Ambisi Andika menjadi anggota legislatif tak pernah padam. Kalah sekali tak membuatnya patah arang. Habis-habisan untuk kampanye dianggapnya investasi. Kalah menang urusan belakangan. Untuk menang belajar dari kekalahan. Nah, ketika kalah pada pemilu lalu, Rani sudah kapok.
Harta dan tabungan banyak ludes. Ia tak setuju Andika nyaleg lagi. Tapi lelaki itu kukuh dengan pendiriannya. “Saya yakin kali ini menang Dek. Dukung dan doakan Uda ya...” pintanya kepada sang istri suatu hari. “Tapi Adek ndak yakin Uda. Paling menghabiskan uang saja kayak dulu,” ujarnya.
Sejak hari itu mereka kerap bertengkar. Pisah kamar hingga Rani beberapa hari tak pulang. Nginap di rumah orangtuanya. Untungnya mereka belum punya anak sehingga bebas tak ada kewajiban mengurus anak.
Andika pun tak berdaya ketika Rani minta pisah. “Kalau itu mau Adek, Uda terima. Mudah-mudahan Adek bahagia setelah pisah dengan Uda,” ucapnya tak kuasa menahan sedih.
Bagi lelaki seperti Andika tak perlu berlama-lama tenggelam dalam kesedihan karena ditinggal istri. Ia kembali menata hati. Menguatkan diri maju dalam pileg. Bertekad untuk menang. Siang malam kumpul sama warga. Entah mengajak balanjuang atau sekadar minum kopi di warung.
Andika memang royal orangnya. Sebagai caleg tak boleh pelit. Tidak bisa menagajak orang dengan air liur saja. Tak ada kayu janjang dikapiang, pepatah itu yang dianut Andika.
Di luar dugaan, dukungan warga pun mengalir bak air. Bukan hanya karena sering ditraktir tapi memang kepribadian pria itu patut jadi panutan.
Maka, ketika hari pencoblosan tiba, Andika sudah dagdigdug menunggu hasilnya. Saksi yang dipercaya sudah disebar mengawal TPS sampai penghitungan suara selesai. Begadang sampai pagi menunggu semua suara terkumpul. Alhasil, Andika berucap syukur karena suara yang diraihnya sudah mencapai 1 kursi. Meski belum semua suara masuk, ia sudah yakin bisa menang.
Sampai KPU ketuk palu, Andika tetap dikelilingi warga yang sudah suka rela memberikan suaranya. Mereka berharap pria itu bisa membawa perubahan pada kampung tersebut. Selama ini, walaupun ada anggota dewan dari pemilihan daerah itu tapi jarang memberi perhatian.
Boleh dikatakan daerah itu masih tertinggal. Jalan banyak buruk dan berlubang. Minim sarana dan prasarana. Kehidupan warga masih sederhana. Dari dulu tidak maju-maju. Maka ketika Andika memaparkan visi misi dan programnya masyarakat pun terbuai. Berharap angan terwujud. Kampung bisa maju. Bangga punya tokoh muda nan gagah pejuang rakyat duduk di kursi legislatif.
Nah, di tengah euforia kemenangan tersebut, Andika tak bisa mendustai hati. Ia merasa sepi tanpa ada istri yang mendampingi. Walau banyak wanita yang melirik sejak menang pileg, Andika tak tertarik. Ia masih trauma pada wanita. Tapi orangtua dan saudaranya terus mendesak ia menikah lagi. Memilih salah satu wanita yang dirasa bisa setia. Tanggapan Andika dingin saja.
Diam-diam sang mantan istri menyesal dalam hati telah meninggalkan Andika dulu. Terbayang hidup gemerlap sebagai istri anggota dewan. Ingin kembali lagi tapi takut tak diterima lagi. (eni)
Editor : Adetio Purtama