, kisah kontrak awal Messi yang ditulis di atas selembar serbet kertas (napkin) telah menjadi legenda dalam sejarah sepak bola.
Tidak sedikit yang menyangsikan Messi mampu bertahan di Spanyol. Selain harus meninggalkan keluarganya di Argentina, ia juga harus berjuang menjalani terapi hormon setiap hari. Namun, kerja keras mengalahkan segala keraguan.
Waktu terus bergulir. Messi berkembang menjadi talenta muda paling menjanjikan. Ketika Barcelona mulai mencari penerus generasi emasnya, pelatih Frank Rijkaard memberi kesempatan kepada Messi tampil di tim utama. Di sana, ia mendapat mentor yang sangat berpengaruh, Ronaldinho.
Ronaldinho tidak pernah merasa terancam. Sebaliknya, ia justru membantu Messi berkembang. Ketika Ronaldinho meninggalkan Barcelona menuju AC Milan pada 2008, nomor punggung 10—yang menjadi simbol kebesaran klub—akhirnya diwariskan kepada Messi.
Kepercayaan itu Dibayar Lunas
Satu demi satu gol lahir dari kakinya. Satu demi satu trofi berhasil diraih. Mulai dari La Liga, Copa del Rey, Liga Champions, hingga berbagai gelar internasional lainnya. Bersama Xavi Hernández dan Andrés Iniesta, Messi membawa Barcelona meraih enam gelar dalam satu musim (sextuple) pada 2009, sebuah prestasi yang hingga kini masih sangat langka dalam sejarah sepak bola.
Prestasi individunya bahkan lebih luar biasa. Messi telah mengoleksi delapan Ballon d'Or, terbanyak sepanjang sejarah. Ia juga menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Barcelona dengan 672 gol, serta menjadi pemain dengan jumlah pertandingan terbanyak untuk klub tersebut.
Memasuki usia emas, Messi justru semakin "menggila". Rekor demi rekor terus dipecahkan. Ia seperti menjadi "alien" di lapangan hijau. Hal-hal yang sebelumnya dianggap mustahil menjadi sesuatu yang biasa dilakukan olehnya.
Namun, setiap perjalanan memiliki takdirnya sendiri.
Pada 2021, Messi terpaksa meninggalkan Barcelona akibat krisis finansial klub yang membuat kontraknya tidak dapat didaftarkan sesuai regulasi La Liga. Ia kemudian bergabung dengan Paris Saint-Germain (PSG). Meski hanya dua musim di Prancis, Messi tetap mampu mempersembahkan gelar liga sebelum akhirnya hijrah ke Inter Miami di Amerika Serikat.
Banyak yang mengira kariernya akan meredup. Yang terjadi justru sebaliknya. Kehadiran Messi mengubah wajah Inter Miami. Klub yang sebelumnya berada di papan bawah berubah menjadi tim juara. Dampaknya tidak hanya dirasakan klub, tetapi juga kompetisi sepak bola Amerika Serikat. Penjualan tiket melonjak, hak siar meningkat, stadion selalu penuh, dan perhatian publik Amerika terhadap sepak bola bertambah pesat. Kehadiran Messi bahkan disebut sebagai salah satu faktor terbesar dalam meningkatnya popularitas Major League Soccer (MLS).
Berprestasi di Usia Tua
Ironisnya, perjalanan Messi bersama Timnas Argentina tidak semulus kariernya di Barcelona.
Selama bertahun-tahun ia terus dihantui kegagalan. Argentina kalah di final Piala Dunia 2014 dan dua kali berturut-turut kalah di final Copa América 2015 dan 2016 dari Cile. Tekanan publik begitu besar hingga Messi memutuskan pensiun dari tim nasional pada usia 29 tahun.
Namun, kecintaan rakyat Argentina membuatnya berubah pikiran. Dukungan luar biasa dari masyarakat membuat Messi kembali mengenakan seragam Albiceleste.
Keputusan itu menjadi titik balik.
Argentina menjuarai Copa América 2021, kemudian meraih gelar Piala Dunia 2022 di Qatar setelah mengalahkan Prancis melalui drama adu penalti. Dua tahun kemudian, Argentina kembali menjuarai Copa América 2024, menjadikan Messi sebagai pemimpin generasi emas Argentina.
Kini, di usia 39 tahun, Messi masih menjadi kapten Argentina dalam perjalanan menuju Piala Dunia 2026. Ia terus mencatatkan rekor demi rekor, mulai dari jumlah penampilan, assist, hingga gol terbanyak sepanjang sejarah Timnas Argentina.
Messi telah membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus berprestasi. Pengalaman, kecerdasan membaca permainan, dan kepemimpinan justru membuatnya semakin matang.
Messi benar-benar seperti karambia tuo. Semakin tua, semakin banyak minyaknya. Semakin berumur, semakin besar pula manfaat dan prestasi yang diberikannya.
Kini tinggal satu pertanyaan yang tersisa. Mampukah Messi memimpin Argentina mempertahankan gelar juara dunia pada Piala Dunia 2026? Jika itu terjadi, ia tidak hanya menambah daftar prestasi pribadi, tetapi juga menciptakan sejarah baru dengan membawa Argentina menjadi juara dunia dua edisi berturut-turut—sesuatu yang belum pernah terjadi lagi sejak Brasil melakukannya pada 1958 dan 1962. Kita tunggu akhir kisah sang legenda.(***)
Editor : Hendra Efison