Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Ketahuan Curang oleh Anak Bos

Adetio Purtama • Selasa, 14 Mei 2024 | 10:00 WIB

(REZA FEBRINO)
(REZA FEBRINO)
PADEK.JAWAPOS.COM—Keburukan yang lama disimpan pada akhirnya akan diketahui. Seperti yang dialami Buyung (nama samaran) yang melakukan praktik sogok di perusahaan tempat dia bekerja kepada para calon karyawan baru. Parahnya perilaku buruk itu terbongkar oleh anak bosnya sendiri. Sanksi berat di depan mata pun siap menanti Buyung. Seperti apa ceritanya?

Rahmat (nama samaran) merupakan salah seorang pengusaha sukses bertaraf nasional. Dia memiliki beberapa perusahaan baik di ibukota maupun di provinsi lain. Rahmat dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan karismatik. Satu hal yang paling dibenci oleh rahmat dan diketahui oleh semua karyawannya adalah praktik curang dan sogok-menyogok untuk mendapatkan hal-hal yang diinginkan.

Bahkan cerita berulang-ulang yang didengar oleh para karyawan Rahmat pernah memecat secara tidak hormat 4 orang karyawan level pimpinan cabang karena terbukti melakukan hal-hal buruk yang menjadi pantangannya. Hal tersebut membuat karyawan yang bekerja di perusahaan milik Rahmat sangat menjauhi hal-hal buruk yang menjadi pantangan dari atasannya itu.

Tidak hanya di dalam perusahaan miliknya, sifat itu dia juga ajarkan kepada anak-anaknya. Rahmat memiliki dua anak sepasang yakni Cindy dan Brian (nama samaran). Cindy sendiri baru saja menamatkan kuliahnya di bidang akuntansi. Sedangkan Bryan masih duduk di bangku kelas 11 SMA. Meskipun memiliki koneksi yang luas Rahmat tidak mau menolong anaknya agar langsung dapat bekerja.

Rahmat ingin anaknya terutama Cindy bisa secara mandiri mengandalkan diri sendiri untuk mendapatkan pekerjaan dengan kemampuan yang dimiliki. Hal itu dilakukan agar anak-anaknya bisa mengetahui dan memahami betapa kerasnya hidup di dunia. Rahmat tidak mau memanjakan anak-anaknya karena takut nantinya akan menjadi anak yang lemah dan tidak bisa mandiri.

Beruntungnya, Cindy dan Bryan merupakan anak yang tidak mau berada pada bayang-bayang kesuksesan ayahnya. Mereka ingin membuktikan bisa mencapai cita-cita tanpa bantuan kedua orangtuanya. Jadilah sampai 2 bulan pascalulus Cindy belum mendapatkan panggilan pekerjaan. Namun hal itu tidak membuatnya putus asa. Dia terus berusaha untuk melamar ke berbagai tempat.

Sembari melamar pekerjaan Cindy juga merintis menjadi wirausaha yang menjadi keinginannya sejak dulu. Bermodalkan tabungan yang dia tabung sejak SMA, dia membuka usaha butik dan toko bunga di pusat kota. Meskipun kecil-kecilan namun dia sudah menghasilkan uang untuk kebutuhan usahanya dan diri sendiri.

Singkat cerita suatu hari Cindy mengatakan kepada Rahmat bahwasanya Dia baru saja memasukkan lamaran kerja ke salah satu perusahaan milik ayahnya itu. Kepada Rahmat, Cindy mengatakan bahwa dia tidak ingin ayahnya ikut campur dalam urusan lamaran kerja tersebut. Dia ingin melihat apakah kemampuan yang dia miliki bisa diterima di perusahaan itu. Rahmat pun menyetujui permintaan dari anak perempuannya itu.

Satu minggu kemudian Cindy mendapat panggilan untuk wawancara di perusahaan ayahnya itu. Sesampai di lokasi ternyata lebih dari 40 orang yang juga mendapatkan panggilan wawancara. Untuk posisi yang dilamar oleh Cindy berdasarkan lowongan pekerjaan dibuka untuk 4 orang. Cindy pun berharap dirinya masuk dalam empat orang yang diterima di perusahaan yang nyatanya milik Rahmat tersebut.

Lebih dari satu jam Cindy menunggu gilirannya untuk diwawancara. Dia pun dengan sabar menunggu gilirannya datang sembari melihat video tutorial bagaimana cara-cara dan tips untuk menghadapi wawancara panggilan kerja. Akhirnya giliran Cindy datang. Dengan langkah yang mantap dia langsung masuk ke ruang HRD yang berada persis di depannya itu.

Ternyata yang mewawancarai para pelamar kerja adalah Buyung yang menjabat sebagai Kepala Bagian Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Awalnya proses wawancara berjalan seperti semestinya. Semuanya terlihat normal. Namun Cindy kemudian merasakan hal yang janggal ketika proses wawancara berakhir. Ketika dia hendak keluar Buyung menahannya dengan menawarkan sesuatu.

Buyung mengatakan bahwasanya dia bisa membuat Cindy lolos masuk kerja di perusahaan itu jika bersedia membayarkan uang kepadanya sebesar Rp 10 juta. Bahkan dia menyebut tawaran itu sudah dia tawarkan dari orang pertama yang diwawancara tadi. Ada yang bersedia membayar dan ada juga yang tidak mampu membayar karena tidak memiliki uang.

Buyung menjamin jika Cindy mau menyetorkan uang sebesar Rp 10 juta kepadanya, maka Cindy dipastikan akan bekerja di perusahaan itu. Untuk tes-tes selanjutnya hanya bersifat normatif saja. Sepanjang Buyung bercerita Cindy hanya diam membatu. Dia tidak menyangka di perusahaan milik ayahnya ada orang yang berbuat curang dengan melakukan hal buruk yang tidak disukai oleh ayahnya.

Tanpa disadari oleh Buyung, apa yang dia bicarakan dan tawarkan ternyata direkam oleh Cindy menggunakan handphone-nya. Dia akan memberikan rekaman itu nantinya kepada sang ayah agar Buyung bisa mendapatkan sanksi atas kelakuannya tersebut. Cindy juga merasa kasihan kepada ayahnya karena takut citra baik dari perusahaan itu akan tercoreng.

Karena muak dengan cerita yang disampaikan oleh Buyung, Cindy kemudian meminta izin untuk keluar ruangan sembari mengatakan bahwa dia tidak akan membayar sepersen pun untuk bisa masuk kerja di sana. Bahkan dia mengatakan balik kepada Buyung jika perilaku buruknya dengan menjalankan praktik sogok-menyogok akan membuat dirinya mendapatkan karma dalam waktu cepat.

Ketika Rahmat mendengar percakapan Buyung di dalam merekaman yang diberikan oleh Cindy, terdengar jelas geraman gigi lelaki itu yang menahan amarah. Dia merasa malu dan gagal karena masih saja ada orang yang melakukan hal-hal buruk yang menjadi pantangannya itu. Tanpa pikir panjang Rahmat kemudian menyuruh Manager HRD kantor pusat untuk memanggil Buyung dan memberikan surat pemecatan.

Selain dipecat secara tidak hormat perusahaan juga meminta Buyung untuk mengembalikan uang yang telah dia terima dari transferan sebagian calon karyawan. Setelah itu perusahaan mengambil tindakan untuk mengulang proses rekrutmen karyawan dari awal. Hal itu bertujuan agar tidak ada praktik sogok menyogok maupun adanya ”orang dalam” yang ikut campur dalam proses rekrutmen tersebut.

Sementara itu Cindy memilih untuk mengembangkan dan memajukan usaha miliknya sendiri. Keputusan itu didukung oleh Rahmat dan istrinya. Mereka melihat sang anak pertama itu memiliki potensi untuk menjadi wirausaha sukses di masa depan. Hal itu karena dia memiliki prinsip dan sifat yang sama dengan kedua orangtuanya. (adt)

Editor : Adetio Purtama